PENGANTAR
FILSAFAT ILMU
DOSEN
PEMBIMBING :
Dr.Sigit Sardjono,MS

NAMA :
Errinda Hidayatun Nikmah (1221800047)
Chusnul Chofifah (1221800036)
Errinda Hidayatun Nikmah (1221800047)
Chusnul Chofifah (1221800036)
Risma
Amilza (1221800020)
KELAS : G
PROGRAM
STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS
EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS
17 AGUSTUS 1945 SURABAYA
2019
“MANFAAT MAHASISWA BELAJAR FILSAFAT”
A.
Pengertian Filsafat Ilmu
Kata filsafat berasal dari kata yunani kuno: philosophia, yang terdiri
dari dua kata : philos (cinta) atau philia (persahabatan,tertarik kepada) dan
shopos (hikmah,kebijaksanaan). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta
kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom).Sedangkan ilmu Menurut kamus bahasa Indonesia adalah pengetahuan yang
tersusun secara sistematis, logis dengan menggunakan metode tertentu dan
bersifat empiris.
Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran yang reflektif
terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu
maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.
B. Manfaat, Fungsi, dan Tujuan Belajar Filsafat Ilmu
1.
Manfaat belajar filsafat ilmu
Manfaat belajar ilmu filsafat antara
lain sebagai berikut:
Menjadi seorang yang kritis
Dengan
belajar filsafat, kamu bisa memiliki pemikiran yang kritis. Filsafat akan
membentuk pemikiran diplomatis, yang bisa menjadikan kamu peka terhadaplingkungan sekitar dan juga bertindak
anti apatis.
mampu berpikir secara rasional dan
logis
Disamping
itu, filsafat juga bisa membentuk kamu menjadi seorang pemikir yang logis dan
rasional. Dengan metode berpikir seperti ini, kamu bisa mengatasi
masalah-masalah dalam kehidupan dengan baik.
Berpikir independen
Pemikiran
independen adalah hasil berpikir secara pragmatis dan terbuka. Kamu juga
berusaha mengambil jalan tengah agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan.
Memang, berpikir secara konvensional akan membuat hidup kamu menjadi
sistematis, tapi berpikir secara independen membuat kamu bisa melangkah lebih
jauh. Selain itu, berpikir independen berarti kamu tidak 'hidup' berdasar
pemikiran orang lain.
Berpikir secara fleksibel
Filsafat
itu sifatnya dinamis, tidak terbelenggu dalam satu aturan-aturan dan kaidah.
Ini akan membuat kamu memiliki fleksibilitas berpikir, memiliki kemauan untuk
mencoba hal baru. Tidak harus 'terikat' dengan ide-ide lama, karena kamu bisa
menggantinya dengan ide-ide baru yang lebih efektif.
Memperluas wawasan
Memiliki
wawasan yang luas akan membuat kamu lebih terampil di berbagai bidang. Ingat,
peradaban dunia dibangun berdasar dari berbagai macam pemikiran. Di samping
itu, kamu akan memahami berbagai macam teori-teori dalam kehidupan, sehingga
kamu menjadi sadar, betapa berharganya kehidupan.
Mampu menganilis setiap permasalahan
Filsafat
mengajarkan kita untuk bisa mempertahankan pendapat, serta bisa
mengembangkannya secara sehat, menggunakan nalar yang tepat, tidak menggunakan
otot dan tidak menggunakan ototritas intervensi.
Menjadi seorang yang skeptis
Bukan berarti kamu harus menjadi
agnostik atau atheist, namun ini lebih ke arah bagaimana kamu
mengamati lingkungan dan situasi sekitar. Menjadi seorang yang skeptis berarti
kamu tidak langsung percaya pada suatu peristiwa atau berita, tapi kamu harus
bisa menemukan bukti yang kredibel serta valid, agar tidak termakan
berita hoax.
Memahami bahwa segala sesuatu yang
terjadi berdasar sebab-akibat
Prinsip
ini disebut juga kausalitas, bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti ada sebab
yang mengawalinya.Ketika kamu ditanya tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi,
kamu tidak lagi menjawab "Tidak tahu", karena kamu sudah memiliki
jawabannya.
Menjawab segala pertnyaan tentang
kehidupan
Pada
dasarnya, Filsafat adalah jawaban dari setiap pertanyaan. Mungkin di benak
kamu sering terlintas pertanyaan seperti, "Siapa kita?", "Untuk
apa kita hidup?", "Apa itu kehidupan?". Kamu bisa menemukan
metode dan cara yang tepat, untuk bisa memahami dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan itu.
2.
Fungsi belajar filsafat ilmu
Filsafat ilmu merupakan
salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya
tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yaitu :
- Sebagai
alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
- Mempertahankan,
menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat
lainnya.
- Memberikan
pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
- Memberikan
ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan
·
Menjadi
sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu
sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya
3. Tujuan
mempelajari Filsafat Ilmu
Belajar filsafat ilmu bagi mahasiswa sangat penting,
karena beberapa tujuan yang dapat dirasakan, antara lain :
·
Dengan mempelajari filsafat ilmu
diharapkan mahasiswa semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Mahasiswa sebagai
insan kampus diharapkan untuk bersikap kritis terhadap berbagai macam teori
yang dipelajarinya di ruang kuliah maupun dari sumber-sumber lainnya.
·
Mempelajari filsafat ilmu mendatangkan
kegunaan bagi para mahasiswa sebagai calon ilmuwan untuk mendalami metode
ilmiah dan untuk melakukan penelitian ilmiah.
·
Dengan mempelajari filsafat ilmu
diharapkan mereka memiliki pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu
menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan
penelitian ilmiah.
·
Mempelajari filsafat ilmu memiliki
manfaat praktis. Setelah mahasiswa lulus dan bekerja mereka pasti berhadapan
dengan berbagai masalah dalam pekerjaannya.
·
Untuk memecahkan masalah diperlukan
kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis berbagai hal yang berhubungan
dengan masalah yang dihadapi.
·
Membiasakan diri untuk bersikap
logis-rasional dalam Opini & argumentasi yang dikemukakan.
·
Mengembangkan semangat toleransi dalam
perbedaan pandangan (pluralitas). Karena para ahli filsafat tidak pernah
memiliki satu pendapat, baik dalam isi, perumusan permasalahan maupun
penyusunan jawabannya.
·
Mengajarkan cara berpikir yang cermat dan
tidak kenal lelah.
C.
Hubungan
antara Filsafat dan Ilmu
·
Hubungan Ilmu dengan Filsafat pada mulanya ilmu
yang pertama kali muncul adalah filsafat dan ilmu-ilmu khusus menjadi bagian
dari filsafat. Dan filsafat merupakan induk dari segala ilmu karena berbicara
tentang abstraksi/sebuah yang ideal.
·
Filsafat tidak terbatas, sedangkan ilmu
terbatas sehingga ilmu menarik bagian filsafat agar bisa dimengerti oleh
manusia.
·
Pada hakikatnya filsafat dan ilmu saling
terkait satu sama lain, keduanya tumbuh dari sikap refleksi, ingin tahu, dan
dilandasi kecintaan pada kebenaran. Filsafat dengan metodenya mampu
mempertanyakan keabsahan dan kebenaran ilmu, sedangkan ilmu tidak mampu
mempertanyakan asumsi, kebenaran, metode, dan keabsahannya sendiri.
·
Ilmu merupakan masalah yang hidup bagi filsafat
dan membekali filsafat dengan bahan-bahan deskriptif dan faktual yang sangat
perlu untuk membangun filsafat. Filsafat dapat memperlancarr integrasi antara
ilmu-ilmu yang dibutuhkan. Filsafat adalah meta ilmu, refleksinya mendorong
peninjauan kembali ide-ide dan interpretasi baik dari ilmu maupun bidang-bidang
lain.
“SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU”
Sebelum
mengetahui Sejarah Pemkembangan Filsafat Ilmu alangkah baiknya kita mengetahui
pengertian filsafat ilmu. Filsafat merupakan berfikir secara menyeluruh tidak
parsial dan secara radikal atau mendalam sampai ke akar-akar masalah.Sedangkan,
filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang
secara spesifik mengkaji hakikat ilmu. Filsafat ilmu sendiri telah berkembang
seiring perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Sejarah
filsafat ilmu hingga kini merupakan perjalanan yang sangat panjang sehingga
terbagi dalam berbagai era/zaman. Makalah ini akan mendeskripsikan secara
singkat sejarah perkembangan aliran filsafat ilmu. Uraian singkat tentang
periode sejarah akan melewati dan mengungkap banyak tokoh, peristiwa dan fakta
yang memungkinkan kita dapat memahami sejarah perkembanganaliran filsafat ilmu.
1.
Pra
Yunani Kuno ( abad 15 – 7 SM)
Dalam sejarah perkembangan peradaban
manusia. Yakni ketika belum mengenal peralatan seperti yang dipakai sekarang
ini. Pada masa itu manusia masih menggunakan batu sebagai peralatan. Masa zaman
batu berkisar antara 4 juta tahun sampai 20.000 tahun SM. Mereka pada mulanya
hidup dari mengumpulkan biji-bijian dan buah-buahan. Sejak itu mereka menemukan
pengetahuan dan menjadi penghasil makanan sehingga memilikikelebihan
persediaan. Mereka juga mulai mampu mengatur waktu kerja dan istirahat sesuai
dengan waktu malam dan siang. Perkembangan kehidupan manusia lainnya, yaitu
mulai berkelompok dan mengukur waktu serta perhitungan hari. Lalu, manusia
sampai kezaman logam(metalage).
Pada zaman Fir‟aun, dimesir telah ditemukan dasar-dasar pertanian, survei pertanian, dan kalkulasi banjir Sungai Nil. Perdagangan mulai tumbuh dengan subur sehingga muncul kebutuhan akan angka-angka. Penulisan dengan gambarpun mulai dikenal sehingga peradaban mulai memperlihatkan perkembangannya yang pesat.
Pada zaman Fir‟aun, dimesir telah ditemukan dasar-dasar pertanian, survei pertanian, dan kalkulasi banjir Sungai Nil. Perdagangan mulai tumbuh dengan subur sehingga muncul kebutuhan akan angka-angka. Penulisan dengan gambarpun mulai dikenal sehingga peradaban mulai memperlihatkan perkembangannya yang pesat.
Pelajaran
tulis menulis dan pentatan ilmu pengetahuan dilakukan pada daun-daun papirus
dan di dinding kuil dalam bentuk tulisan Heirogliph di Negeri Mesir Kuno, juga
tulisan-tulisan paku terdapat pada batu-batu bata di Assyiria, dan Babylonia.
Evolusi ilmu pengetahuan dapat diruntut melalui sejarah perkembangan pemikiran
yang terjadi di Yunani, Babilonia, Mesir, China, Timur Tengah dan Eropa.
Sisa
peradaban manusia yang ditemukan pada masa ini antara lain: alat-alat dari
batu, tulang belulang dari hewan, sisa beberapa tanaman, gambar-gambar
digua-gua, tempat-tempat penguburan, tulang belulang manusia purba.
2.
Zaman
Yunani Kuno (abad 7 – 2 SM)
Zaman Yunani kuno dipandang sebagai
zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk
mengeluarkan ide-ide atau pendapatnya, Yunani pada masa itu dianggap sebagai
gudangnya ilmu dan filsafat, karena Yunani pada masa itu tidak mempercayai
mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima
pengalaman-pengalaman yang didasarkan pada sikap menerima saja (receptive
attitude) tetapi menumbuhkan rasasenang menyelidiki secara kritis (quiring
attitude). Sikap inilah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli-ahli
pikir yang terkenal sepanjang masa.
Pada Zaman Yunani kuno terdapat tiga periode masa sejarah Filsafat, yaitu masa awal, masa keemasan, serta masa Helenitas dan Romawi. Masa awal filsafat Yunani Kuno ditandai tercatatnya tiga nama filosof yang berasal dari daerah Miletos, antara lain: Thales, Ananximandros, Anaximenes,Hipocrates, Pythagoras, Democritus, Socrates, Plato dan Aristoteles.
Pada Zaman Yunani kuno terdapat tiga periode masa sejarah Filsafat, yaitu masa awal, masa keemasan, serta masa Helenitas dan Romawi. Masa awal filsafat Yunani Kuno ditandai tercatatnya tiga nama filosof yang berasal dari daerah Miletos, antara lain: Thales, Ananximandros, Anaximenes,Hipocrates, Pythagoras, Democritus, Socrates, Plato dan Aristoteles.
-
Masa Awal
Perhatiannya adalah pada alam dan
kejadian alamiah, terutama dalam hubungannya dengan perubahan-perubahan yang
terjadi. Namun mereka yakin bahwa terhadap perubahan-perubahan itu terdapat
suatu asas yang menentukan, tetapi di antara mereka menyebut asas yang berbeda.
Thales menyebutnya asas air, Anaximandros dengan asas yang tidak terbatas (to
apeiron), dan Anaximandres dengan asas udara.
-
Masa Keemasan
Dilanjutkan pada masa keemasan
Yunani Kuno yang ditandai oleh sejumlah nama besar yang sampai sekarang tidak
pernah dilupakan oleh kalangan pemikir, termasuk pemikir masa kini yang berbeda
pendapat. Nama besar yang pertama dipimpin Perikles yang tinggal di Athena.
Athena menjadi pusat dari penganut berbagai aliran filsafat yang ada pada masa
itu. Pada masa itu terdapat pula pemikiran sofistik yang penganutnya disebut
kaum sofis, yaitu kaum yang pandai berpidato dan yang tidak lagi menaruh
perhatian utama pada alam, tetapi menjadikan manusia sebagai pusat perhatian
studinya. Tokohnya adaalah protogoras. Pemahamannya memperlihatkan sifat-sifat
relativisme, atau kebenaran bersifat relatif, tidak ada kebenaran yang tetap
dan definitif. Benar, baik, dan bagus selalu berhubungan dengan manusia, tidak
mandiri sebagai kebenaran mutlak. Pemahaman seperti ini di tentang oleh
Socretes (470-399 SM) sebagaimana yang dikatakannya bahwa ia tidak memiliki
ajaran sendiri, sebagai seorang filosofyang terpenting adalah mengembangkan
pemikiran filosofisnya, seperti seorang bidan yang tidak melahirkan anaknya
sendiri, tetapi orang lain.
Pengetahuan ilmiah sampai di tangan
orang-orang Yunani, juga di Babylonia diperkirakan pada permulaan abad ke-7 SM.
Sarjana-sarjana Yunani memfilsafatkan ilmu dan menghasilkan teori-teori baru.
Pemikir-pemikir (filosof) Yunani
seperti Thales, Ananximandros, Anaximenes,Hipocrates, Pythagoras, Democritus,
Socrates, Plato dan Aristoteles. Warisan mereka dalam bidang ilmu dan filsafat
merupakan penambahan yang baru dan tak terdandingi dalam khazanah ilmu pengetahuan.dunia
mengenal teori-teori, seperti unsur-unsur kimia, teori bilangan, pandangan
Demokritos tentang atom, pandangan Hipercritos tentang pengobatan, pandangan
Pythagoras tentang matematika, pandangan Plato tentang geometri, dan pandangan
Aristoteles tentang anatomi, botani, zoologi dan metalurgi. Diantara pemikiran
aristoteles yang radikal, yaitu bahwa alam semesta tidak dikendalikan oleh
serba kebetulan, magi, oleh keinginan tak terpikirkan kehendak dewa, tetapi
oleh tingkah laku alam semesta yang tunduk pada hukum-hukum rasional.
-
Masa Halenitas dan Romawi
Masa ketiga adalah masa Helenitas
dan Romawi. Ini adalah suatu masa yang tidak dapat dilepaskan dari peranan Raja
Alexander Agung. Raja ini telah mampu mendirikan negara besar yang tidak sekedar
meliputi seluruh Yunani, tetapi daerah-daerah di sebelah timurnya. Kebudayaan
Yunani menjadi kebudayaan supranasional. Kebudayaan Yunani ini disebut
“Kebudayaan Helenitas”. Dalam bidang kebudayaan, selain akademia lykeion, di
buka juga sekolah-sekolah baru dan yang menjadi tekanan pembelajarannya adalah
masalah etika, yaitu bagaimana sebaiknya orang mengatur tingkah lakunya agar
hidup bahagia dalam kehidupan bersama. Ada sejumlah aliran pada masa ini,
seperti stiotisme, epikurisme, skeptisisme, ekletisisme, dan neolplatonisme.
Periode gemilang ilmu-ilmu Helenis ini berakhir dengan meninggalnya Iskandar
yang Agung disusul oleh Aristoteles.
3.
Zaman
Pertengahan (abad 2 – 14 M)
Zaman
pertengahan (middle age) ditandai dengan para tampilnya theolog di lapangan
ilmu pengetahuan. Ilmuwan pada masa ini adalah hampir semuanya para theolog,
sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Atau dengan kata
lain kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Semboyan pada
masa ini adalah Anchila Theologia (abdi agama).
Filsafat
pada abad ini dikuasai dengan pemikiran keagamaan (Kristiani). Puncak filsafat
Kristiani ini adalah Patristik (Lt. “Patres”/Bapa-bapa Gereja) dan Skolastik
Patristik sendiri dibagi atas Patristik Yunani (atau Patristik Timur) dan
Patristik Latin (atau Patristik Barat). Tokoh-tokoh Patristik Yunani ini
anatara lain Clemens dari Alexandria (150-215), Origenes (185-254), Gregorius
dari Naziane (330-390), Basilius (330-379). Tokoh-tokoh dari Patristik Latin
antara lain Hilarius (315-367), Ambrosius (339-397), Hieronymus (347-420) dan
Augustinus (354-430). Ajaran-ajaran dari para Bapa Gereja ini adalah
falsafi-teologis, yang pada intinya ajaran ini ingin memperlihatkan bahwa iman
sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Ajaran-ajaran ini
banyak pengaruh dari Plotinos. Pada masa ini dapat dikatakan era filsafat yang
berlandaskan akal-budi “diabdikan” untuk dogma agama.
Zaman
Skolastik (sekitar tahun 1000), pengaruh Plotinus diambil alih oleh
Aristoteles. Pemikiran-pemikiran Ariestoteles kembali dikenal dalam karya
beberapa filsuf Yahudi maupun Islam, Eriugena (810-877), Avicena (Ibnu Sina,
980-1037), Averroes (Ibnu Rushd,1126-1198) dan Maimonides (1135-1204). Pengaruh
Aristoteles demikian besar sehingga ia (Aristoteles) disebut sebagai “Sang
Filsuf” sedangkan Averroes yang banyak membahas karya Aristoteles dijuluki
sebagai “Sang Komentator”. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman
Kristiani menghasilkan filsuf penting sebagian besar dari ordo baru yang lahir
pada masa Abad Pertengahan, yaitu, dari ordo Dominikan dan Fransiskan..
Filsafatnya disebut “Skolastik” (Lt.“scholasticus”, “guru”), karena pada
periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan
universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang baku dan bersifat
internasional. Inti ajaran ini bertema pokok bahwa ada hubungan antara iman
dengan akal budi.
Pada
masa ini filsafat mulai ambil jarak dengan agama, dengan melihat sebagai suatu
kesetaraan antara satu dengan yang lain (Agama dengan Filsafat) bukan yang satu
“mengabdi” terhadap yang lain atau sebaliknya.Peradaban dunia Islam terutama
abad 7 yaitu Zaman bani Umayyah telah menemukan suatu cara pengamatan
astronomi, 8 abad sebelum Nicholas Covernicus (1473-1543)dan Galileo Galilie (1564-1642)
dan. Sedangkan peradaban Islam yang menaklukan Persia pada abad 8 Masehi, telah
mendirikan Sekolah kedokteran dan Astronomi di Jundishapur. Pada masa keemasan
kebudayaan Islam, dilakukan penerjemahan berbagai karya Yunani. Dan bahkan
khalifah Al Makmun telah mendirikan rumah Kebijaksanaan (House of Wisdom) /
Baitul Hikmah pada abad 9. Pada abad ini Eropa mengalami zaman kegelapan(dark
age).
Filsafat
abad pertengahan diakhiri oleh Nicolaus Cusanus (1401 – 1464). Nicolaus Cusanus
membedakan tiga macam pengenalan, yaitu pancaindra, rasio, dan intuisi.
Pengenalan indrawi kurang sempurna. Rasio membentuk konsep berdasarkan
pengenalan indrawi. Adapun aktivitasnya dikuasai prinsip nonkontradiksi (tidak
mungkin sesuatu ada dan tiada). Manusia tidak mengetahui apa pun (dogta
ignotaria). Dengan intuisi, manusia dapat mencapai segala sesuatu yang tidak
terhingga. Allah merupakan objek intuisi manusia. Dalam diri Allah seluruh hal
yang berlawanan akan mencapai kesatuan (coincidentia oppositrum). Pengetahuan yang
luas memvuat Nicolaus tidak sekedar menjadi eksponen abad pertengahan. Ia juga
mencintai eksperimen shingga membawanya pada pemikiran ilmu masa modern.
Sampai
dengan di penghujung Abad Pertengahan sebagai abad yang kurang kondusif
terhadap perkembangan ilmu, dapatlah diingat dengan nasib seorang
astronomberkebangsaan Polandia Nicholas Covernicus yang dihukum kurungan seumur
hidup oleh otoritas Gereja, ketika mengemukakan temuannya tentang pusat
peredaran benda-benda angkasa adalah matahari (Heleosentrisme). Teori ini
dianggap oleh otoritas Gereja sebagai bertentangan dengan teori Geosentrisme
(Bumi sebagai pusat peredaran benda - benda angkasa) yang dikemukakan oleh
Ptolomeus semenjak zaman Yunani yang justru telah mendapat “mandat” dari
otoritas Gereja. Oleh karena itu dianggap menjatuhkan kewibawaan Gereja.
4.
Masa
Renaissance (14-17 M)
Renaisance
merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung
arti bagi perkembangan ilmu. Jembatan antara Abad pertengahan dan zaman Modern
adalah zaman “Renaisanse”, periode sekitar 1400-1700. Pada zaman ini
pengetahuan arab dalam kemunduran, Eropa mulai menggeliat dari tidurnya. Pada
abad ke-13 M, mereka mulai mengadakan penerjemahan dan mendirikan Universitas
seperti Oxford, Cambridge dan lain-lain. Filsuf-filsuf penting dari zaman ini
adalah Nicholas Macchiavelli (1469-1527), Thomas Hobbes (1588-1679), Thomas
More (1478-1535) dan Francis Bacon (1561-1626). Pembaharuan yang sangat
bermakna pada zaman ini adalah “antroposentrisme”nya. Artinya pusat perhatian
pemikiran tidak lagi kosmos seperti pada zaman Yunani Kuno, atau Tuhan
sebagaimana dalam Abad Pertengahan.Zaman yang menyaksikan dilancarkannya
tantangan gerakan reformasi terhadap keesaan dan supremasi gereja katolik Roma,
bersamaan dengan berkembangnya humanisme.
Zaman
ini juga merupakan penyempurnaan kesenian, keahlian, dan ilmu yang diwujudkan
dalam diri jenius serba bisa, Leonardo Da Vinci. Penemuan percetakan (kira-kira
1440 M) oleh kolumbus memberikan dorongan lebih keras untuk meraih kemajuan
ilmu. Kelahiran kembali sastra di Inggris, Prancis, dan Spayol diwakili
Shakespeare, Spencer, Rabelais, dan Ronsard. Pada masa itu, seni musik juga
mengalami perkembagan. Adanya penemuan para ahli perbintangan seperti
Covernicus dan Galileo menjadi dasar munculnya astronomi modern yang merupakan
titik balik dalam pemikiran ilmu dan filsafat.
Setelah
Renaissence mulailah zaman Barok, pada zaman ini tradisi rasionalisme
ditumbuh-kembangkan oleh filsuf-filsuf antara lain; R. Descartes (1596-1650),
B. Spinoza(1632-1677) dan G. Leibniz (1646-1710). Para Filsuf tersebut di atas
menekankan pentingnya kemungkinan-kemungkinan akal-budi (“ratio”) didalam
mengembangkan pengetahuan
manusia.
manusia.
5.
Zaman
Modern (17-19 M)
Tidaklah
mudah membuat garis batas yang tegas antara zaman Renaisance dengan zaman
modern. Sementara orang menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan
Renaisance. Akan tetapi, pemikiran ilmiah membawa manusia lebih maju kedepan
dengan kecepatan yang besar, berkat kemampuan-kemampuan yang dihasilkan oleh
masa-masa sebelumnya. Manusia maju dengan langkah raksasa dari zaman uap ke
zaman listrik, kemudian ke zaman atom, elektron, radio, televisi, roket dan
zaman ruang angkasa.
Zaman
ini ditandai dengan berbagai dalam bidang ilmiah, serta filsafat dari berbagai
aliran muncul. Pada dasarnya corak secara keseluruhan bercorak sufisme Yunani.
Paham – paham yang muncul dalam garis besarnya adalah Rasionalisme, Idialisme,
dengan Empirisme. Paham Rasionalisme mengajarkan bahwa akal itulah alat
terpenting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Ada tiga tokoh penting
pendukung rasionalisme ini, yaitu Descartes, Spinoza, dan Leibniz.
Sedangkan
aliran Idialisme mengajarkan hakekat fisik adalah jiwa, spirit. Ide ini
merupakan ide Plato yang memberikan jalan untuk memperlajari paham idealisme
zaman modern. Para pengikut aliran/paham ini pada umumnya, sumber filsafatnya
mengikuti filsafat kritisisismenya Immanuel Kant. Fitche (1762-1814) yang
dijuluki sebagai penganut Idealisme subyektif merupakan murid Kant. Sedangkan Scelling,
filsafatnya dikenal dengan filsafat Idealisme Objektif .Kedua Idealisme ini
kemudian disintesakan dalam Filsafat Idealisme Mutlak Hegel.
Pada
Paham Empirisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu dalam pikiran kita selain
didahului oleh pengalaman. ini bertolak belakang dengan paham rasionalisme.
Mereka menentang para penganut rasionalisme yang berdasarkan atas
kepastian-kepastian yang bersifat apriori. Pelopor aliran iniadalah Thomas
Hobes Jonh locke, dan David Hume.
“HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, PENGETAHUAN
DAN ILMU”
1.
Pengertian Filsafat, Pengetahuan dan Ilmu
1)
Pengertian Filsafat
Istilah filsafat berasal
dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal
juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa
Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia”
dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab.
Secara etimologi, istilah
filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa Yunani
yaitu philosophia – philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa
dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah
pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.
·
Johann Gotlich Fickte ( 1762-1814 ) : filsafat sebagai
Wissenschaftslehre ( ilmu dari ilmu-ilmu ) yakni ilmu umum, yang jadi dasar
segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat
memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari
seluruh kenyataan.
·
Paul Nartorp (1854 – 1924) : filsafat sebagai Grunwissenschat
(ilmu dasar untuk menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan
dasar akhir yang sama).
·
Notonegoro: Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari
sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat.
·
Driyakarya : filsafat sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya
tentang sebab-sebab, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai
habis.
·
Sidi Gazalba: Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran
untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir
radikal, sistematik dan universal.
·
Prof. Mr.Mumahamd Yamin: Filsafat ialah pemusatan pikiran ,
sehingga manusia menemui kepribadiannya serta didalam kepribadiannya itu
sungguh dialaminya.
·
Prof. Ismaun: Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia
dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis
sistematis, fundamentalis.
Filsafat menurut para filusuf
disebut sebagai induk ilmu. Karena dari filsafatlah ilmu-ilmu modern dan
kontemporer berkembang. Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah
sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak akan merasa puas jika hanya
mengenal ilmu dari sudut pandang ilmu itu sendiri. Jika ingin mengetahui hakikat
ilmu, maka akan dikaitkan dengan ilmu lainnya. Misalnya, ingin mengetahui
kaitan ilmu dengan moral, ilmu dengan agamanya, dan ingin merasa yakin bahwa
ilmu itu akan membawa kebahagiaan terhadap kehidupan dirinya.
Karakteristik berpikir
filsafati yang kedua yakni sifatmendasar. Orang yang berpikir filsafati
tidak percaya begitu saja bahwa ilmu yang disampaikan itu benar. Mereka akan
berpikir bahwa ; mengapa ilmu itu dapat disebut benar? Bagaimana proses
penilaian yang berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakah kriteria yang
digunakan untuk menilai itu benar? Lalu benar itu apa? Dan seterusnya.
Karakteristik atau ciri
berpikir filsafati yang ketiga adalahspekulatif. Artinya, hasil
pemikiran yang didapat dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya. Hasil
pemikiran selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilyah pengetahuan
yang baru (Surajiyo, 2005: 13).
Dalam pemikiran ini, mereka
tidak yakin pada titik awal yang menjadi jangkar pemikiran yang mendasar,
kemudian mereka akan berspekulasi. Tugas utama filsafat adalah menetapkan
dasar-dasar yang dapat diandalkan. Apakah yang disebut logis?apakah yang
disebut benar?. Dengan ini kita akan mengetahui bahwa semua pengatahuan yang
sekarang ada dimulai dari spekulasi. Kemudian dari serangkaian spekulasi ini,
akan muncul buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari
penjelajahan ilmu pengetahuan.
Filsafat merupakan hasil
menjadi sadarnya manusia mengenai dirinya sendiri sebagai pemikir, dan menjadi
kritisnya manusia terhadap diri sendiri sebagai pemikir di dalam dunia yang
dipikirnya. Sebagai konskuensinya, filusuf tidak hanya membicarakan dunia yang
ada di sekitarnya serta dunia yang ada dalam dirinya, namun seorang filusuf
juga harus membicarakan perbuatan berpikir itu sendiri.
Cabang ilmu filsafat yang
membahas masalah ilmu adalah filsafat ilmu. Tujuan dari filsafat ilmu adalah
menganalisis mengenai ilmu pengetahuan dan cara-cara bagaimana ilmu pengetahuan
diperoleh. The Liang Gie mendefinisikan filsafat ilmu adalah segenap pemikiran
yang reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut
landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan
manusia.
Filsafat ilmu merupakan bagian
dari epistimologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat
ilmu pengetahuan ilmiah. Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang
ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti: obyek apa?
Bagaimana hubungannya? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut?
Bagaimana prosesnya? Bagaimana prosedurnya? Hala apa saja yang perlu
diperhatikan agar pengetahuan tersebut benar? Apakah kriteriannya? Bagaimana
teknik/caranya?untuk apa pengetahuan tersebut? Bagaimana kaitan dengan ilmu
lain?.
Ciri-ciri pikiran kefilsafatan
yaitu:
1. Suatu bagan konsepsional.
Perenungan kefilsafatan berusaha untuk menyusun suatu bagan konsepsional.
Konsepsi (rencana kerja) merupakan hasil generalisasi serta abstraksi dari
pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses satu demi satu. Karena itu,
filsafat merupakan pemikiran tenatnag hal-hal serta proses-proses dalam
hubungan yang umum.
2. Saling hubungan antar jawaban-jawaban
kefilsafatan. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang satu harus
menyangkut dengan pertanyaan-pertanyaan lain.
3. Sebuah sistem filsafat harus bersifat koheren.
Kefilsafatan harus berusaha menyusun suatu bagan yang koheren (runtut), yang
konsepsional. Bagan konsepsial yang merupakan hasil perenungan kefilsafatan
harus bersiat runtut.
4. Filsafat merupakan pemikiran secara rasional.
Bagan yang telah disusun harus logis pada setiap bagian-bagiannya. Secara logis
yaitu harus saling berhubungan satu dengan yang lain.
5. Filsafat senantiasa bersifat menyeluruh (komprehensif).
Suatu sistem filsafat harus bersifat komprehensif tidak ada sesuatupun yang
berada diluar jangkauannya.
6. Suatu pandangan dunia. Perenungan
kefilsafatan berusaha memahami segenap kenyataan dengan jalan menyusun suatu
pandangan dunia. Didalam filsafat tidak boleh ada misteri, harus sepenuhnya
mejelaskan tentang prinsip penjelasan yang dipakainya.
7. Suatu definisi pendahuluan. Dalam
perenungan kefilsafatan kita berusaha mencari dasar-dasar bagi kepercayaan
kita. Sebuah definisi yang memadai untuk menjelaskan sesuatu menjadi bermakna seringkali
tidak ditemukan pada permulaan, melainkan hanya pada akhir suatu penyelidikan.
2)
Pengertian Pengetahuan
Secara etimologi pengetahuan
berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu knowledge.
Dalam encyclopedia of philosophy dijelaskan bahwa definisi
pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowlegde is justified true
belief). Menurut Prof. Amsal Bachtiar; pengetahuan merupakan hasil proses
dari usaha manusia untuk tahu.
Jadi, Pengetahuan merupakan
Hasil yang didapatkan dari proses penalaran yaitu usaha berpikir dalam menarik
suatu kesimpulan serta usahanya untuk tahu. Pengetahuan yang benar akan
didapatkan jika manusia dapat melakukan proses kegiatan berpikir secara
mendalam
Kegiatan berpikir untuk
mendapatkan suatu pengetahuan mempunyai ciri-ciri yaitu:
1. Logis.
Berpikir logis disini adalah suatu kegiatan berpikir menurut suatu pola
tertentu atau menurut logika tertentu.
2. Sifat
analitik. Kegiatan berpikir yang menyadarkan diri pada suatu analisis dan
kerangka berpikir yang dipergunakan.
Jenis pengetahuan:
1. Pengetahuan
biasa, yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan dengan istilah common
sense, dan sering diartikan dengan good sense, karena seseorang
memiliki sesuatu dimana ia menerima secara baik. Common sense, semua orang
sampai pada keyakinan secara umum tentang sesuatu, dimana mereka akan
berpendapat sama semuanya. Common sense diperoleh dari kehidupan sehari-hari.
Contoh: makanan dapat memuaskan rasa lapar, air dipakai untuk menyiram bunga.
2. Pengetahuan
ilmu, yaitu usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense,
suatu pengetahuan yang berasal dari pengamatan dan pengalaman dalam kehidupan
sehari-hari. Namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti
dengan menggunakan berbagai metode.
3. Pengetahuan
filsafat, yaitu pengetahuan yang diperoleh secara lebih luas dan mendalam serta
reflektif dan kritis dalam mengkaji sesuatu. Beda dengan ilmu, kalau ilmu hanya
pada satu bidang pengetahuan yang sempit.
4. Pengetahuan
agama, yaitu pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya.
Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama.
Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok, yaitu ajaran tentang cara
berhubungan dengan Tuhan, yang sering disebut hubungan vertikal, dan hubungan
horizontal yaitu berhubungan dengan manusia.
Sumber pengetahuan
a.
Empirisme
Kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan
didapat lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman yang
konkret. Gejala-gejala alamiah adalah bersifat konkret, dapat dinyatakan lewat
tangkapan panca indera.
b. Rasionalisme
Kaum rasionalis mempergunakan
metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam
penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat
diterima.
c. Intuisi
Intuisi merupakan pengetahuan
yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang
terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawabannya
atas permasalahan tersebut, tanpa melalui proses berliku-liku (tiba-tiba
menemukan jawaban atas per masalahan tersebut). Intuisi bersifat personal dan
tidak bisa diramalkan.
d. Wahyu
Wahyu merupakan pengetahuan
yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat
Nabi- Nabi yang diutusnya sepanjang zaman.
3)
Pengertian Ilmu
The Liang Gie mengutip Paul
Freedman dari buku The Principles Of Scientific Research memberi batasan ilmu
sebagai berikut:
“ilmu adalah suatu bentuk
aktiva manusia yang dengan melakukanya umat manusia memperoleh suatu
pengetahuan dan senantiasa lebih lengkap dan lebih cermat tentang alam dimasa
lampau, sekarang dan kemudian hari, serta suatu kemapuan yang meningkat untuk
menyesuaikan dirinya pada dan mengubah lingkungannya serta mengubah
sifat-sifatnya sendiri “.
Rumusan lain menurut Carles
Siregar yang menyatakan: “ ilmu adalah proses membuat pengetahuan”. Rumusan
lain menurut Jujun S. Suriasumantri dalam buku ilmu dalam perspektif menulis:
“....ilmu lebih bersifat merupakan kegiatan daripada sekedar produk yang siap
dikonsumsikan”.
Dalam The Liang Gie, definisi
ilmu sebagai berikut:
Ilmu adalah rangkaian aktivitas
manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur
dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis
mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan
mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun
melakukan penerapan.
Dari berbagai kesimpulan diatas
dapat disimpulkan bahwa Ilmu merupakan suatu cara berpikir dalam menghasilkan
suatu kesimpulan berupa pengetahuan yang dapat dipercaya atau diandalkan. Ilmu
merupakan produk dari proses berpikir menurut langkah-langkah tertentu yang
secara umum dapat dapat disebut sebagar berpikir ilmiah.
Cara berpikir untuk mendapatkan
ilmu adalah: pertama alur jalan pikiran harus logis, kedua pernyataan yang
bersifat logis tersebut harus didukung dengan fakta empiris.
Perbedaan ilmu dapat ditelusuri
dengan melihat ciri-ciri dari ilmu tersebut. Menurut Herber L. Searles
memperlihatkan ciri-ciri tersebut sebagai berikut: “kalau ilmu berbeda dengan
filsafat berdasarkan empiris, maka ilmu berbeda dari pengetahuan biasa karena
ciri sistematisnya.
2.
Perbedaan
Filsafat, Pengetahuan, dan Ilmu
Filsafat
|
Pengetahuan
|
Ilmu
|
Mencoba merumuskan pertanyaan atas jawaban.
Mencari prinsip-prinsip umum,tidak membatasi segi pandangannya bahkan
cenderung memandang segala sesuatu secara umum dan keseluruhan.
|
Yang dipelajari terbatas karena hanya sekedar
kemampuan yang ada dalam diri kita untuk mengetahuis esuatu hal.
|
Cenderung kepada hal yang dipelajari dari sebuah
buku panduan.
|
Keseluruhan yang ada
|
Objek penelitian yang terbatas
|
Ilmu pengetahuan adalah kajian tentang dunia
material.
|
Menilai
objek renungan dengan suatu makna.
Misalkan : religi, kesusilaan, keadilan, dsb
|
Tidak menilai objek dari suatu sistem nilai
tertentu.
|
Ilmu pengetahuan adalah definisi eksperimental.
|
Bertugas mengintegrasikan ilmu-ilmu.
|
Bertugas memberikanjawaban
|
Ilmu Pengetahuan dapat sampai pada kebenaran
melalui kesimpulan logis dari pengamatan empiris
|
3.
Persamaan
Filsafat, Pengetahuan dan Ilmu
·
Ketiganya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki objek
selengkap-lengkapnya
·
Ketiganya memberikan pengertian mengenai hubungan yang ada
antara kejadian –kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukkan
sebab-sebabnya
·
Ketiganya hendak memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan
yang bergandengan
·
Ketiganya mempunyai metode dan sistem
·
Ketiganya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan
seluruhnya timbul dari hasratmanusia (objektivitas) akan pengetahuan yang lebih
mendasar
“FILSAFAT LOGIKA BERPIKIR MENCARI KEBENARAN”
A.
Pengertian,
macam-macam, dan manfaat Logika
1.
Pengertian
logika
Dalam
filsafat ilmu, logika sangat dibutuhkan untuk menjelaskan dan memahami sebuah
gejala keilmuan. Hadiatmaja dan Kuswa Endah melalui Suwardi Endraswara
(2012: 174) menyatakan bahwa logika adalah cabang filsafat umum yang
membicarakan masalah berpikir tepat, yaitu mengikuti kaidah-kaidah berpikir
yang logis.
Logika
berasal dari kata Yunani yaitu “logos” yang berarti ucapan, kata, akal budi,
dan ilmu (Suwardi Endraswara, 2012: 173). Secara leksikal, Oxford Advanced
Learner’s Dictionary mendefinisikan logika sebagai (1) the
science of thinking about or explaining the reasons for
something, (2) a particular method or system of reasoning,
dan (3) a way of thinking or explaining something, whether right or
wrong. Hal senada juga ditegaskan oleh Karomani (2009: 14) yang mendefinisikan
logika sebagai suatu kajian tentang bagaimana seseorang mampu untuk berpikir
dengan lurus.
Logika
adalah ilmu tentang metode dan prinsip yang memelajari segenap asas, aturan dan
tata cara mengenai penalaran yang benar untuk membedakan yang benar dan yang
salah. Logika merupakan ilmu sekaligus keterampilan berpikir guna memeroleh
argumentasi yang nalar ketika digunakan untuk memandang sebuah fenomena (Suwardi
Endraswara, 2012: 175).
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa logika adalah ilmu atau cara tertentu yang
digunakan seseorang dalam rangka berpikir lurus guna mencari alasan,
penjelasan, dan jawaban atas sebuah permasalahan.
2.
Macam-macam
logika
a. Logika
tradisional atau logika naturalis atau logika kodratiah/alamiah (second order),
yaitu cara berpikir sederhana berdasarkan kodrat atau naluri fitrah manusia
yang sejak lahir sudah dilengkapi alat berpikir, sebagai contoh:
“Makan
tidak sama dengan minum”.
“Seseorang
yang lapar pasti ingin makan”.
“Seseorang
yang haus pasti ingin minum”.
Logika
tradisional ini sering disebut juga logika bahasa atau logika linguistik karena
logika jenis ini sering berfungsi untuk menganalisa bahasa (Suwardi Endraswara,
2012: 178). Menurut Noeng Muhadjir (2011: 23-24) logika tradisional terbagi
lagi menjadi dua macam, yaitu:
·
Logika formil deduktif Aristoteles.
Disebut
deduktif karena pembuktian diambil dari premis mayor yang dipandang mutlak
benar, untuk membuktikan kasus (yang disebut premis minor) dan apabila terdapat
kecocokan (dalam makna implisit) dengan premis mayor, maka kesimpulan kasus itu
benar. Sedangkan disebut formil karena kebenaran diuji berdasarkan sinkrunnya
proposisi-proposisi mayor-minor dan term tengahnya, bukan diuji berdasarkan
kebenaran materiil. Contoh:
Semua
manusia (subyek mayor) dapat mati (predikat mayor)
Si
Ali (term tengah) itu manusia (subyek mayor)
“Jadi:
Si Ali (term tengah) dapat mati (predikat mayor)”
·
Logika materiil axiomatik Euclides.
Logika
jenis ini disebut materiil karena pembuktian kebenaran berdasarkan bukti
empiris. Kebenarannya didasarkan pada cocoknya rasio dengan bukti empiris.
Logika ini juga disebut axiomatik karena pembuktian kebenaran berdasar axioma
atau kebenaran universal. Contohnya:
“Matahari
terbit dari dari Timur dan terbenam di Barat”.
b. Logika Modern atau logika
artifisialis atau logika matematika/simbolik atau logika ilmiah (first order),
yaitu jenis logika yang menerapkan prinsip-prinsip matematik terhadap logika tradisional
dengan menggunakan lambang-lambang (non-bahasa). Dengan kata lain logika jenis
ini menggunakan cara berpikir matematis. Fakta yang dipakai adalah fakta-fakta
obyektif yang andal, sehingga daya tahan logika ini agak lama. Dengan kata lain
logika jenis ini mempelajari hukum-hukum, prinsip-prinsip, dan bentuk-bentuk
pikiran manusia yang jika dipatuhi akan membimbing manusia untuk mencapai
kesimpulan-kesimpulan yang lurus dan sah (Suwardi Endraswara: 2012: 181-186).
Sebagai contoh:
A
> B (A lebih besar dari B)
A
= C (A sama dengan C)
C
> B (C lebih besar dari B) atau B < C (B lebih kecil dari C)
c. Logika
Linguistik atau Logika Bahasa
Telah dipaparkan sebelumnya bahwa logika
bahasa/linguistik (second order) digunakan untuk mengambil kesimpulan fakta-fakta
bahasa dan sastra. Terdapat dua teori terkait pemahaman bahasa dan sastra
yaitu: (1) formal thinking yaitu teori bahasa platonik, bahwa manusia
sebenarya dapat bepikir formal sehingga menghasilkan subyek, predikat, dan
objek, dan (2) subjective thinking, yaitu teori bahasa chomsky, bahwa
sesuatu yg diekspresikan berada dalam pikiran manusia (Suwardi Endraswara,
2012: 181).
Logika bahasa adalah cara berpikir
menggunakan gagasan yang diawali dengan hal-hal atau fakta yang bersifat khusus
yang dituangkan dalam beberapa kalimat atau berupa kalimat penjelasan
berdasarkan penjelasan itu berakhir pada kesimpulan umum yang dinyatakan dengan
kalimat topik. Dengan kata lain logika bahasa menggunakan alur berpikir
induktif. Contohnya:
Kuda
Sumba punya sebuah jantung (Penjelasan)
Kuda
Australia punya sebuah jantung (Penjelasan)
Kuda
Amerika punya sebuah jantung (Penjelasan)
Kuda
Inggris punya sebuah jantung
(Penjelasan)
Setiap
kuda punya sebuah jantung
(Kalimat Topik)
Bahasa
yang baik dan benar dalam praktik kehidupan sehari-hari hanya dapat tercipta
apabila ada kebiasaan atau kemampuan dasar dari setiap orang untuk berpikir
logis. Sebaliknya, suatu kemampuan berpikir logis tanpa kemampuan bahasa
yang baik, maka ia tidak akan dapat menyampaikan isi pikiran kepada orang lain.
d. Logika
Matematis
Logika matematikaadalah sebuah alat
berpikir yang menggunakan pernyataan-pernyataan (statements) majemuk termasuk
di dalamnya:
·
Bahasa untuk merepresentasikan pernyataan.
·
Notasi yang tepat untuk menuliskan sebuah
pernyataan.
·
Metodologi untuk bernalar secara objektif
untuk menentukan nilai benar-salah dari sebuah pernyataan.
·
Dasar-dasar untuk menyatakan pembuktian
formal dalam semua cabang matematika.
e. Logika
Filosofis
Menurut Russell melalui Suwardi Endraswara
(2012: 183-185) membagi logika ke dalam tiga tipe yaitu: logika tradisional
klasik, logika evolusionisme, dan logika atomisme.
·
Logika tradisional klasik
Perhatian
utama adalah para filsuf Yunani yang menekankan pasa rasio sebagai perhatian
utamanya. Dengan kata lain rasio merupakan satu-satunya keabsahan yang sahih.
Metode deduksi apriori digunakan dalam tipe ini untuk mengkaji fenomena yang
ada. Semua realitas adalah suatu kesatuan dan tidak ada perubahan. Logika dalam
bentuk ini dikonstruksikan melalui proses negasi. Dunia dibentuk oleh logika
dan disempurnakan oleh pengalaman.
·
Logika evolusionisme
Logika tipe ini menekankan dan mendasarkan
pada ilmu pengetahuan. Evolusionisme bukan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya
dan juga bukan metode untuk memecahkan masalah. Filsafat sesungguhnya adalah
suatu yang lebih kuat sekaligus lebih longgar, menguak harapan-harapan tentang
keduniaan dan membutuhkan beberapa disiplin ilmu supaya berhasil dalam
mempraktikkannya.
·
Logika atomisme
Logika tipe ini mempunyai tujuan untuk
mengupas habis struktur hakiki bahasa dan dunia. Tujuan ini dicapai melalui
jalan analisis. Logika tipe ini, didasarkan pada pemikiran matematis.
f. Logika
Pragmatik
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang
mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya
sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat
secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang
penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada
individu-individu.
3.
Manfaat
logika
a. Logika
menyatakan, menjelaskan, dan mempergunakan prinsip-prinsip abstrak yang dapat
dipakai dalam semua lapangan ilmu pengetahuan bahkan seluruh lapangan
kehidupan.
b. Logika
menambah daya berpikir abstrak dan dengan demikian melatih dan mengembangkan
daya pemikiran dan menimbilkan disiplin intelektual.
c. Logika
mencegah kita tersesat oleh segala sesuatu yang kita peroleh berdasarkan
otoritas, emosi, dan prasangka.
d. Logika
membantu kita untuk mampu berpikir sendiri dan tahu membedakan yang benar dan
yang salah.
e. Logika
membantu orang untuk dapat berpikir lurus, tepat dan teratur karena dengan
berpikir demikian seseorang
B.
Pengertian,
macam-macam, dan manfaat kebenaran
1.
Pengertian
kebenaran
Maksud hidup ini adalah untukmencari kebenaran. Kebenaran inimenurut kamus besar Bahasa
Indonesia adalah keadaan (hal dsb) yang
cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya. Sementara menurut
Syafi’i dikutip oleh Marwardidalam
artikelnya, “Kebenaran dalamperspektif filsafat ilmu”
mengatakanbahwa kebenaran itu adalah kenyataan. Kenyataan yang
dimaksud itu tidak selalu yang seharusnya terjadi. Kenyataan yang terjadi
bisa saja berbentuk ketidakbenaran (keburukan). Jadi, ada dua pengertian
kebenaran, yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata di satu pihak, dan
kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran).
Kebenaran
adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Pernyataan ini pasti, dan tidak
dapat dipungkiri lagi. Manusia selalu ingin tahu kebenaran, karena hanya kebenaranlah
yang bias memuaskan rasa ingin tahu, dengan kata lain tujuan pengetahuan ialah
mengetahui kebenaran.
Kita
manusia bukan hanya sekedar ingin tahu, tetapi ingin mengetahui kebenaran. Kita
juga selalu ingin memiliki pengetahuan yang benar. Kebenaran ialah persesuaian
antara pengetahuan dan obyeknya. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang
sesuai dengan obyeknya.
2.
Macam-macam
kebenaran
Terdapat banyak
pandangan mengenai teori kebenaran dalam kaitannya dengan
pengembangan ilmu, di antaranya adalah kebenaran empiris, kebenaran
rasional, kebenaran ilmiah, kebenaran intuitif,dan kebenaran relegius.
a. Kebenaran empiris.
Empiris adalah suatu keadaan
yang bergantung bukti atau konsekuensi yang teramati olehindera. Data
empiris yang dihasilkan dari percobaan atau pengamatan
(Wikipedia).Jadi, empiris itu artinya kelihatan jelas,
ada pembuktiannya, bias kita dengar, sentuh, berdasarkan padahal-hal
yang kelihatan dan sudahdiuji kebenarannya.
Merupakan
hal yang dapat di inderawi, hal yang di rasakan oleh manusia dengan inderanya. Secara lebih
jelas dengan contoh berikut ini:
·
Api itu panas.
·
Es itu dingin.
·
Daun itu hijau.
b. Kebenaran Rasional.
Rasional berarti menurut
pikiran dan pertimbangan yang logis; menurut pikiran yang sehat;
cocok dengan akal. Rasionalisme adalah pandangan bahwa kita
mengetahui apa yang kita pikirkan dan bahwa akal mempunyai kemampuan untuk
mengungkapkan kebenaran dengan diri sendiri, atau bahwa pengetahuan itu
diperoleh dengan cara membandingkan ide dengan ide Basman (2009: 30).
Manusia merupakan
makhluk hidup yang dapat berpikir, sehingga kemampuannya tersebut dapat
menangkap ide atau prinsip tentang sesuatu yang pada akhirnya sampai kepada
kebenaran, yaitu kebenaran rasional. Sebagai contoh berikut:
“Ketika
TV kita tidak berfungsi dengan baik maka dapat dipikir bahwa dan dipastikan
kalau ada komponen di dalam TV yang rusak atau sudah perlu diganti. Pemikiran
tentang ada sesuatu yang tidak beres ini merupakan suatu hal rasional yang
timbul dari fenomena TV dan dapat dipastikan pikiran rasional ini benar”.
c. Kebenaran
Ilmiah.
Kebenaran ilmiah
merupakan kebenaran yang muncul dari hasil penelitian ilmiah dengan melalui
prosedur baku berupa tahap-tahapan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang
berupa metodologi ilmiah yang sesuai dengan sifat dasar ilmu.
Oleh karena itu, kebenaran
ilmiah sering disebut sebagai
kebenaran nisbi atau relatif. Sifat kebenaran ini sesuai dengan
sifat keilmuan itu sendiri yang dapat berubah sesuai dengan perkembangan hasil
penelitian, karena suatu teori pada masa tertentu bisa jadi merupakan
kebenaran, tetapi pada masa berikutnya bisa jadi sebuah kesalahan besar. Contoh
kebenaran ilmiah:
·
Bumi itu bulat dan tidakdatar.
·
Air mendidih pada 100°C
d. Kebenaran Intuitif
Intuitif merupakan suatusarana untuk mengetahui secara
langsung dan seketika. Unsurutama bagi pengetahuan adalah
kemungkinan adanya sesuatu bentuk penghayatan langsung
(intuitif) Bergson dalam Muslih (2004: 68).
Pendekatan ini
merupakan pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui proses
penalaran tertentu.Intuisi bersifat personal dan tidak
bisa diramalkan.Bahwa intuisi yang dialami oleh seseorang bersifat khas,
sulit atau tidak bisa dijelaskan, dan tidak bisa dipelajari atau ditiru oleh orang
lain. Bahkan seseorang yang pernah
memperoleh intuisi sulit atau
bahkan tidak bias mengulang pengalaman serupa,
misalnya,seorang yang sedang menghadapi suatu masalah
secara tiba-tiba menemukan
jalan pemecahan dari masalah yang
dihadapi atau secara tiba-tiba seseorang memperoleh
informasi mengenai peristiwa yang akan terjadi.
e.
Kebenaran Religius.
Kebenaran religius ialah
kebenaran Ilahi, kebenaran yang bersumber dari Tuhan.
Kebenaran ini disampaikan melalui wahyu. Manusia bukan
semata makhluk jasmani yang ditentukan oleh hukum alam dan
kehidupan saja,ia juga makhluk rohaniah sekaligus pendukung
nilai.
Kebenaran tidak cukupdiukur dengan interes dan rasioindividu,akan tetapi harus bisa menjawab kebutuhan dan
memberi keyakinan pada seluruh umat.
Karena itu kebenaranharuslah mutlak,berlaku
sepanjang sejarah manusia.Contoh kebenaran religius:
·
Tentang madu.
·
Alkitab
C.
Cara
mendapatkan kebenaran dalam sudut pandang logika
Bagaimana
Mendapatkan Kebenaran itu ditinjau dari sisi LOGIKA. Seperti kita ketahui bersama,
fungsi dasar dari Logika adalah menentukan penalaran Akal kita untuk
dapat memisahkan mana yang Benar dan Mana yang Tidak Benar. Benar menurut
kita belum tentu benar menurut orang lain, para tokoh-tokoh Filsuf Seperti
Charles S Pierce ( 1914 – 1939 ) yang menganut Teori Pragmatisme dalam mencari
kebenaran lebih dititik beratkan pada akibat-akibat atau hasilnya yang
bermanfaat secara praktis. Tiga teori yang menjadi dasar dari sisi Pragmatis
adalah :
·
Sesuai
Keinginan dan Tujuan
·
Adanya
Keseuaian dalam Eksperimen
·
Eksistensi
Konsep
Logika atau Logika Itu sendiri adalah cabang ilmu Filsafat yang secara tidak
langsung akan berhubungan langsung terhadap kaidah-kaidah yang ada didalamnya.
Dalam logika dikenal metode cara mendapatkan Kebenaran dangan metoda cara
Berfikir secara Induksi dan Deduksi dimana didalamnya telah dilakukan
penelitian-penelitian yang sistematis, tepelajar berdasarkan bidang ilmu atau
object yang menjadi tujuan Pengetahuan.
Dalam
proses penalaran yang akan dilakukan secara induktif atau deduktif kita tidak
boleh melalaikan pokok-pokok yang oleh logika disebut azas Berpikir (Drs. H
Mundari ), kapasitas dari asas ini adalah mutlak agar kita bisa lurus dalam
berpikir , tiga asas pemikiran antara lain :
·
Asas Identitas
·
Asas Kontradiksi
·
Asas Penolakan Kemungkinan Ketiga.
CARA
MENDAPATKAN KEBENARAN dalam sudut pandang LOGIKA adalah dengan tercapainya
syarat syarat Keseluruhan Sistem analisis dalam mengambil atau mendapatkan
Konklusi atau kesimpulan terhadap suatu keilmuwan, titik dari pengetahuan
adalah tercapainya kebenaran Keilmuwan. Keilmuwan memiliki sifat logis yang
oleh karena itu kepentingan keilmuwan tidak mungkin melepaskan Kepentingannya
terhadap Logika.
“TEORI KEBENARAN”
A.Pengertian
Kebenaran
Kebenaran adalah keadaan yang sesuai dengan nilai
esensialnya atau keadaan yang dianggap sebagai sebenarnya atau orisinal.
Kebenaran merupakan satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai
nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha
"memeluk" suatu kebenaran. Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa
dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu
sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya
haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah. Kriteria ilmiah
dari suatu ilmu memang tidak dapat menjelaskan fakta dan realitas yang ada. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan yang
berada dalam lingkup religi ataupun yang metafisika
dan mistik, ataupun yang non ilmiah lainnya. Di sinilah perlunya
pengembangan sikap dan kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam dunianya. Penegasan di atas dapat kita pahami karena apa yang
disebut ilmu pengetahuan diletakkan dengan ukuran, pertama, pada
dimensi fenomenalnya yaitu bahwa ilmu pengetahuan menampakkan
diri sebagai masyarakat, sebagai proses dan sebagai produk. Kedua,
pada dimensi strukturalnya, yaitu bahwa ilmu pengetahuan harus
terstruktur atas komponen-komponen, obyek sasaran yang hendak diteliti
(begenstand), yang diteliti atau dipertanyakan
tanpa mengenal titik henti atas dasar motif dan tata cara tertentu,sedang
hasil-hasil temuannya diletakkan dalam satu kesatuan system.
Maksud dari hidup ini adalah untuk mencari
kebenaran. Tentang kebenaran ini,Plato pernah berkata: "Apakah kebenaran
itu? lalu pada waktu yang
tak bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley menjawab; "Kebenaran itu adalahkenyataan",
tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. Kenyataan yang terjadi
bisa saja berbentuk ketidak benaran (keburukan).Dalam bahasan, makna
"kebenaran" dibatasi pada kekhususan makna "kebenaran keilmuan (ilmiah)". Kebenaran ini mutlak dan
tidak sama atau pun langgeng,melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara
(tentatif) dan hanya merupakan pendekatan. Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu
bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan.
Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu
sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral,tak bermuara, dapat
melunturkan pengertian kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat
sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran
terhadap berakarnya kebenaran. Selaras dengan
Poedjawiyatna yang mengatakan bahwa persesuaian
antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui. Jadi
pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif.
Meskipun
demikian, apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu
kebenaran yang lebih jatilagi dan demikian seterusnya. Hal ini tidak bisa
dilepaskan dengan keberadaan manusia yang
transenden,dengan kata lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Dari sini
terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden,
artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat diluar jangkauan manusia. Kebenaran dapat
dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran moral, kebenaran logis, dan kebenaran metafisik. Kebenaran moral
menjadi bahasan etika, ia menunjukkan hubungan
antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika,
dan psikologi, ia merupakan hubungan antara pernyataan dengan realitas
objektif. Kebenaran metafisik berkaitan
dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akal budi, karena yang ada mengungkapkan diri kepada akal budi. Yang ada
merupakan dasar dari kebenaran, dan akal budi yang menyatakannya.
B. Teori Kebenaran
1.
Teori Kebenaran Koherensi
Yaitu
adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu
yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsure tersebut, baik
berupa skema, system, ataupun nilai. Koherensi bias pada tatanan sensual
rasional maupun pada dataran transcendental.
Teori koherensi dapat juga disebut dengan
teori konsistensi, yaitu teori yang mengatakan, suatu pernyataan dianggap benar
apabila pernyataan bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan
sebelumnya yang telah dianggap benar secara logis.
Contoh : Pernyataan “Seluruh mahasiswa
UNTAG harus mengenakan almamater saat perkuliahan berlangsung”. Sulis adalah
mahasiswa UNTAG, Sulis harus mengenakan almamater saat perkuliahan berlangsung.
Pernyataan tersebut adalah benar sebab pernyataan kedua konsisten dengan
pernyataan pertama.
2.
Teori Kebenaran Korespondensi
Teori
korespondensi berpandangan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar apabila
materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan)
dengan pernyataan yang ada di alam atau obyek yang dituju pernyataan tersebut.
Berfikir korespondensial adalah berfikir
tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu yang lain. Korespondensi
relevan dibuktikan dengan adanya kejadian yang sejalan atau berlawanan arah
antara kenyataan dengan fakta yang diharapkan.
Contoh : Pernyataan “Ibu adalah orang
yang melahirkan kita”, pernyataan tersebut benar karena faktanya memang ibulah
yang telah melahirkan kita. Sedangkan pernyataan lain “Bapak adalah orang yang
melahirkan kita”, pernyataan tersebut tidak benar sebab tidak ada obyek yang
berhubungan dengan pernyataan tersebut. Jadi secara faktual “Orang yang
melahirkan kita bukan bapak, melainkan ibu”
3.
Teori Kebenaran Performatif
Adalah
kebenaran yang diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu.
Masyarakat dapat menganggap suatu hal itu benar, meski terkadang bertentangan
dengan bukti-bukti empiris.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusian
terkadang harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yakni
pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat, dan sebagainya.
Kebenaran performatif cenderung
menjadikan manusia kurang inisiatif dan inovatif, karena mereka hanya mengikuti
kebenaran dari pemegang otoritas, sehingga tidak terbiasa berfikir secara
kritis dan rasional.
Contoh
: Ketua RT memutuskan bahwa hari minggu pada minggu pertama tiap bulan akan
menjadi agenda rutin untuk para warga melaksanakan kerja bakti, sebagian
masyarakat menyetujuinya, namun juga sebagian masyarakat ada yang tidak setuju
dengan keputusan tersebut.
4.
Teori Kebenaran Pragmatis
Teori
pragmatis mengatakan bahwa pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan
tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Maksudnya, suatu
pernyataan adalah benar apabila pernyataan atau konsekuensi dari pernyataan itu
mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.
Contoh : Seseorang yang mencetuskan ide
untuk menciptakan suatu alat perontok padi, kemudian ide tersebut
direalisasikan hingga tercipta alat perontok padi yang dapat digunakan oleh
manusia untuk mempermudah pekerjaannya dalam proses merontokkan padi. Maka alat
perontok padi dianggap benar, karena alat tersebut adalah fungsional dan
mempunyai kegunaan.
5.
Teori Kebenaran Proposisi
Menurut
Aristoteles, proposisi (pernyataan) dikatakan benar apabila sesuai dengan
persyaratan formal suatu proposisi. Kemudian pendapat lain dari Euclides,
proposisi bernilai benar tidak dilihat dari benar formalnya, tetapi dilihat
dari benar menurut materialnya.
6.
Teori Kebenaran Paradigmatik
Yakni
suatu teori yang menyatakan benar apabila teori itu berdasarkan pada paradigma
atau perspektif tertentu dan ada komunitas ilmuan yang mengakui paradigma tersebut.
Kebenaran paradigmatik sebenarnya pengembangan dari kebenaran korespondensi.
Paradigma berfungsi sebagai keputusan yuridiktif yang diterima dalam hukum tak
tertulis
“FILSAFAT MANUSIA”
1.
Pengertian Filsafat Manusia
Filsafat
manusia, dalam bahasa Inggris disebut philosophy of man, merupakan bagian dari
filsafat yang berupaya menelisik eksistensi seorang manusia. Filsafat manusia
berupaya melukiskan siapa sebenarnya makhluk yang kita sebut sebagai manusia
itu srcara total.[1]Filsafat
manusia juga disebut dengan antropologi filosofis. Pada intinya filsafat
manusia adalah ilmu filsafat yang membahas tentang manusia yang mencakup
seluruh dimensinya. yaitu, membahas tentang fisik manusia, mental manusia,
nilai, makna, tujuan hidup dan segala hal yang berhubungan dengan eksistenai
hidup seorang manusia.
Filsafat
manusia dalam konteks ini mempunyai kedudukan yang kurang lebih setara dengan
cabang-cabang filsafat lainnya seperti etika, epistemologi, kosmologi, filsafat
sosial, dll. Akan tetapi filsafat manusia mempunyai kedudukan yang lebih
istimewa karna semua cabang-cabang filsafat tersebut pada prinsipnya berawal
dan berakhir pada persoalan mengenai esensi manusia yang merupakan objek kajian
dari filsafat manusia.
2.
Hakikat Tujuan Hidup Manusia
Hakikat
manusia dapat dilihat dari tahapannya. Nafs, keakuan, diri, ego. Dimana pada
tahapbini semua unsur membentuk kesatuan diri yang aktual, kekinian dan dinamik
yang beradaa dalam perbuatan dan amalnya. Secara substansial dan moral, manusia
lebih buruk dari pada iblis, tetapi secara konseptual manusia lebih baik karna
manusia memiliki kemampuan kreatif. Tahapan nafs hakikat manusia ditentukan
oleh amal, karya dan perbuatannya. Sedangkan pada tauhid hakikat manusia
sebagai 'adb dan khalifah, kesatuan aktualisasi sebagai kesatuan jasad dan ruh
yang membentuk pada tahapan nafs secara aktual.
Memahami
hakikat manusia dan kesadarannya tidak dapat dilepaskan dengan dunianya.
Hubungan manusia harus dan selaku dikaitkan dengan dunia dimana ia berada. Dunia
bagi manusia adalah bersifat tersendiri. Manusia dalam kehadirannya tidak
pernah terpisah dari dunia dan hubungannya dengan dunia manusia bersifat unik.
Status unik manusia dengan dunia dikarenakan manusia dalam kapasitasnya dapat
mengetahui, mengetahui merupakan tindakan yang mencerminkan orientasi manusia
terhadap dunia. Dari sini muncullah kesadaran atau tindakan otentik,
dikarenakan kesadaran merupakan penjelasan eksistensi manusia di dunia.
Orientasi di dunia yang terpusat pada kemampuan pemikiran adalah proses
mengetahui dan memahami. Manusia sebagai proses dan sebagai makhluk sejarah
yang terikat dalam ruang dan waktu. Manusia memiliki kemampuan dan harus
bangkit dan terlibat dalam proses sejarah dengan cara untuk menjadi lebih.
Hakikat
kehidupan manusia adalah menuju kematian, suka tidak suka, mau tidak mau,
manusia pasti akan mengalami yang namanya mati. Sesungguhnya kita datang
kedunia ini bukanlah atas kehendak kita, manusia datang kedunia, bukanlah atas
kehendak manusia itu sendiri, tetapi manusia datang kedunia atas kehendak Allah
Swt. Oleh karena itu, dalam menjalani kehidupan, manusia tidak boleh
menyia-nyiakan masa hidupnya, manfaatkan apa yang telah dikaruniakan kepada
kita untuk berbuat kebajikan.
Pada
hakikatnya tujuan manusia dalam menjalankan kehidupannya mencapai perjumpaan
kembali dengan Penciptanya. Perjumpaan kembali tersebut seperti kembalinya air
hujan kelaut. Kembalinya manusia sesuai dengan asalnya sebagaimana dalam
dimensi manusia yang berasal dari Pencipta maka ia kembali kepada Tuhan sesuai
dengan bentuknya misalkan dalam bentuk imateri maka kembali kepada pencinta
dalam bentuk imateri. sedangkan unsur materi yang berada dalam diri manusia
akan kembali kepada materi yang membentuk jasad manusia.
3.
Kodrat Manusia
Apa
itu kodrat manusia? kodrat manusia adalah sifat dasar manusia yang dibawa sejak
lahir sampai meninggal dunia. Sifat dasar inilah yang menentukan sikap dan
perbuatan manusia. Sifat dasar ini harus dikembangkan secara optimal bila ingin
menjadi manusia yang unggul. Namun jika tidak maka manusia itu akan jatuh pada
perbuatan sesat dan jahat.
Dalam
kehidupan masyarakat umumnya terdapat tiga konsep tentang kodrat manusia.
Pertama, kodrat manusia itu netral artinya tidak baik dan tidak buruk atau
jahat. Kedua, kodrat manusia itu bisa baik atau bisa buruk atau jahat artinya
bahwa kebaikan atau keburukan ada pada diri manusia. Ketiga, sebagian melihat
kodrat manusia itu baik dan sebagian lainnya melihat kodrat manusia itu buruk
atau jahat.
Menurut
Mensius (Men Chi) ahli filsafat dari Cina, kodrat manusia pada dasarnya itu
adalah baik. seperti contoh sebagai berikut. Jika seseorang melihat ada seorang
anak kecil sedang bermain di tepi sungai dan ketika saat bermain anak kecil itu
hampir tercebur ke sungi, maka dengan tanpa berpikir panjang orang tersebut
akan segera menghampiri dan berusaha untuk membantu anak tersebut agar tidak
tercebur ke sungai. Rasa iba dan membantu anak tersebut bukan karena ingin
dipuji oleh orang tua anak atau orang lain yang melihat. Tetapi semata-mata merupakan
rasa iba dan tolong menolong yang bersumber pada kodratnya untuk membantu
sesama jika terjadi kesulitan. Rasa iba inilah yang memunculkan rasa
kemanusiaan dari dalam diri orang tersebut.
Mensius
menunjukkan kebaikan kodrat manusia ada empat unsur fundamental dan khas yang
ada hanya pada manusia. Keempat unsur tersebut adalah.
1)
Simpati. Menurutnya rasa simpati merupakan
dasar dari rasa kemanusiaan.
2)
Malu dan segan. Rasa malu dan segan
merupakan dasar dari kebenaran dan keadilan.
3)
Rendah hati dan kerelaan. Perasaan rendah
hatidan kerelaan merupakan dasar dari kesusilaan atau kesopanan.
4)
Setiap manusia di dalam dirinya mampu
memahami dan membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Memahami apa yang
benar dan apa yang salah merupakan dasar dari kebijaksanaan atau kearifan.
Apabila
empat unsur fundamental ini tidak ada dalam diri manusia, maka orang tersebut
bukanlah manusia normal. Keempat unsur inilah yang juga membedakan manusia
dengan binatang karena binatang tidak memiliki empat unsur tersebut. Keempat unsur
fundamental yang hanya dimiliki manusia ini melekat dengan kuat dalam hati
manusia. Dengan kata lain kebaikan dan kodrat manusia bersumber pada hati.
Orang yang bertindak menurut hatinya berarti bertindak menurut kodratnya.
Manusia
yang mencintai sesamanya dan menciptakan perdamaian dalam kehidupan bersama
merupakan tindakan yang didasarkan pada kodratnya yang baik. Dan kebaikan
kodrat manusia itu bersumber pada hati. Hati adalah adalah pusat kemanusiaan
yang memberi warna khusus pada manusia dan membedakan dari binatang yang
berakal budi. Dari hati lahirlah kesadaraan diri sebagai manusia. kehendak
untuk bersikap patuh, berlaku benar dan salah, mengetahui yang baik dan yang
buruk. Karena kodrat manusia merupakan sebuah keniscayaan pada manusia.
4.
Kodrat kedua dari seorang Socrates.
Dalam
dialog yang menceritakan kematian Socrates, Plato menggambarkan sebuah potret
klasik dari warga negara yang beradab. Pada sore hari setelah dijatuhi hukuman
mati, Socrates berdebat dengan teman-temannya. Para petugas penjara membiarkan
pintu penjara itu terbuka, tetapi Socrates malah menjelaskan mengapa ia menolak
melarika diri. Socrates mengatakan bahwa dia sendiri bukanlah organisme dari
otot dan tulangnya, daya refleknya, perasaannya dan nalurinya. Ia, Socrates,
adalah pribadi yang memerintah organisme itu.
Teman-teman
Socrates, yang berada disana pada hari terakhir itu, mungkin akan mengatakan
bahwa adalah "manusiawi" kalau ia ingin melarikan diri apabila
kesempatan itu ada. Akan tetapi Socrates memilih untuk melakukan yang
sebaliknya dan menegaskan bahwa ia adalah manusia paripurna, manusia utuh,
karena ia rela dan mampu memerintah keinginan-keinginannya.
Inti
cerita itu adalah bahwa Socrates tidak mau menyelamatkan dirinya karena seorang
warga negara Athena tidak akan mencurangi hukum, apalagi kalau itu dilakukan
untuk keuntungan pribadi. Jika Athena akan diperintah, maka haruslah oleh warga
negara yang dengan kodrat mereka yang kedua yaitu lebih senang taat hukum
daripada kepuasan dorongan batin mereka sendiri, bahkan bila perlu lebih dari
keinginan hidup mereka sendiri.
Inilah
citra batin seseorang yang pantas untuk memerintah. Didalam dirinya, dia
diperintah oleh kodrat keduanya yang beradab. Jati diri yang sesungguhnya
berkuasa atas hidup dan mati dirinya yang alamiah. Karena hanya pribadi yang
beradablah yang memenuhi persyaratan sebagai pemilik hukum dan lembaga Atena
dan pemilik idealisme kehidupan, padanya ia berbakti. Semuaitu adalah tujuan
dari karakternya sendiri, yang telah terbangun sebagai bagial keberadaannya
yang dia sebut sebagai jati diri.
“TATARAN
KEILMUAN ONTOLOGI, EPISTIMOLOGI, DAN AKSIOLOGI”
1. Ontologi
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling
kuno dan berasal dari Yunani. Studi
tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang
memiliki pandangan yang bersifat ontologis yang terkenal diantaranya Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada
masanya, kebanyakan orang belum mampu membedakan antara penampakan
dengan kenyataan.
Pengertian Ontologi
a. Menurut
Bahasa :
Ontologi berasal dari BahasaYunani, yaitu on / ontos = being atau ada, dan logos = logic
atau ilmu.
Jadi, ontology bias
diartikan :
The theory of being qua
being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan), atau Ilmu tentang yang ada.
b. Pengertian
menurut istilah :
Ontologi
adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate
reality yang berbentuk jasmani / kongkret maupun rohani / abstrak (Bakhtiar,
2004).
Paham–paham dalam
Ontologi
Dalam pemahaman
ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok/aliran-aliran pemikiran
antara lain: Monoisme, Dualisme,
Pluralisme, Nihilisme, dan Agnotisisme.
a.
Monoisme
Paham ini menganggap bahwah akikat yang asal dari
seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua, baik yang asal
berupa materi atau pun rohani. Paham ini kemudian terbagi ke dalam 2 aliran :
1).
Materialisme
Aliran materialisme ini menganggap bahwa
sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran pemikiran ini
dipelopori oleh Bapak Filsafat yaitu Thales (624-546
SM). Dia berpendapat bahwa sumber asal adalah air karena pentingnya bagi
kehidupan. Aliran ini sering juga disebut naturalisme. Menurutnya bahwa zat
mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi/alam,
sedangkan jiwa /ruh tidak berdiri sendiri. Tokoh aliran ini adalah Anaximander (585-525 SM). Dia berpendapat bahwa unsur asal itu adalah
udara dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala kehidupan. Dari
segi dimensinya paham ini sering dikaitkan dengan teori Atomisme. Menurutnya
semua materi tersusun dari sejumlah bahan yang disebut unsur. Unsur-unsur itu
bersifat tetap tak dapat dirusakkan. Bagian-bagian yang terkecil dari itulah
yang dinamakan atom-atom. Tokoh aliran ini adalah Demokritos (460-370 SM). Ia berpendapat bahwa
hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat di hitung
dan amat halus. Atom-atom inilah yang merupkan asal kejadian alam.
2).
Idealisme
Idealisme diambil dari kata idea, yaitu
sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idelisme sebagai lawan materialisme, dinamakan
juga spiritualisme. Idealisme
berarti serbacita, spiritualisme berarti serba ruh. Aliran idealisme beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka
ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu
yang tidak berbentuk dan menempati ruang.
b.
Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda
terdiri dari 2 macam hakikat sebagai asal sumbernya yaitu hakikat materi dan
hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit.
Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang
dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan
istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan).Tokoh yang lain :
Benedictus De spinoza (1632-1677 M), dan Gitifried Wilhelm Von Leibniz
(1646-1716 M).
c. Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap
macam bentuk merupakan kenyataan. Lebih jauh lagi paham ini menyatakan bahwa
kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur. Tokoh aliran ini pada masa
Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa substansi
yang ada itu terbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api, dan
udara. Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M) yang terkenal
sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika. Dalam bukunya The Meaning of Truth, James mengemukakan bahwa tiada
kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiris
endiri, lepas dari akal yang mengenal. Apa yang kita anggap benar sebelumnya
dapat dikoreksi / diubah oleh pengalaman berikutnya.
d.
Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin
yang berarti nothing atau tidak ada. Doktrin tentang nihilism sudah ada
semenjak zamanYunani Kuno, tokohnya yaitu Gorgias (483-360 SM) yang memberikan
3 proposisi tentang realitas yaitu: Pertama, tidak ada sesuatu pun yang eksis,
Kedua, bila sesuatu itu ada ia tidak dapat diketahui, Ketiga, sekalipun
realitas itu dapat kita ketahui ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada
orang lain. Tokoh modern aliran ini
diantaranya: IvanTurgeniev (1862 M) dari Rusia dan Friedrich Nietzsche
(1844-1900 M), ia dilahirkan di Rocken di Prusia dari keluarga pendeta.
e.
Agnotisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan
manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun ruhani. Kata
Agnoticisme berasal dari bahasa Greek yaitu Agnostos yang berarti unknown A
artinya not Gno artinya know.Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat
eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti: Soren Kierkegaar (1813-1855 M), yang
terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme dan Martin
Heidegger (1889-1976 M) seorang filosof Jerman, serta Jean Paul Sartre
(1905-1980 M), seorang filosof dan sastrawan Prancis yang atheis(Bagus, 1996).
2.
Epistimologi
Masalah
epistemologi bersangkutan dengan
pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Dalam pembahasan filsafat, epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat.
Epistemologi adalah teori pengetahuan, yaitu membahas tentang bagaimana cara
mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan.
Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi—seperti
juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu
sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari
yang lain, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan
dalam mekanisme pemikiran. Ketika kita membicarakan epistemologi, berarti kita sedang menekankan bahasan tentang
upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Dari sini
setidaknya didapatkan perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir
dalam lingkup epistemologi
adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding
ontologi dan aksiologi.
Pengertian Epistemologi
Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para
ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. Epistemologi juga disebut teori
pengetahuan (theory of knowledge).
Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani
episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang
mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya)
pengetahuan.
Pengertian lain, menyatakan
bahwa epistemologi merupakan
pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah
sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup
pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap
manuasia (William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965, dalam Jujun
S.Suriasumantri, 2005).
Ruang
Lingkup Epistemologi
M.Arifin merinci ruang lingkup
epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan validitas pengetahuan. Mudlor
Achmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas,
dan sasaran pengetahuan. Bahkan, A.M Saefuddin menyebutkan, bahwa epistemologi
mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalnya, apa
sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa
kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita
ketahui, dan sampai dimanakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkat
menjadi dua masalah pokok; masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu.
M.
Amin Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul
atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. Sedangkan Paul
Suparno menilai epistemologi
banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. Sementara
itu, aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi, atau setidak-tidaknya
kurang mendapat perhatian yang layak.
Kecenderungan
sepihak ini menimbulkan kesan seolah-olah cakupan pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada
sumber dan metode pengetahuan, bahkan epistemologi
sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. Terlebih lagi ketika
dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi secara sistemik, seserorang cenderung
menyederhanakan pemahaman, sehingga memaknai epistemologi sebagai metode pemikiran, ontologi sebagai objek
pemikiran, sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran, sehingga senantiasa
berkaitan dengan nilai, baik yang bercorak positif maupun negatif. Padahal
sebenarnya metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi.
Objek
Dan Tujuan Epistemologi
Dalam
filsafat terdapat objek material dan objek formal. Objek material adalah
sarwa-yang-ada, yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan, hakikat alam
dan hakikat manusia. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara
radikal (sedalam-dalamnya, sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat
(sarwa-yang-ada).
Objek epistemologi ini menurut Jujun S.Suriasumatri berupa “segenap
proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.” Proses
untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan
sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu
merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan.
Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu
tujuan, maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali.
Tujuan
epistemologi menurut Jacques
Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi
bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu,
tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. Hal
ini menunjukkan, bahwa epistemologi
bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari,
akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu, yaitu ingin memiliki
potensi untuk memperoleh pengetahuan.
3.
Aksiologi
Pengertian Aksiologi
Menurut
Kamus Filsafat, Aksiologi Berasal dari bahasa Yunani Axios (layak, pantas) dan
Logos (Ilmu). Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai. Jujun S.Suriasumantri mengartikan
aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan
yang diperoleh.
Aksiologi berkaitan dengan kegunaan
dari suatu ilmu, hakekat ilmu sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang didapat
dan berguna untuk kita dalam menjelaskan, meramalkan dan menganalisa
gejala-gejala alam. (Cece Rakhmat, 2010)
Dari
pendapat diatas dapat dikatakan bahwa Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat
yang sebenarnya dari pengetahuan.
Penilaian Aksiologi
Bramel
(Jalaluddindan Abdullah,1997) membagi aksiologi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral. Bidang ini melahirkan disiplin khusus yakni etika. Kajian etika lebih focus pada prilaku, norma dan adat istiadat manusia. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu mempertanggung jawabkan apa yang ia lakukan. Di dalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya adalah tingkah laku yang penuh dengan tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, alam maupun terhadap Tuhan sebagai sang pencipta.
Bagian kedua dari aksiologi adalah esthetic
expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena disekelilingnya.
Mengutip pendapatnya Risieri Frondiz (BakhtiarAmsal,
2004), nilai itu objektif ataukah subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangannya yang muncul dari filsafat. Nilai akan menjadi subjektif, apabila subjek sangat berperan dalam segala hal, kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya; atau eksistensinya, maknanya dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis ataupun fisik. Dengan demikian nilai subjekif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia seperti perasaan, intelektualitas dan hasil nilai subjektif akan selalu mengarah pada suka atau tidak suka, senang atau tidaks enang.
Selanjutnya
nilai itu akan objektif, jika tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang
menilai. Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam filsafat tentang
objektivisme. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada
pada objeknya, sesuatu yang memiliki kadar secara realitas benar-benar ada
(Bakhtiar Amsal, 2004).
Bagian
ketiga dari Aksiologi adalah , sosio-political
life, yaitu kehidupan social politik yang akan melahirkan filsafat
sosiopolitik.Manfaat dari ilmu adalah sudah tidak terhitung banyaknya
manfaat dari ilmu bagi manusia dan
makhluk hidup secara keseluruhan. Mulai dari zamannya Copernicus sampai Mark
Elliot Zuckerberg , ilmu terus
berkembang dan memberikan banyak manfaat bagi manusia. Dengan ilmu manusia bisa sampai ke bulan,
dengan ilmu manusia dapat mengetahui bagian-bagian tersembunyi dan terkecil
dari sel tubuh manusia. Ilmu telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi
peradaban manusia, tapi dengan ilmu juga manusia dapat menghancurkan peradaban
manusia yang lain.
Mengutip pendapatnya Francis Bacon
dalam Suriasumantri (1999) yang mengatakan bahwa “Pengetahuan adalah
kekuasaan”. Apakah kekuasaan itu akan merupakan berkat atau malapetaka bagi
umat manusia, semua itu terletak pada system nilai dari orang yang menggunakan
kekuasaan tersebut. Ilmu itu bersifat
netral, ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan
itulah yang harus mempunyai sikap.
Selanjutnya Suriasumantri juga mengatakan bahwa kekuasaan
ilmu yang besar ini mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai landasan moral yang
kuat.
Untuk
merumuskan aksiologi dari ilmu, Jujun S
Sumantri merumuskan kedalam 4 tahapan yaitu:
-
Untuk apa ilmu tersebut digunakan?
-
Bagaimana kaitan antara cara penggunaan
tersebut dengan kaidah-kaidah moral?
-
Bagaimana penentuan objek yang di telaah
berdasarkan pilihan-pilihan moral?
-
Bagaimana kaitan antara teknik procedural
yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral /
professional.
Dari apa yang dirumuskan diatas
dapat dikatakan bahwa apapun jenis ilmu yang ada, kesemuanya harus disesuaikan
dengan nilai-nilai moral yang ada di masyarakat, sehingga nilai kegunaan ilmu
tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan
kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana. Bagi
seorang ilmuwan, nilai dan norma moral yang dimilikinya akan menjadi penentu
apakah ia sudah menjadi ilmuwan yang baik atau belum.
“FILSAFAT
ETIKA DAN MORAL”
2.1. PENGERTIAN ETIKA DAN MORAL
1. Etika
Pengertian Etika (Etimologi),
berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti hati nurani ataupun
perikelakuan yang pantas (atau yang diharapkan). Secara sederhana hal itu
kemudian diartikan sebagai ajaran tentang perikelakuan yang didasarkan pada
perbandingan mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.
Menurut para ahli, etika tidak
lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara
sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika
atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti
norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku
manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini:
A. Drs. O.P.
SIMORANGKIR : etika atau
etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang
baik.
B. Drs. Sidi
Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori
tentang tingkah lakuperbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk,
sejauh yang dapat ditentukan olehakal.
C. Drs. H.
Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang
berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam
hidupnya.
Etika dalam
perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia
orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan
sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak
secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu untuk
mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu di lakukan dan yang perlu
di pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi
kehidupan.
2. Moral
Kata moral berasal kata latin
‘’mos’’yaitu kebiasaan. Moral berasal dari Bahasa
Latin yaitu Moralitas adalah istilah manusia menyebut ke manusia
atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif.Manusia yang tidak
memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki
nilai positif di mata manusia lainnya.Sehingga moral adalah hal mutlak yang
harus dimiliki oleh manusia. Namun demikian karena manusia selalu
berhubungan dengan masalah keindahan baik dan buruk bahkan dengan
persoalan-persoalan layak atau tidak layaknya sesuatu.
Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang
berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa
melakukan proses sosialisasi.
Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai
implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari
sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di
sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh
sesamanya.
Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan
bermasyarakat secara utuh.Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan
masyarakat setempat.Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam
berinteraksi dengan manusia.apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan
nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta
menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral
yang baik, begitu juga sebaliknya.
Moral
adalah produk dari budaya dan Agama. Moral juga dapat diartikan
sebagai sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat
mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta
nasihat, dll.
2.2. DAMPAK MODERNISASIDAN GLOBALISASI
TERHADAP ETIKA
DAN MORAL
Dampak
modernisasi dan globalisasi terhadap etika, dan moral pelajarModernisasi
merupakan suatu proses transformasi dari suatu perubahan ke arah yang lebih
maju atau meningkat di berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan,
globalisasi yang berasal dari kata global atau globe artinya bola dunia atau
mendunia.
Jadi,globalisasi
berarti suatu proses masuk ke lingkungan dunia.Modernisasi dan globalisasi
dapat memperngaruhi sikap masyarakat dalam bentuk positif maupun negatif.
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
A.Sikap positif
1.
Penerimaan secara terbuka (open minded); lebih dinamis, tidak terbelenggu
hal-hal lama yang bersikap kolot.
2. Mengembangkan
sikap antisipatif dan selektif kepekaan dalam menilai hal-hal
hal yang akan terjadi.
B.Sikap
Negatif
1. Menjadi
tertutup.
2. masyarakat
yang telah merasa nyaman dengan kondisi kehidupan masyarakat yang ada.
3. Acuh
tah acuh.
4. masyarakat
awam yang kurang memahami arti strategis modernisasi dan
globalisasi.
5.
Kurang selektif dalam menyikapi perubahan modernisasi.
6. Dengan menerima
setiap bentuk hal-hal baru tanpa adanya seleksi.
Modernisasi dan globalisasi
dapat masuk ke kehidupan masyarakat melalui berbagai media, terutama media
elektronik seperti internet. Karena dengan fasilitas ini semua orang
dapat dengan bebas mengakses informasi dari berbagai belahan dunia. Pengetahuan
dan kesadaran seseorang sangat menentukan sikapnya untuk menyaring informasi
yang didapat.Apakah nantinya berdampak positif atau negatif terhadap dirinya,
lingkungan, dan masyarakat.Untuk itu, diperlukan pemahaman agama yang baik
sebagai dasar untuk menyaring informasi. Kurangnya filter dan selektivitas
terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia, budaya tersebut dapat saja masuk
pada masyarakat yang labil terhadap perubahan terutama remaja dan terjadilah
penurunan etika dan moral pada masyarakat Indonesia.
Jika dilihat pada
kenyataannya, efek dari modernisasi dan globalisasi lebih banyak mengarah ke
negatif. Kita dapat kehilangan budaya negara kita sendiri dan terbawa oleh
budaya barat, jika masyarakat Indonesia sendiri tidak mempelajari
pengetahuan tentang kebudayaan Indonesia dan tidak menjaga kebudayaan tersebut.
Ada baiknya budaya barat yang kita serap disaring terlebih dahulu.Karena tidak
semua budaya barat adalah baik.Jika kita terus menerima dan menyerap budaya
asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia, dapat terjadi
penyimpangan etika dan moral bangsa Indonesia sendiri.Melalui penyimpangan
etika dan moral tersebut, dapat tercipta pola kehidupan dan pergaulan yang
menyimpang.Tidak hanya akibat negatif yang dihasilkan modernisasi dan
globalisasi. Proses ini juga menghasilkan akibat positif, yaitu terciptanya
masyarakat yang lebih intelek dan melek terhadap perubahan dan
perkembangan dunia.
2.3. FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA
PERUBAHAN
ETIKA DAN MORAL
Ada beberapa faktor yang
menyebabkan terjadinya Perubaha Moral dan Etika, yaitu:
1. Longgarnya
pegangan terhadap agama
Sudah
menjadi tragedi dari dunia maju, dimana segala sesuatu hampir dapat dicapai
dengan ilmu pengetahuan, sehingga keyakinan beragam mulai terdesak, kepercayaan
kepada Tuhan tinggal simbol, larangan-larangan dan suruhan-suruhan Tuhan tidak
diindahkan lagi.Dengan longgarnya pegangan seseorang pada ajaran agama, maka
hilanglah kekuatan pengontrol yang ada didalam dirinya.Dengan demikian
satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral yang dimilikinya adalah masyarakat
dengan hukum dan peraturanya.
Namun
biasanya pengawasan masyarakat itu tidak sekuat pengawasan dari dalam diri
sendiri. Karen pengawasan masyarakat itu datang dari luar, jika orang luar
tidak tahu, atau tidak ada orang yang disangka akan mengetahuinya, maka dengan
senang hati orang itu akan berani melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum
sosial itu. Dan apabila dalam masyarakat itu banyak ornag yang melakukuan
pelanggaran moral, dengan sendirinya orang yang kurang iman tadi tidak akan
mudah pula meniru melakukan pelanggaran-pelanggaran yang sama. Tetapi jika
setiap orang teguh keyakinannya kepada Tuhan serta menjalankan agama dengan
sungguh-sungguh, tidak perlu lagi adanya pengawasan yang ketat, karena setiap
orang sudah dapat menjaga dirinya sendiri, tidak mau melanggar hukum-hukum dan
ketentuan-ketentuan Tuhan.Sebaliknya dengan semakin jauhnya masyarakat dari
agama, semakin sudah memelihara moral orang dalam masyarakat itu, dan semakin
kacaulah suasana, karena semakin banyak pelanggaran-pelanggaran, hak, hukum dan
nilai moral.
2. Kurang
efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumahtangga, sekolah maupun
masyarakat.
Pembinaan
moral yang dilakukan oleh ketiga institusi ini tidak berjalan menurut
semsetinya atau yang sebiasanya.Pembinaan moral dirumah tangga misalnya harus
dilakukan dari sejak anak masih kecil, sesuai dengan kemampuan dan
umurnya.Karena setiap anak lahir, belum mengerti mana uang benar dan mana yang
salah, dan belum tahu batas-batas dan ketentuan moral yang tidak berlaku dalam
lingkungannya.
Tanpa dibiasakan menanamkan sikap yang
dianggap baik untuk manumbuhkan moral, anak-anak akan dibesarkan tanpa mengenal
moral itu. Pembinaan moral pada anak dirumah tangga bukan dengan cara menyuruh
anak menghapalkan rumusan tentang baik dan buruk, melainkan harus dibiasakan.
Zakiah Darajat mangatakan, moral bukanlah suatu pelajaran yang dapat dicapai
dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup bermoral dari sejak keci.Moral
itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian dan tidak sebaliknya.Seperti halnya
rumah tangga, sekolahpun dapat mengambil peranan yang penting dalam pembinaan
moral anak didik.Hendaknya dapat diusahakan agar sekolah menjadi lapangan baik
bagi pertumuhan dan perkembangan mental dan moral anak didik.
Di samping
tempat pemberian pengetahuan, pengembangan bakat dan kecerdasan. Dengan kata
lain, supaya sekolah merupakan lapangan sosial bagi anak-anak, dimana
pertumbuhan mantal, moral dan sosial serta segala aspek kepribadian berjalan
dengan baik. Untuk menumbuhkan sikap moral yang demikian itu, pendidikan agama
diabaikan di sekolah, maka didikan agama yang diterima dirumah tidak akan
berkembang, bahkan mungkin terhalang. Selanjutnya masyarakat juga harus
mengambil peranan dalam pembinaan moral.Masyarakat yanglebih rusak moralnya
perelu segera diperbaiki dan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan
orang-orang terdekat dengan kita.Karena kerusakan masyarakat itu sangat besar
pengaruhnya dalam pembinaan moral anak-anak.
Terjadinya
kerusakan moral dikalangan pelajar dan generasi muda sebagaimana disebutakan
diatas, karena tidak efektifnnya keluarga, sekolah dan masyarakat dalam
pembinaan moral.Bahkan ketiga lembaga tersebut satu dan lainnya saling bertolak
belakang, tidak seirama, dan tidak kondusif bagi pembinaan moral.
3. Dasarnya
harus budaya materialistis, hedonistis dan sekularistis.
Sekarang ini
sering kita dengar dari radio atau bacaan dari surat kabar tentang anak-anak
sekolah menengah yang ditemukan oleh gurunya atau polisi mengantongi obat-obat,
gambar-gambar cabul, alat-alat kotrasepsi seperti kondom dan benda-banda tajam.
Semua alat-alat tersebut biasanya digunakan untuk hal-hal yang dapat merusak
moral.Namun, gejala penyimpangan tersebut terjadi karena pola hidup yang
semata-mata mengejar kepuasan materi, kesenangan hawa nafsu dan tidak
mengindahkan nilai-nilai agama.Timbulnya sikap tersebut tidak bisa dilepaskan
dari derasnya arus budaya matrealistis, hedonistis dan sekularistis yang
disalurkan melalui tulisan-tulisan, bacaan-bacaan, lukisan-lukisan,
siaran-siaran, pertunjukan-prtunjukan dan sebagainya.Penyaluran arus budaya
yang demikian itu didukung oleh para penyandang modal yang semata-mata mengeruk
keuntungan material dan memanfaatkan kecenderungan para remaja, tanpa
memperhatikan dampaknya bagi kerusakan moral.Derasnya arus budaya yang demikian
diduga termasuk faktor yang paling besar andilnya dalam menghancurkan moral
para remaja dan generasi muda umumnya.
4. Belum
adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari pemerintah.
Pemerintah
yang diketahui memiliki kekuasaan (power), uang, teknologi, sumber daya manusia
dan sebagainya tampaknya belum menunjukan kemauan yang sungguh-sunguh untuk
melakuka pembinaan moral bangsa.Hal yang demikian semaikin diperparah lagi oleh
adanya ulah sebagian elit penguasa yang semata-mata mengejar kedudukan,
peluang, kekayaan dan sebagainya dengan cara-cara tidak mendidik, seperti
korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga kini belum adanya tanda-tanda untuk
hilang.
Mereka asik
memperebutkan kekuasaan, mareri dan sebagainya dengan cara-cara tidak terpuji
itu, dengan tidak memperhitungkan dampaknya bagi kerusakan moral bangsa. Bangsa
jadi ikut-ikutan, tidak mau mendengarkan lagi apa yang disarankan dan
dianjurkan pemerintah, karena secara moral mereka sudah kehiangan daya
efektifitasnya.
Sikap
sebagian elit penguasa yang demikian itu semakin memperparah moral bangsa, dan
sudah waktunya dihentikan.Kekuasaan, uang, teknologi dan sumber daya yang
dimiliki pemerintah seharusnya digunakan untuk merumuskan konsep pembinaan
moral bangsa dan aplikasinya secara bersungguh-sungguh dan berkesinambungan.
Beberapa faktor lain yang menyebabkan menurunnya
moral dan etika generasi muda saat ini adalah:
a. Salah pergaulan,
apabila kita salah memilih pergaulan kita juga bisa ikut-ikutan untuk melakukan hal yang baik.
b. Orang
tua yang kurang perhatian, apabila orang tua kuran memperhatikan anaknya,
bisa-bisa anaknya merasa tidak nyaman berada di rumah dan selalu keluar rumah.
Hal ini bisa menyebabkan remaja terkena pergaulan bebas.
c. Ingin
mengikuti trend, bisa saja awalmya para remaja merokok adalah ingin terlihat
keren, padahal hal itu sama sekali tidak benar. Lalu kalu sudah mencoba merokok
dia juga akan mencoba hal-hal yang lainnya seperti narkoba dan seks bebas.
d. Himpitan
ekonomi yang membuat para remaja stress dan butuh tempatpelarian.
2.4. SOLUSI UNTUK MENGATASI PERUBAHAN
MORAL DAN ETIKA
Ada beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang
ada pada generasi penerus pada saat ini, diantaranya adalah
1.Untuk meghindari salah pergaulan,
kita harus pandai memilah dan memilih teman dekat. Karena pergaulan akan sangat
berpengaruh terhadap etika, moral dan kepribadian seseorang.
2.Peran orang tua sangat penting
dalam pembentukan karakter seseorang, terutama dalam mengenalkan pendidikan
agama sejak dini. Perhatian dari orang tua juga sangat penting. Karena pada
banyak kasus, kurangnya perhatian orang tua dapat menyebabkan dampak buruk pada
sikap anak.
3.Memperluas wawasan dan pengetahuan akan
sangat berguna untuk menyaring pengaruh buruk dari lingkungan, misalnya
kebiasaan merokok. Dewasa ini, orang-orang menganggap bahwa merokok
meningkatkan kepercayaan diri dalam pergaulan. Padahal jika dilihat dari sisi
kesehatan, merokok dapat menyebabkan banyak penyakit, baik pada perokok aktif
maupun pasif. Sehingga kebiasaan ini tidak hanya akan mempengaruhi dirinya
sendiri, melainkan juga orang-orang di sekelilingnya.
4. Diadakannya pembinaan moral
dan akhlak, diharapkan, dengan bekal pembinaan moral dan akhlak yang baik dan
kuat, mereka nantinya tidak mudah terjerumus dipengaruhi hal yang negatif lagi.
5. Meningkatkan iman dan takwa
dengan cara bersyukur, bersabar, dan beramal
soleha
6. Melakukan kegiatan-kegiatan
yang sifatnya positif, seperti ikut dalam suatu perkumpulan remaja masjid, ikut
pengajian-pengajian rutin, pagelaran seni, serta olahraga, karena hal tersebut
juga dapat meminimalkan untuk seorang anak terjun kedalam kegiatan0kegiatan
yang sifatnya mubadir (sia-sia), semua jenis kegiatan rutin,selama kegiatan
tersebut bersifat positif serta dapat juga untuk mengukir prestasi.
“FILSAFAT
PANCASILA”
A. PENGERTIAN
FILSAFAT
Secara etimologis istilah ”filsafat“ atau dalam bahasa
Inggrisnya “philosophi”adalah berasal dari bahasa Yunani “philosophia” yang
secara lazim diterjemahkan sebagai “cinta kearifan” kata philosophia tersebut
berasal dari kata “philos” (pilia, cinta) dan “sophia” (kearifan).
Berdasarkan pengertian bahasa tersebut filsafat berarti cinta kearifan.
Kata kearifan bisa juga berarti “wisdom” atau kebijaksanaan
sehingga filsafat bisa juga berarti cinta kebijaksanaan. Berdasarkan makna
kata tersebut maka mempelajari filsafat berarti merupakan upaya manusia
untuk mencari kebijaksanaan hidup yang nantinya bisa menjadi konsep kebijakan
hidup yang bermanfaat bagi peradaban manusia.
Sesungguhnya nilai ajaran filsafat telah berkembang,
terutama di wilayah Timur Tengah sejak sekitar 6000-600 SM; juga di Mesir dan
sekitar sungai Tigris dan Eufrat sekitar 5000-1000 sM; daerah Palestina/Israel
sebagai doktrine Yahudi sekitar 4000-1000 SM (Radhakrishnan, et al. 1953: 11;
Avey 1961:3-7). Juga di India sekitar 3000-1000 SM, sebagaimana juga di China
sekitar 3000-500 SM. Nilai filsafat berwujud kebenaran sedalam-dalamnya,
bersifat fundamental, universal dan hakiki, karenanya dijadikan filsafat hidup
oleh pemikir dan penganutnya.
Pada umunya terdapat dua pengertian filsafat,
yaitu filsafat dalam arti proses, dan filsafat dalam arti produk atau hasil.
Pancasila dapat di golongkan sebagai filsafat dalam arti produk, filsafat
pancasila sebagai pandangan hidup maupun filsafat pancasila dalam arti praktis.
Oleh karena itu, berarti pancasila memiliki fungsi dan peranan sebagai pedoman
dan pegangan dalam bersikap, bertingkah laku, dan perbuatan dalam kehidupan
sehari hari dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara di manapun mereka
berada.
B. PENGERTIAN
PANCASILA
Pancasila merupakan salah satu filsafat yang merupakan
hasil dari pencerminan nilai-nilai luhur dan budaya bangsa indonesia yang
terkandung 5 isi di dalamnya, yaitu satu, ketuhanan yang maha esa. Dua,
kemanusiaan yang adil dan beradab. Tiga, persatuan indonesia. Empat, kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebikjasanaan dan permusayawaratan/perwakilan. Lima,
keadilan bagi seluruh rakyat indonesia.
Secara historis pancasila muncul pada tanggal 01 Juni
1945 yang pada saat itu presiden Ir. Soekarno berpidato tanpa teks mengenai
rumusan Pancasila sebagai Dasar Negara. Kemudian, Pada tanggal 17 Agustus 1945
Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, keesokan harinya 18 Agustus 1945
disahkanlah UUD 1945 termasuk Pembukaannya dimana didalamnya terdapat rumusan
lima Prinsip sebagai Dasar Negara yang kemudian dikenal dengan nama Pancasila.
Sejak saat itulah Pancasila menjadi Bahasa Indonesia
yang umum. Jadi walaupun pada Alinea 4 Pembukaan UUD 45 tidak termuat istilah
Pancasila namun yang dimaksud dasar Negara RI adalah disebut istilah Pancasila
hal ini didasarkan pada interprestasi (penjabaran) historis terutama dalam
rangka pembentukan Rumusan Dasar Negara.
C. PENGERTIAN
FILSAFAT PANCASILA
Filsafat Pancasila secara umum adalah hasil
berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap,
dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai)
yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai
bagi bangsa Indonesia. Filsafat pancasila mempunyai tujuan yang sesuai dengan
dasar filsafat tersebut. Pancasila dengan dasar sebagai pandangan hidup bangsa
dan dasar filsafat negara, maka tujuan filsafat pancasila secara umum adalah
untuk menandingi filsafat komunis dan filsafat liberalis, tujuan ini berhasil
atau tidaknya tergantung dari ketangguhan pancasila yang di dukung oleh
penalaran kefilsafatan.
Tujuan khusus filsafat Pancasila yaitu untuk memahami
dan menjelaskan lima prinsip kehidupan manusia dalam bermasyarakat dan
bernegara, mengajukan kritik dan menilai prinsip tersebut, menemukan hakikatnya
secara manusiawi serta mengatur semuanya itu dalam bentuk yang sistematik sebagai
pandangan dunia.
D. PENGERTIAN
PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT
Pancasila yang terdiri dari atas lima sila pada
hakikatnya merupakan sistem filsafat. Yang dimaksud dengan sistem adalah suatu
kesatuan bagian-bagian yang saling bekerja sama untuk satu tujuan tertentu dan
secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh.
Pancasila yang terdiri atas bagian-bagian yaitu
sila-sila pancasila setiap sila pada hakikatnya merupakan suatu asa sendiri.
Dasar filsafat Negara Indonesia terdiri atas lima sila yang masing-masing
merupakan suatu asas peradaban. Sila-sila pancasila yang merupakan sistem
filsafat pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan organis. Antara sila-sila
pancasila itu saling berkaitan, saling berhubungan bahkan saling
mengkualifikasi. Secara demikian ini maka pancasila pada hakikatnya merupakan
sistem, dalam pengertian bahwa bagian sila-silanya saling berhubungan secara
erat hingga membentuk suatu struktur yang menyeluruh.
Pancasila sebagai suatu sistem juga dapat dipahami
dari pemikiran dasar yang terkandung dalam pancasila, yaitu pemikiran tentang
manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa dengan dirinya sendiri,
dengan sesama manusia, dengan masyarakat bangsa yang nilai-nilainya telah
dimiliki oleh bangsa Indonesia. Dengan demikian Pancasila merupakan suatu
sistem dalam pengertian kefilsafatan sebagaimana sistem filsafat lainnya antara
lain matrealisme, idealisme, rasioanlisme, liberalisme, sosialisme dan
sebagainya.
A. KARAKTERISTIK
SISTEM FILSAFAT PANCASILA
Sebagai filsafat, Pancasila memiliki karakteristik
sistem filsafat tersendiri yang berbeda dengan filsafat lainnya, yaitu
Sila-sila Pancasila merupakan satu-kesatuan sistem yang bulat dan utuh (sebagai
suatu totalitas).
1. Aspek Ontologis Pancasila
Dasar-dasar ontologis Pancasila menunjukkan secara
jelas bahwa Pancasila itu benar-benar ada dalam realitas dengan identitas dan
entitas (satuan yang berwujud) yang jelas. Melalui tinjauan filsafat, dasar
ontologis Pancasila mengungkap status istilah yang digunakan, isi dan susunan
sila-sila, tata hubungan, serta kedudukannya. Dasar ontologis Pancasila pada
hakekatnya adalah manusia yang memiliki hakekat mutlak mono-pluralis. Manusia
Indonesia menjadi dasar adanya Pancasila. Manusia Indonesia sebagai pendukung
pokok sila-sila Pancasila secara ontologis memiliki hal-hal yang mutlak, yaitu
terdiri atas susunan kodrat raga dan jiwa, jasmani dan rohani, sifat kodrat
manusia sebagai makhluk individu dan sosial, serta kedudukan kodrat manusia
sebagai makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha
Esa.
Pancasila amat bergantung pada manusia Indonesia.
Selain ditemukan adanya manusia Indonesia sebagai pendukung pokok Pancasila,
secara ontologis, realitas yang menjadikan sifat-sifat melekat dan dimiliki
Pancasila dapat diungkap sehingga identitas dan entitas Pancasila itu menjadi
sangat jelas. Jika ditinjau menurut sejarah asal-usul pembentukannya, Pancasila
memenuhi syarat sebagai dasar filsafat negara. Ada empat macam sebab (causa)
yang menurut Notonagoro dapat digunakan untuk menetapkan Pancasila sebagai
Dasar Filsafat Negara, yaitu sebab berupa materi (causa material), sebab
berupa bentuk (causa formalis), sebab berupa tujuan (causa finalis),dan
sebab berupa asal mula karya (causa eficient).
Selanjutnya Pancasila sebagai dasar filsafat negara
Republik Indonesia memiliki susunan lima sila yang merupakan suatu persatuan
dan kesatuan serta mempunyai sifat dasar kesatuan yang mutlak yaitu berupa
sifat kodrat monodualis, sebagai makhluk individu sekaligus juga sebagai makluk
sosial, serta kedudukannya sebagai makluk pribadi yang berdiri sendiri juga
sekaligus sebagai makhluk Tuhan. Konsekuensinya segala aspek dalam
penyelenggaraan negara diliputi oleh nilai-nilai Pancasila yang merupakan
suatu kesatuan yang utuh yang memiliki sifat dasar yang mutlak berupa sifat
kodrat manusia yang monodualis tersebut.
Kemudian seluruh nilai-nilai Pancasila tersebut
menjadi dasar rangka dan jiwa bagi bangsa Indonesia. Hal ini berarti bahwa
dalam setiap aspek penyelenggaraan negara harus dijabarkan dan bersumberkan
pada nilai-nilai Pancasila, seperti bentuk negara, sifat negara, tujuan negara,
tugas dan kewajiban negara dan warga negara, sistem hukum negara, moral negara
dan segala aspek penyelenggaraan negara lainnya. Hal yang sama juga berlaku
dalam konteks negara Indonesia, Pancasila adalah filsafat negara dan pendukung
pokok negara adalah rakyat (manusia).
2. Aspek Epistemologis
Pancasila
Epistemologis Pancasila terkait dengan sumber dasar
pengetahuan Pancasila. Eksistensi Pancasila dibangun sebagai abstraksi dan
penyederhanaan terhadap realitas yang ada dalam masyarakat bangsa Indonesia
dengan lingkungan yang heterogen, multikultur, dan multietnik dengan cara
menggali nilai-nilai yang memiliki kemiripan dan kesamaan untuk memecahkan
masalah yang dihadapi masyarakat bangsa Indonesia.
Masalah-masalah yang dihadapi menyangkut keinginan
untuk mendapatkan pendidikan, kesejahteraan, perdamaian, dan ketentraman.
Pancasila itu lahir sebagai respon atau jawaban atas keadaan yang terjadi dan
dialami masyarakat bangsa Indonesia dan sekaligus merupakan harapan. Diharapkan
Pancasila menjadi cara yang efektif dalam memecahkan kesulitan hidup yang
dihadapi oleh masyarakat bangsa Indonesia.
Pancasila memiliki kebenaran korespondensi dari aspek epistemologis
sejauh sila-sila itu secara praktis didukung oleh realita yang dialami dan
dipraktekkan oleh manusia Indonesia. Pengetahuan Pancasila bersumber pada
manusia Indonesia dan lingkungannya. Pancasila merupakan pedoman atau dasar
bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas alam semesta, manusia,
masyarakat, bangsa dan negara tentang makna hidup serta sebagai dasar bagi
manusia dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan.
Epistemologis sosial Pancasila juga dicirikan dengan
adanya upaya masyarakat bangsa Indonesia yang berkeinginan untuk membebaskan
diri menjadi bangsa merdeka, bersatu, berdaulat dan berketuhanan Yang Maha Esa,
berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan Indonesia, berkerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta
ingin mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sumber pengetahuan Pancasila dapat ditelusuri melalui
sejarah terbentuknya Pancasila. Akar sila-sila Pancasila ada dan berpijak pada
nilai serta budaya masyarakat bangsa Indonesia. Nilai serta budaya masyarakat
bangsa Indonesia yang dapat diungkap mulai awal sejarah pada abad IV Masehi di
samping diambil dari nilai asli Indonesia juga diperkaya dengan dimasukkannya
nilai dan budaya dari luar Indonesia. Nilai-nilai dimaksud berasal dari agama
Hindu, Budha, Islam, serta nilai-nilai demokrasi yang dibawa dari Barat.
Berdasarkan realitas yang demikian maka dapat
dikatakan bahwa secara epistemologis pengetahuan Pancasila bersumber pada nilai
dan budaya tradisional dan modern, budaya asli dan campuran. Selain itu, sumber
historis itu, menurut tinjauan epistemologis, Pancasila mengakui kebenaran
pengetahuan yang bersumber dari wahyu atau agama serta kebenaran yang bersumber
pada akal pikiran manusia serta kebenaran yang bersifat empiris berdasarkan
pada pengalaman. Dengan sifatnya yang demikian maka pengetahuan Pancasila
mencerminkan adanya pemikiran masyarakat tradisional dan modern.
3. Aspek Aksiologis Pancasila
Aksiologi terkait erat dengan penelaahan atas nilai.
Dari aspek aksiologi, Pancasila tidak bisa dilepaskan dari manusia Indonesia
sebagai latar belakang, karena Pancasila bukan nilai yang ada dengan sendirinya
(given value) melainkan nilai yang diciptakan (created value)
oleh manusia Indonesia. Nilai-nilai dalam Pancasila hanya bisa dimengerti
dengan mengenal manusia Indonesia dan latar belakangnya. Pancasila mengandung
nilai, baik intrinsik maupun ekstrinsik atau instrumental. Nilai intrinsik
Pancasila adalah hasil perpaduan antara nilai asli milik bangsa Indonesia dan
nilai yang diambil dari budaya luar Indonesia, baik yang diserap pada saat
Indonesia memasuki masa sejarah abad IV Masehi, masa imperialis, maupun yang
diambil oleh para kaum cendekiawan Soekarno, Muhammad Hatta, Ki Hajar
Dewantara, dan para pejuang kemerdekaan lainnya yang mengambil nilai-nilai
modern saat belajar ke negara Belanda.
Kekhasan nilai yang melekat dalam Pancasila sebagai
nilai intrinsik terletak pada diakuinya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan,
persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial sebagai satu kesatuan. Kekhasan ini
yang membedakan Indonesia dari negara lain. Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan,
persatuan, kerakyatan, dan keadilan memiliki sifat umum universal. Karena
sifatnya yang universal, maka nilai-nilai itu tidak hanya milik manusia
Indonesia, melainkan manusia seluruh dunia. Pancasila sebagai nilai
instrumental mengandung imperatif dan menjadi arah bahwa dalam proses
mewujudkan cita-cita negara bangsa, seharusnya menyesuaikan dengan
sifat-sifat yang ada dalam nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan,
dan keadilan sosial.
Sebagai nilai instrumental, Pancasila tidak hanya
mencerminkan identitas manusia Indonesia, melainkan juga berfungsi sebagai cara
dalam mencapai tujuan, bahwa dalam mewujudkan cita-cita negara, bangsa
Indonesia menggunakan cara-cara yang berketuhanan, berkemanusiaan yang adil dan
beradab, berpersatuan, berkerakyatan yang menghargai musyawarah dalam mencapai
mufakat, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila juga
mencerminkan nilai realitas dan idealitas. Pancasila mencerminkan nilai
realitas, karena di dalam sila-sila Pancasila berisi nilai yang sudah
dipraktekkan dalam hidup sehari-hari oleh bangsa Indonesia. Di samping
mengandung nilai realitas, sila-sila Pancasila berisi nilai-nilai idealitas,
yaitu nilai yang diinginkan untuk dicapai.
Secara aksiologis, bangsa Indonesia merupakan
pendukung nilai-nilai Pancasila (subcriber of values Pancasila). Bangsa
Indonesia yang berketuhanan, yang berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang
berkerakyatan dan yang berkeadilan sosial. Sebagai pendukung nilai, bangsa
Indonesia itulah yang menghargai, mengakui, menerima Pancasila sebagai sesuatu
yang bernilai. Pengakuan, penghargaan, dan penerimaan Pancasila sebagai sesuatu
yang bernilai itu akan tampak menggejala dalam sikap, tingkah laku, dan
perbuatan bangsa Indonesia. Kalau pengakuan, penerimaan atau penghargaan itu
telah menggejala dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan manusia dan bangsa
Indonesia, maka bangsa Indonesia dalam hal ini sekaligus adalah pengembannya
dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan manusia Indonesia.
B. HAKEKAT SILA-SILA PANCASILA
Kata ‘hakekat’ dapat diartikan sebagai suatu inti yang
terdalam dari segala sesuatu yang terdiri dari sejumlah unsur tertentu dan yang
mewujudkan sesuatu itu, sehingga terpisah dengan sesuatu lain dan bersifat
mutlak. Terkait dengan hakekat sila-sila Pancasila, pengertian kata ‘hakekat’
dapat dipahami dalam tiga kategori, yaitu :
1. Hakekat abstrak yang disebut
juga sebagai hakekat jenis atau hakekat umum yang mengandung unsur-unsur yang
sama, tetap dan tidak berubah. Hakekat abstrak sila-sila Pancasila menunjuk
pada kata: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Menurut
bentuknya, Pancasila terdiri atas kata-kata dasar Tuhan, manusia, satu, rakyat,
dan adil yang dibubuhi awalan dan akhiran, berupa ke dan an (sila I, II, IV,
dan V), sedangkan yang satu berupa per dan an (sila III).
2. Hakekat pribadi sebagai
hakekat yang memiliki sifat khusus, artinya terikat kepada barang sesuatu.
Hakekat pribadi Pancasila menunjuk pada ciri-ciri khusus sila-sila Pancasila
yang ada pada bangsa Indonesia, yaitu adat istiadat, nilai-nilai agama,
nilai-nilai kebudayaan, sifat dan karakter yang melekat pada bangsa Indonesia
sehingga membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa yang lain di dunia.
Sifat-sifat dan ciri-ciri ini tetap melekat dan ada pada bangsa Indonesia.
Hakekat pribadi inilah yang realisasinya sering disebut sebagai kepribadian,
dan totalitas kongkritnya disebut kepribadian Pancasila.
3. Hakekat kongkrit yang
bersifat nyata sebagaimana dalam kenyataannya. Hakekat kongkrit Pancasila
terletak pada fungsi Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Dalam
realisasinya, Pancasila adalah pedoman praktis, yaitu dalam wujud pelaksanaan
praktis dalam kehidupan negara, bangsa dan negara Indonesia yang sesuai dengan
kenyataan sehari-hari, tempat, keadaan dan waktu. Dengan realisasi hakekat
kongkrit itu, pelaksanaan Pancasila dalam kehidupan negara setiap hari bersifat
dinamis, antisipatif, dan sesuai dengan perkembangan waktu, keadaan, serta
perubahan jaman.
C. KESATUAN SILA-SILA PANCASILA SEBAGAI
SUATU SISTEM FILSAFAT
Pancasila yang berisi lima sila, menurut Notonagoro
(1967: 32) merupakan satu kesatuan utuh. Kesatuan sila-sila Pancasila tersebut,
diuraikan sebagai berikut :
1. Kesatuan Sila-Sila
Pancasila dalam struktur yang bersifat hirarkis dan
berbentuk piramidal. Susunan secara hirarkis mengandung pengertian bahwa
sila-sila Pancasila memiliki tingkatan berjenjang, yaitu sila yang ada di atas
menjadi landasan sila yang ada di bawahnya. Sila pertama melandasi sila kedua,
sila kedua melandasi sila ketiga, sila ketiga melandasi sila keempat, dan sila
keempat melandasi sila kelima.
Dalam susunan hirarkis dan piramidal, sila Ketuhanan
Yang Maha Esa menjadi basis kemanusiaan, persatuan Indonesia, kerakyatan dan
keadilan sosial. Sebaliknya Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang
berkemanusiaan, yang membangun, memelihara dan mengembangkan persatuan
Indonesia, yang berkerakyatan dan berkeadilan sosial. Demikian selanjutnya,
sehingga tiap-tiap sila di dalamnya mengandung sila-sila lainnya.
Secara ontologis, kesatuan sila-sila Pancasila sebagai
suatu sistem yang bersifat hirarkis dan berbentuk piramidal tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut, hkekat adanya Tuhan adalah ada karena dirinya
sendiri, Tuhan sebagai causa prima. Oleh karena itu segala sesuatu yang ada
termasuk manusia ada karena diciptakan Tuhan atau manusia ada sebagai akibat adanya
Tuhan (sila pertama). Adapun manusia adalah sebagai subyek pendukung pokok
negara, karena negara adalah lembaga kemanusiaan, negara adalah sebagai
persekutuan hidup bersama yang anggotanya adalah manusia (sila kedua). Dengan
demikian, negara adalah sebagai akibat adanya manusia yang bersatu (sila
ketiga). Selanjutnya terbentuklah persekutuan hidup bersama yang disebut
rakyat. Rakyat pada hakekatnya merupakan unsur negara di samping wilayah dan
pemerintah. Rakyat adalah totalitas individu-individu dalam negara yang bersatu
(sila keempat). Adapun keadilan yang pada hakekatnya merupakan tujuan bersama
atau keadilan sosial (sila kelima) pada hakekatnya sebagai tujuan dari lembaga
hidup bersama yang disebut negara.
2. Hubungan Kesatuan Sila-Sila
Pancasila yang saling mengisi dan saling
mengkualifikasi. Sila-sila Pancasila sebagai kesatuan dapat dirumuskan pula
dalam hubungannya saling mengisi atau mengkualifikasi dalam kerangka hubungan
hirarkis piramidal seperti di atas. Dalam rumusan ini, tiap-tiap sila
mengandung empat sila lainnya atau dikualifikasi oleh empat sila lainnya. Untuk
kelengkapan hubungan kesatuan keseluruhan sila-sila Pancasila yang dipersatukan
dengan rumusan hirarkis piramidal tersebut, berikut disampaikan kesatuan
sila-sila Pancasila yang saling mengisi dan saling mengkualifikasi.
a. Sila pertama; Ketuhanan Yang
Maha Esa adalah Ketuhanan yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang
berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia;
b. Sila kedua; kemanusiaan yang
adil dan beradab adalah kemanusiaan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, yang
berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/ perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia;
c. Sila ketiga; persatuan
Indonesia adalah persatuan yang ber-Ketuhanan YME, berkemanusiaan yang adil dan
beradab, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia;
d. Sila keempat; kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, adalah
kerakyatan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan
beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang berkeadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia;
e. Sila kelima; keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia adalah keadilan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa,
berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
3. Kelima Sila Pancasila Merupakan Satu Kesatuan
Pancasila susunannya adalah majemuk tunggal (merupakan
satu kesatuan yang bersifat organis), yaitu :
a. Terdiri dari bagian-bagian
yang tidak terpisahkan.
b. Masing-masing bagian
mempunyai fungsi dan kedudukan tersendiri,
c. Meskipun berbeda tidak
saling bertentangan,akan tetapi saling melengkapi,
d. Bersatu untuk mewujudkannya secara
keseluruhan,
e. Keseluruhan membina
bagian-bagian,
f. Tidak boleh satu
silapun ditiadakan, melainkan merupakan satu kesatuan.
Bentuk susunannya adalah hirarkis piramidal (kesatuan
bertingkat dimana tiap sila dimuka sila lainnya merupakan basis).
Pancasila yang bentuk susunannya hirarkis-piramidal adalah sebagai berikut :
a. Sila Pertama; meliputi dan
menjiwai sila kedua, sila ketiga, sila keempat dan sila kelima.
b. Sila Kedua : diliputi
dan dijiwai sila pertama, meliputi dan menjiwai sila ketiga, sila
keempat dan sila kelima.
c. Sila Ketiga : diliputi
dan dijiwai sila pertama, sila kedua, meliputi sila keempat dan sila
kelima.
d. Sila Keempat: diliputi dan dijiwai
sila pertama, sila kedua, sila ketiga dan meliputi sila kelima.
e. Sila Kelima :
diliputi dan dijiwai oleh seluruh sila-sila.
“FILSAFAT KARYA ILMIAH”
A. Filosofi
Metode Penelitian
Setiap kegiatan pengembangan ilmu
pengetahuan selalu berlandaskan filosofi. Hakikat filosofi ialah kebenaran yang
diperoleh melalui berpikir logis, sistematis dan metodis. Kebenaran merupakan
sesuatu yang didasarkan pada hal yang nyata yang sesuai dengan logika sehat
manusia. Sedangkan berpikir logis merupakan berpikir secara bernalar menurut logika
yang diakui secara ilmu pengetahuan dimana digunakan untuk menyelesaikan suatu
masalah yang terjadi dalam suatu kegiatan sosial masyarakat. Sistematis adalah
berpikir dan berbuat yang beristem, yaitu beruntut dan tidak tumpang tindih.
Metodis adalah berpikir dan berbuat sesuai dengan metode tertentu yang diakui
kebenarannya.
Penelitian merupakan suatu bentuk
kegiatan dari proses sosial yang disusun secara sistematis, logis dan metodes
dalam kaitannya untuk menemukan suatu kebenaran dalam proses sosial tersebut.
Karakteristik dari Metode ilmiah, antara lain:
1. Sisetmatis,
artinya bahasan tersusun secara teratur, berurutan menurut sistem.
2. Logis,
artinya seuai dengan logika, masuk akal benar menurut penalaran.
3. Empiris,
artinya diperoleh dari pengalaman, penemuan dan pengamatan.
4. Metodis,
artinya berdasarkan metode yang kebenarannya diakui oleh penalaran.
5. Umum,
artinya mengeneralisasi meliputi keseluruhan tidak menyangkut yang khusus saja.
6. Akumulatif,
artinya bertambah secara terus menerus, makin berkembang dan dinamis.
Dasar penelitian sosial ini kaitannya
dengan mengapa dilakukan suatu penelitian atau mengapa terjadi suatu proses
meneliti?
1. Keingintahuan
(Curiousity)
Masyarakat berkembang demikian halnya dengan ilmu sosial juga berkembang.
Namun, perkembangannya belum dapat ditentukan secara pasti sehingga perlu dilakukan
suatu upaya untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Hal yang mendorong manusia
untuk mendapatkan pengetahuan ialah hasrat keingintahuannya (Curiousity).
2. Telah
Terjadi Sekulerisasi Alam
Hal yang dimaksud dalam hal ini adalah terjadi suatu perubahan dalam alam
atau berkaitan dengan faktor gangguan yang terjadi pada alam.
3. Ditemukannya
berbagai cara utnuk mencari kebenaran
Ada berbagai cara untuk mencari kebenaran yang dapat dirumuskan sebagai
berikut ini: Kebetulan, Trial dan Error, Otoritas, Berdasarkan pengalaman atau
berpikir kritis dan
4. Metode
penyelidikan ilmiah
Dalam kegiatan penelitian dikenal dua macam pola berpikir yakni:
a. Pola
Berpikir Induktif
Pola berpikir induktif merupakan suatu pola dari proses menemukan teori
baru. Atau suatu proses berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum
dari kasus yang bersifat khusus.
b. Pola
berpikir Deduktif
Pola berpikir deduktif merupakan sbuah pola dari penerapan suatu teori.
Atau suatu proses berpikir untuk menarik kesimpulan bersifat khusus dari
pernyataan yang bersifat umum.
Penelitan berasal dari kata teliti yang
artinya mempelajari sesuatu secara teliti dan mendalam. Kegiatan ”meneliti” dan
mencoba dengan kemungkinan gagal (trial and error).
Dalam bahasa Inggris penelitian dikenal dengan istilah research. Definisi Research adalah: systematic
investigation to establish facts atau a search for knowledge.
Jadi titik tekan suatu penelitian adalah menemukan secara sistematis
fakta-fakta untuk menyusun pengetahuan. Fakta artinya “a concept whose truth
can be proved”, suatu konsep yang membuktikan suatu kebenaran. Sedangkan
pengetahuan artinya “the psychological result of perception and learning and
reasoning”, buah dari persepsi, belajar dan pertimbangan yang sehat secara
akal budi.
Kesimpulannya penelitian adalah proses
mencari bukti-bukti kebenaran lewat persepsi, belajar dan berfikir sehingga
tertanamlah dalam jiwa kita suatu keyakinan yang kuat.
Penelitian Ilmiah adalah suatu proses
pemecahan masalah dengan menggunakan prosedur yang sistematis, logis, dan
empiris sehingga akan ditemukan suatu kebenaran. Hasil penelitian ilmiah adalah
kebenaran atau pengetahuan ilmiah.
Penelitian ilmiah yang selanjutnya
disebut penelitian atau riset (research) memiliki ciri sistematis, logis, dan
empiris. Sistematis artinya memiliki metode yang bersistem yakni memiliki tata
cara dan tata urutan serta bentuk kegiatan yang jelas dan runtut. Logis artinya
menggunakan perinsip yang dapat diterima akal. Empiris artinya berdasarkan
realitas atau kenyataan.
Jadi penelitian adalah proses yang
sistematis, logis, dan empiris untuk mencari kebenaran ilmiah atau pengetahuan
ilmiah.
Adapun ciri-ciri penelitian ilmiah
secara ringkas adalah sistematis, logis dan empiris. Dan lengkapnya Ciri-ciri
penelitian ilmiah adalah sebagai berikut.
1. Purposiveness
: fokus tujuan yang jelas;
2. Rigor
: teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik.
3. Testibility
: prosedur pengujian hipotesis jelas;
4. Replicability
: Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis;
5. Objectivity
: Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan emosional;
6. Generalizability
: Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna;
7. Precision
: Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat
dilihat;
8. Parsimony
: Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.
9. Kaidah
Epistemologis. Epistemologi adalah teori metafisis tentang pengetahuan.
Epistemologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai
pengetahuan. Dalam kerangka epistemology, penelitian ilmiah berkedudukan di
dalam metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan salah satu cabang bahasan
epistemology.
Mari kita lihat struktur metode ilmiah
atau langkah-langkah kegiatan berpikir ilmiah:
1) penemuan
atau penentuan masalah secara sadar
2) perumusan
kerangka permasalahan
3) menyususn
kerangka penjelasan
4) pengajuan
hipotesis
5) pengujian
hipotesis
6) deduksi
dari hipotesis
7) pembuktian
dari hipotesis
8) penerimaan
hipotesis menjadi teori ilmiah
Diantara kedelapan kategori di atas
manakah yang termasuk penelitian ? Jawabannya, secara substansial, semuanya.
Semuanya termasuk suatu penelitian. Adapun penelitian sebagaiamana yang
didefinisikan pada penjelasan tentang ciri-ciri penelitan, maka terdapat pada
point (5) dan (6) pengujian dan pembuktian hipotesis. Jadi meneliti itu
sebenarnya menguji hipotesis. Hipotesis diturunkan, diperoleh, diunduh,
disusun, dibangun, di atas khazanah teori-teori ilmiah. Kalau demikian
seseorang perlu membaca banyak, sebelum meneliti.
B. Struktur
Penelitian dan Penulisan Ilmiah
Apabila mendengar kata “penelitian”,
orang sering membayangkan suatu kesibukan di laboratorium. Seorang ahli sedang
asyik mengamati reaksi zat-zat yang dicampur di tabung reaksi, atau dalam labu
didih, tabung Erlenmeyer atau alat-alat yang serba rumit. Dengan demikian maka
penelitian adalah suatu kegiatan monopoli para ahli.
Memang apa yang dibayangkan orang-orang
seperti disebutkan ini ada betulnya, tetapi tidak seluruhnya betul. Orang-orang
di laboratorium memang sedang melaksanakan penelitian, penyelidikan di dalam
bidang Ilmu Pengetahuan Alam. Akan tetapi penelitian bukan hanya boleh dan
dapat dilakukan di bidang Ilmu Pengetahuan Alam saja, penelitian dapat
dilakukan di seluruh bidang ilmu.
Penelitian berasal dari bahasa inggris
yaitu re dan search berarti pencarian
kembali. Yang artinya penelitian merupakan proses pengumpulan informasi dengan
tujuan meningkatkan, memodifikasi atau mengembangkan sebuah penyelidikan atau
kelompok penyelidikan. Pada dasarnya riset atau penelitian adalah setiap proses
yang menghasilkan ilmu pengetahuan.
Menurut Emzir, penelitian pada dasarnya
adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah yang
dilakukan dengan menerapkan metode ilmiah. Tujuan usaha ilmiah adalah
untuk menjelaskan dan memprediksikan. Tujuan ini didasarkan pada asumsi bahwa
semua perilaku dan kejadian adalah beraturan dan bahwa semua akibat mempunyai
penyebab yang dapat diketahui. Kemajuan ke arah tujuan ini berhubungan dengan
pemerolehan pengetahuan dan pengembangan serta pengujian teori-teori.
Sedangkan menurut
Margono, penelitian adalah semua kegiatan pencarian, penyelidikan, dan
percobaan secara alamiah dalam suatu bidang tertentu, untuk mendapatkan
fakta-fakta atau prinsip-prinsip baru yang bertujuan untuk mendapatkan
pengertian baru dan menaikkan tigkat ilmu serta teknologi. Penelitian
merupakan sebuah metode untuk menemukan kebenaran yang juga merupakan sebuah
pemikiran kritis (critical thinking).
Dari beberapa pendapat diatas dapat
disimpulkan bahwa Penelitian (research) adalah cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti
kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional,
empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan
dengan cara-cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia.
Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indera manusia,
sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan.
Sistematis artinya, proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan
langkah-langkah yang tertentu yang bersifat logis.
Dalam kegiatan penelitian memang
mengandung kegiatan yang sulit dan melelahkan, tetapi penelitian mempunyai tujuan
yang hendak dicapai oleh peneliti. Beberapa tujuan penelitian diantaranya
adalah sebagai berikut.
a. Tujuan
penelitian adalah untuk memperoleh pengetahuan yang dapat menjawab berbagai
pertanyaan-pertanyaan atau dapat memecahkan suatu permasalahan.
b. Mengembangkan
dan menjelaskan. Dengan melakukan pengembangan dan usaha menjelaskan melalui
teori yang didukung fakta-fakta penunjang yang ada, peneliti akan dapat sampai
pada pemberian pernyataan sementara yang sering disebut hipotesis.
Bagi maestro penelitian ilmiah pada
hakikatnya merupakan operasionalisasi metode ilmiah dalam kegiatan keilmuan.
Demikian juga penulisan ilmiah pada dasarnya merupakan argumentasi penalaran
keilmuan yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan. Untuk itu mutlak diperlukan
penguasaan yang baik mengenai hakikat keilmuan agar dapat melakukan penelitian
dan sekaligus mengkomunikasikannya secara tertulis. Demikian juga bagi seorang
penulis ilmiah yang baik, tidak jadi masalah apakah hipotesis ditulis langsung
setelah perumusan masalah, asumsi atau prinsip, sebab dia tahu benar hakikat
dan fungsi unsur-unsur tersebut dalam keseluruhan struktur penulisan ilmiah.
Struktur penulisan ilmiah yang secara
logis dan kronologis mencerminkan kerangka penalaran ilmiah. Pembahasan ini
ditujukan bagi mereka yang sedang menulis tesis, disertasi, laporan penelitian
atau publikasi ilmiah lainnya, dengan harapan agar mereka lebih memahami logika
dan arsitektur penulisan ilmiah. Dengan mengenal kerangka berpikir filsafati
maka kita secara lebih mudah akan menguasai hal-hal yang bersifat teknis.
1. Pengajuan
Masalah
Langkah pertama dalam suatu penelitian
ilmiah adalah mengajukan masalah. Satu hal yang harus disadari bahwa pada
hakikatnya suatu masalah tidak pernah berdiri sendiri dan terisolasi dari
faktor-faktor lain. Selalu terdapat konstelasi yang merupakan latar belakang
dari suatu masalah tertentu. Secara operasional suatu gejala baru dapat disebut
masalah bila gejala itu terdapat dalam suatu situasi tertentu.
Dalam konstelasi yang bersifat
situsional inilah maka kita dapat mengidfentifikasikan objek yang menjadi
masalah. Identifikasi masalah merupakan suatu tahap permulaan dari penguasaan
masalah dimana suatu objek dalam suatu jalinan situasi tertentu dapat kita
kenali sebagai suatu masalah.
Ternyata identifikasi masalah memberikan
kepada kita sejumlah pertanyaan yang banyak sekali. Dalam kegiatan ilmiah
berlaku semacam asas bahwa bukan kuantitas jawaban yang menentukan mutu
keilmuan suatu penelitian melainkan kualitas jawabannya. Lebih baik sebuah
penelitian yang menghasilkan dua atau tiga hipotesis yang teruji dan
terandalkan dari pada sebuah penemuan yang kurang dapat dipertanggungjawabkan.
Ilmu merupakan pengetahuan ilmiah yang dikembangkan secara kumulatif di mana
setiap permasalahan dipecahkan tahap demi tahap dan sedikit demi sedikit.
Masalah ialah kesenjangan antara harapan
akan suatu yang seharusnya ada dengan kenyataan yang ada. Misalnya, kesenjangan
antara luapan jumlah lulusan SMA dengan harapan akan kemampuan Perguruan Tinggi
menampung lulusan itu.
Permasalahan harus dibatasi ruang
lingkupnya, pembatasan masalah merupakan upaya untuk untuk menetapkan
batas-batas permasalahan dengan jelas, yang memungkinkan kita untuk
mengidentifikasikan faktor mana saja yang termasuk ke dalam lingkup
permasalahan, dan faktor mana yang tidak.
Perumusan masalah merupakan upaya untuk
menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin kita
carikan jawabannya. Perumusan masalah dijabarkan dari identifikasi dan
pembatasan masalah, atau dengan katalain perumusan masalah merupakan pernyataan
yang lengkap dan terperinci mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan
diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah. Masalah yang
dirumuskan dengan baik, berarti sudah setengah dijawab. Perumusan masalah yang
baik bukan saja membantu memusatkan pikiran namun sekaligus mengarahkan juga
cara berpikir kita.
Bagi kita sendiri sebaiknya logika
berpikir ilmiah itulah yang didahulukan dan dengan demikian maka struktur
penulisannya mencerminkan alur jalan berpikir. Jika postulat, asumsi dan
prinsip dipergunakan dalam penyusunan kerangka teoritis dalam pengajuan
hipotesis maka ketiga pikiran dasar tersebut sebaiknya dinyatakan dalam bagian
kajian teoritis itulah diperlukan pernyataan secara tersurat mengenai
pikiran-pikiran dasar yang melandasi kerangka argumentasi kita.
2. Penyusunan
Kerangka Teoretis
Setelah masalah berhasil dirumuskan
dengan baik maka langkah kedua dalam metode ilmiah adalah mengajukan hipotesis.
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang
diajukan.
Hipotesis penelitian dirumuskan atas
dasar kerangka pikir yang merupakan jawaban sementara atas masalah yang
dirumuskan. Hipotesis merupakan pernyataan yang dibangun dari teori untuk
memprediksi hubungan antara konsep dalam suatu sistem. Hipotesis dapat
diartikan sebagai kesimpulan sementara terhadap masalah yang diajukan. Dalam
kegiatan penelitian, yang dapat menjadi sumber masalah adalah adanya
kesenjangan antara “yang seharusnya terjadi” dengan “yang sebenarnya terjadi”.
Cara ilmiah dalam memecahkan persoalan
pada hakikatnya adalah mempergunakan pengetahuan ilmiah sebagai dasar
argumentasi dalam mengkaji persoalan agar kita mendapatkan jawaban yang dapat
diandalkan. Hal ini berarti bahwa dalam menghadapi permasalahan yang diajukan
maka kita mempergunakan teori-teori ilmiah sebagai alat yang membantu kita
dalam menemukan pemecahan.
Agar sebuah kerangka teoritis dapat
meyakinkan maka argumuntasi yang disusun tersebut harus dapat memenuhi beberapa
syarat. Pertama, teori-teori yang dipergunakan dalam membangun
kerangka berpikir harus merupakan pilihan dari sejumlah teori yang dikuasai
secara lengkap dengan mencakup perkembangan-perkembangan terbaru.
Pengetahuan filsafati tentang suatu
teori adalah pengetahuan tentang pikiran-pikiran dasar yang melandasi teori
tersebut dalam bentuk postulat, asumsi atau prinsip yang sering kurang
mendapatkan perhatian dalam proses belajar mengajar. Kedua,
Analisis filsafati dari teori-teori keilmuan yang mendasari pengetahuan
tersebut dengan pembahasan eksplisit mengenai postulat, asumsi, dan prinsip
yang mendasarinya. Ketiga, mampu mengidentifikasikan masalah yang
timbul sekitar disiplin keilmuan tersebut.
Pada hakikatnya kerangka berpikir dalam
pengajuan hipotesis didasarkan pada argumentasi berpikir deduktif dengan
mempergunakan pengetahuan ilmiah, sebagai premis-premis dasarnya. Mempergunakan
pengetahuan ilmiah sebagai premis dasar dalam kerangka argumentasi akan
menjamin dua hal. Pertama, karena kebenaran pernyataan ilmiah telah
teruji lewat proses keilmuan maka kita merasa yakin bahwa kesimpulan yang
ditarik merupakan jawaban yang terandalkan. Kedua, dengan
mempergunakan pernyataan yang secara sah diakui sebagai pengetahuan ilmiah maka
pengetahuan baru yang ditarik secara deduktif akan bersifat konsisten dengan
tubuh pengetahuan yang telah disusun.
Kerangka teoritis suatu penelitian
dimulai dengan mengidentifikasi dan nengkaji berbagai teori yang relevan serta
diakhiri dengan pengajuan hipotesis. Bahwa produk akhir dari proses pengkajian
kerangka teoritis ini adalah perumusan hipotesis harus merupakan pangkal dan
tujuan dari seluruh analisis.
3. Metodologi
Penelitian
Metodologi berasal dari bahasa Yunani “metodos”
dan "logos," kata metodos terdiri dari dua
suku kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang
berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai
tujuan, dan logos artinya ilmu.
Metodologi penelitian pada dasarnya
merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan
tertentu. Setelah kita berhasil merumuskan hipotesis yang diturunkan
secara deduktif dari pengetahuan ilmiah yang relevan maka langkah berikutnya
adalah menguji hipotesis tersebut secara empiris. Artinya kita melakukan
verifikasi apakah pernyataan yang dikandung oleh hipotesis yang diajukan
tersebut didukung atau tidak oleh kenyataan yang bersifat faktual. Masalah yang
dihadapi dalam proses verifikasi ini adalah bagaimana prosedur dan cara dalam
pengumpulan dan analisis data agar kesimpulan yang ditarik memenuhi persyaratan
berpikir induktif. Penetapan prosedur dan cara ini disebut metodologi
penelitian yang pada hakikatnya merupakan persiapan sebelum verifikasi
dilakukan.
Metodologi adalah pengetahuan tentang
metode-metode, jadi metodologi penelitian adalah pengetahuan tentang berbagai
metode yang dipergunakan dalam penelitian. Setiap penelitian mempunyai metode
penelitian masing-masing dan metode penelitian tersebut ditetapkan berdasarkan
tujuan penelitian.
Pada hakikatnya proses verifikasi adalah
mengumpulkan dan menganalisis data dimana kesimpulan yang ditarik kemudian
dibandingkan dengan hipotesis untuk menentukan apakah hipotesis yang diajukan
tersebut ditolak atau diterima. Dengan demikian maka teknik-teknik yang
tergabung dalam metode penelitian harus dipilih yang bersifat cocok dengan
perumusan hipotesis.
4. Hasil
penelitian
Dalam membahas hasil penelitian tujuan
kita adalah membandingkan kesimpulan yang ditarik dari data yang telah
dikumpulkan dengan hipotesis yang diajukan. Secara sistematik dan terarah maka
data yang telah di kumpulkan diolah, deskripsikan, bandingkan dan evaluasi yang
semuanya diarahkan pada sebuah penarikan kesimpulan apakah data tersebut data
tersebut mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan.
Hasil penelitian dapat dilaporkan dalam
kegiatan sebagai berikut.
a. Menyatakan
variabel-variabel yang diteliti
b. Menyatakan
teknik analisis data
c. Mendeskripsikan
hasil analisis data
d. Memberikan
penafsiran terhadap kesimpulan analisis data
e. Menyimpulkan
pengujian hipotesis apakah ditolak atau diterima.
5. Ringkasan
dan Kesimpulan
Kesimpulan penelitian merupakan sintesis
dari keseluruhan aspek penelitian yang terdiri dari masalah, kerangka teoritis,
hipotesis, metodologi penelitian dan penemuan penelitian. Sintesis ini
membuahkan kesimpulan yang ditopang oleh suatu kajian yang bersifat terpadu dengan
meletakkan berbagai aspek penelitian dalam perspektif yang menyeluruh.
Kesimpulan dapat diperinci ke dalam langkah-langkah sebagai berikut.
a. Deskrizpsi
singkat mengenai masalah, kerangka teoritis, hipotesis, metodologi dan penemuan
penelitian.
b. Kesimpulan
penelitian yang merupakan sintesis berdasarkan keseluruhan aspek tersebut di
atas.
c. Pembahasan
kesimpulan penelitian dengan melakukan perbandingan terhadap penelitian lain
dan pengetahuan ilmiah yang relevan.
d. Mengkaji
implikasi penelitian.
e. Mengajukan
saran.
C. Teknik
Penulisan Ilmiah
Penulisan ilmiah adalah karya tulis yang
disusun oleh seorang penulis atau peneliti, berdasarkan hasil-hasil penelitian
ilmiah yang telah dilakukannya. Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua
aspek yaitu gaya penulisan dalam bentuk pernyataan ilmiah serta teknik notasi
dalam menyebutkan sumber dari pengetahuan ilmiah yang dipergunakan dalam
penulisan. Komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan tepat yang memungkinkan
proses penyampaian pesan yang bersifat reproduktif dan impersonal. Bahasa yang
dipergunakan harus jelas di mana pesan mengenai objek yang ingin
dikomunikasikan mengandung informasi yang disampaikan sedemikian rupa sehingga
si penerima betul-betul mengerti akan isi pesan yang disampaikan kepadanya.
Penulis ilmiah harus menggunakan bahasa
yang baik dan benar. Sebuah kalimat yang tidak bisa diidentifikasikan mana yang
merupakan subjek dan mana yang merupakan predikat serta hubungan yang terkait
antara subjek dan predikat kemungkinan besar akan merupakan informasi yang
tidak jelas. Dalam menulis karangan ilmiah penggunaan kata harus dilakukan
secara tepat artinya kita harus memilih kata-kata yang sesuai dengan pesan apa
yang ingin disampaikan.
Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya bahwa si penerima
pesan mendapatkan kopi yang benar-benar sama dengan prototipe yang disampaikan
sipemberi pesan, seperti fotokopi. Dalam komunikasi ilmiah tidak boleh terdapat
penafsiran yang lain selain isi yang dikandung oleh pesan tersebut, sedangkan
dalam komunikasi estetik sering terdapat penafsiran yang berbeda terhadap objek
komunikasi yang sama, yang disebabkan oleh penjiwaan yang berbeda terhadap
obyek estetik yang diungkapkan. Komunikasi ilmiah memang tidak ditujukan kepada
penjiwaan melainkan kepada penalaran dan oleh sebab itu harus dihindarkan
bentuk pernyataan yang tidak jelas atau bermakna jamak.
D. Teknik
Notasi Ilmiah
Pernyataan ilmiah yang kita pergunakan
dalam tulisan harus mencakup beberapa hal. Pertama, harus dapat kita
identifikasikan orang yang membuat pernyataan tersebut. Kedua, harus dapat kita
identifikasikan media komunikasi ilmiah dimana pernyataan itu disampaikan
apakah itu makalah, buku, seminar, lokakarya dan sebagainya. Ketiga, harus
dapat kita identifikasikan lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut
beserta tempat berdomisili dan waktu penerbitan itu dilakukan.
Tanda catatan kaki diletakkan di ujung
kaliamat yang kita kutip dengan mempergunakan angka arab yang di ketik naik
setengah spasi. Catatan kaki pada bab di beri nomor urut mulai dari angka 1
sampai habis dan diganti dengan nomor 1 kembali pada bab yang baru. Satu
kalimat mungkin terdiri dari beberapa catatan kaki sekiranya kalimat itu
terdiri dari beberapa kutipan. Dalam keadaan seperti ini maka tanda catatan
kaki diletakkan di ujung kalimat yang dikutip sebelum tanda baca penutup.
Sedangakan satu kalimat yang seluruhnya terdiri dari satu kutipan tanda catatan
kaki diletakkan sesudah tanda baca penutup kalimat. Contohnya:
Larrabee mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang dapat diandalkan1 sedangakan
Richter melihat ilmu sebagai sebuah metode2 dan Conant mengidentifikasikan
ilmu sebagai serangkaian konsep sebagai hasil dari pengamatan dan percobaan3.
Sekiranya kalimat diatas dijadikan
menjadi tiga buah kalimat yang masing-masing mengandung sebuah kutipan maka
tanda catatan kaki ditulis sesudah tanda baca penutup:
Larrabee mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang dapat diandalkan.1 sedangakan
Richter melihat ilmu sebagai sebuah metode.2 Pendapat lain
dikemukakan oleh Conant mengidentifikasikan ilmu sebagai serangkaian konsep
sebagai hasil dari pengamatan dan percobaan.3
“KUMPULAN
SOAL DAN JAWABAN”
A.
MANFAAT MAHASISWA BELAJAR FILSAFAT
1.
Apa yang di maksud
dengan Filsafat ( Ontologi )
Jawab :
Filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan
yang menggunakan logika, metode, dan sistem untuk mengkaji masalah umum dan mendasar
mengenai berbagai persoalan, seperti; pengetahuan, akal, pikiran, eksistensi,
dan bahasa.
Pendapat lain mengatakan bahwa arti
filsafat adalah suatu kebijaksanaan hidup (filosofia) untuk memberikan
suatu pandangan hidup secara menyeluruh berdasarkan refleksi terhadap
pengalaman hidup dan pengalaman ilmiah. Dengan kata lain, dalam filsafat tidak
terdapat eksperimen atau percobaan, tapi mengemukakan masalah secara persis,
mencari solusi, serta memberikan argumentasi atas solusi tersebut.
Kata
filsafat berasal dari kata yunani kuno: philosophia, yang terdiri dari dua kata
: philos (cinta) atau philia (persahabatan,tertarik kepada) dan shopos
(hikmah,kebijaksanaan). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta
kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom)
2.
Mengapa mahasiswa
belajar Filsafat ( Epistomologi )
Jawab :
Belajar
filsafat ilmu bagi mahasiswa sangat penting, karena beberapa tujuan yang dapat
dirasakan, antara lain :
·
Dengan mempelajari filsafat ilmu
diharapkan mahasiswa semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Mahasiswa sebagai
insan kampus diharapkan untuk bersikap kritis terhadap berbagai macam teori
yang dipelajarinya di ruang kuliah maupun dari sumber-sumber lainnya.
·
Mempelajari filsafat ilmu mendatangkan
kegunaan bagi para mahasiswa sebagai calon ilmuwan untuk mendalami metode
ilmiah dan untuk melakukan penelitian ilmiah.
·
Dengan mempelajari filsafat ilmu
diharapkan mereka memiliki pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu
menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan
penelitian ilmiah.
·
Mempelajari filsafat ilmu memiliki
manfaat praktis. Setelah mahasiswa lulus dan bekerja mereka pasti berhadapan
dengan berbagai masalah dalam pekerjaannya.
·
Untuk memecahkan masalah diperlukan
kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis berbagai hal yang berhubungan
dengan masalah yang dihadapi.
·
Membiasakan diri untuk bersikap
logis-rasional dalam Opini & argumentasi yang dikemukakan.
·
Mengembangkan semangat toleransi dalam
perbedaan pandangan (pluralitas). Karena para ahli filsafat tidak pernah
memiliki satu pendapat, baik dalam isi, perumusan permasalahan maupun
penyusunan jawabannya.
·
Mengajarkan cara berpikir yang cermat dan
tidak kenal lelah.
3.
Apa manfaatnya
mahasiswa belajar Filsafat ( Aksiologi )
Jawab:
Manfaat belajar ilmu filsafat antara lain sebagai berikut:
Manfaat belajar ilmu filsafat antara lain sebagai berikut:
-
Menjadi seorang yang kritis
-
mampu
berpikir secara rasional dan logis
-
Berpikir independen
-
Berpikir secara fleksibel
-
Memperluas wawasan
-
Mampu menganilis setiap permasalahan
-
Menjadi seorang yang skeptis
-
Memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi berdasar
sebab-akibat
-
Menjawab segala pertnyaan tentang kehidupan
B. SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU
1.Apa yang dimaksud
dengan Pra Yunani Kuno , Zaman
Yunani kuno, Zaman Pertengahan, Masa Renaissance, Zaman Modern dalam
Perkembangan Filsafat ( Ontologi )
Jawab :
Pra Yunani Kuno
Dalam sejarah perkembangan peradaban
manusia. Yakni ketika belum mengenal peralatan seperti yang dipakai sekarang
ini. Pada masa itu manusia masih menggunakan batu sebagai peralatan. Masa zaman
batu berkisar antara 4 juta tahun sampai 20.000 tahun SM. Mereka pada mulanya
hidup dari mengumpulkan biji-bijian dan buah-buahan. Sejak itu mereka menemukan
pengetahuan dan menjadi penghasil makanan sehingga memiliki kelebihan
persediaan. Mereka juga mulai mampu mengatur waktu kerja dan istirahat sesuai
dengan waktu malam dan siang. Perkembangan kehidupan manusia lainnya, yaitu
mulai berkelompok dan mengukur waktu serta perhitungan hari.Lalu, manusia
sampai kezamanlogam(metalage).
Zaman Yunani Kuno
Zaman Yunani Kuno
Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan
filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengeluarkan
ide-ide atau pendapatnya, Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudangnya ilmu
dan filsafat, karena Yunani pada masa itu tidak mempercayai mitologi-mitologi.
Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman-pengalaman yang didasarkan
pada sikap menerima saja (receptive attitude) tetapi menumbuhkan rasasenang
menyelidiki secara kritis (quiring attitude). Sikap inilah yang menjadikan bangsa
Yunani tampil sebagai ahli-ahli pikir yang terkenal sepanjang masa.
Pada Zaman Yunani kuno terdapat tiga periode masa sejarah Filsafat, yaitu masa awal, masa keemasan, serta masa Helenitas dan Romawi. Masa awal filsafat Yunani Kuno ditandai tercatatnya tiga nama filosof yang berasal dari daerah Miletos, antara lain: Thales, Ananximandros, Anaximenes,Hipocrates, Pythagoras, Democritus, Socrates, Plato dan Aristoteles.
Pada Zaman Yunani kuno terdapat tiga periode masa sejarah Filsafat, yaitu masa awal, masa keemasan, serta masa Helenitas dan Romawi. Masa awal filsafat Yunani Kuno ditandai tercatatnya tiga nama filosof yang berasal dari daerah Miletos, antara lain: Thales, Ananximandros, Anaximenes,Hipocrates, Pythagoras, Democritus, Socrates, Plato dan Aristoteles.
Zaman Pertengahan
Zaman pertengahan (middle age) ditandai dengan para tampilnya
theolog di lapangan ilmu pengetahuan. Ilmuwan pada masa ini adalah hampir
semuanya para theolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas
keagamaan. Atau dengan kata lain kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung
kebenaran agama. Semboyan pada masa ini adalah Anchila Theologia (abdi agama).
Filsafat pada abad ini dikuasai dengan pemikiran
keagamaan (Kristiani). Puncak filsafat Kristiani ini adalah Patristik (Lt.
“Patres”/Bapa-bapa Gereja) dan Skolastik Patristik sendiri dibagi atas Patristik
Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik Latin (atau Patristik Barat).
Masa Renaissance
Renaisance merupakan era sejarah yang penuh dengan
kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Jembatan
antara Abad pertengahan dan zaman Modern adalah zaman “Renaisanse”, periode
sekitar 1400-1700. Pada zaman ini pengetahuan arab dalam kemunduran, Eropa
mulai menggeliat dari tidurnya. Pada abad ke-13 M, mereka mulai mengadakan
penerjemahan dan mendirikan Universitas seperti Oxford, Cambridge dan
lain-lain. Filsuf-filsuf penting dari zaman ini adalah Nicholas Macchiavelli
(1469-1527), Thomas Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535) dan Francis
Bacon (1561-1626). Pembaharuan yang sangat bermakna pada zaman ini adalah
“antroposentrisme”nya. Artinya pusat perhatian pemikiran tidak lagi kosmos
seperti pada zaman Yunani Kuno, atau Tuhan sebagaimana dalam Abad
Pertengahan.Zaman yang menyaksikan dilancarkannya tantangan gerakan reformasi
terhadap keesaan dan supremasi gereja katolik Roma, bersamaan dengan
berkembangnya humanisme.
Zaman Modern
Zaman ini ditandai dengan berbagai dalam bidang
ilmiah, serta filsafat dari berbagai aliran muncul. Pada dasarnya corak secara
keseluruhan bercorak sufisme Yunani. Paham – paham yang muncul dalam garis besarnya
adalah Rasionalisme, Idialisme, dengan Empirisme. Paham Rasionalisme
mengajarkan bahwa akal itulah alat terpenting dalam memperoleh dan menguji
pengetahuan. Ada tiga tokoh penting pendukung rasionalisme ini, yaitu
Descartes, Spinoza, dan Leibniz.
Sedangkan aliran Idialisme mengajarkan hakekat fisik
adalah jiwa, spirit. Ide ini merupakan ide Plato yang memberikan jalan untuk
memperlajari paham idealisme zaman modern. Para pengikut aliran/paham ini pada
umumnya, sumber filsafatnya mengikuti filsafat kritisisismenya Immanuel Kant.
Fitche (1762-1814) yang dijuluki sebagai penganut Idealisme subyektif merupakan
murid Kant. Sedangkan Scelling, filsafatnya dikenal dengan filsafat Idealisme
Objektif .Kedua Idealisme ini kemudian disintesakan dalam Filsafat Idealisme
Mutlak Hegel.
Pada Paham Empirisme mengajarkan bahwa tidak ada
sesuatu dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman. ini bertolak
belakang dengan paham rasionalisme. Mereka menentang para penganut rasionalisme
yang berdasarkan atas kepastian-kepastian yang bersifat apriori. Pelopor aliran
iniadalah Thomas Hobes Jonh locke, dan David Hume.
2. Mengapa orang
menganggap Zaman Modern hanyalah perluasan
Renaisance (Epistomologi)
Jawab :
Jadi, zaman Modern filsafat
didahului oleh zaman Renaissance. Sebenarnya secara esensial
zaman Renaissance itu, dalam filsafat, tidak berbeda dari zaman
modern. Ciri-ciri filsafat Renaissance ada pada filsafat modern.
Tokoh Pada filsafat modern, kita menemukan ciri-ciri Renaissance tersebut.
Ciri itu antara lain ialah menghidupkan kembali Rasionalisme Yunani (Renaissance), Individualisme,
Humanisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain.
Filsafat modern ditandai dengan karakteristiknya
dengan lahirnya aliran-aliran besar filsafat, yang diawali
oleh Rasionalisme dan Empirisme. Selain kedua aliran itu,
juga akan diketengahkan aliran-aliran besar lainnya yang ikut berperan
mengisi lembaran filsafat modern, yaitu idealisme, materialisme,
positivisme, fenomenologi, eksistensialisme dan pragmatisme.
3.Mengapa dalam perkembangan ilmu filsafat dibagi
dalam beberapa zaman ? (Aksiologi )
Jawab :
Karena untuk memahami
sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melakukan pembagian atau
klasifikasi secara periodik, karena setiap periode menampilkan ciri khas tertentu
dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran secara teoretis
senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Periodisasi perkembangan ilmu
dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada zaman kontemporer.
C.
HUBUNGAN
ANTARA FILSAFAT, PENGETAHUAN DAN ILMU
1.Apa
yang dimaksud dengan Filsafat, Pengetahuan dan Ilmu? ( Ontologi )
Jawab
:
FILSAFAT
Istilah filsafat berasal
dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal
juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa
Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia”
dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab.
Secara etimologi, istilah
filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa Yunani
yaitu philosophia – philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa
dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan.
PENGETAHUAN
Secara etimologi pengetahuan
berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu knowledge. Dalam encyclopedia of
philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan
yang benar (knowlegde is justified true belief). Menurut Prof. Amsal
Bachtiar; pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk
tahu.
Jadi, Pengetahuan merupakan
Hasil yang didapatkan dari proses penalaran yaitu usaha berpikir dalam menarik
suatu kesimpulan serta usahanya untuk tahu. Pengetahuan yang benar akan
didapatkan jika manusia dapat melakukan proses kegiatan berpikir secara
mendalam
ILMU
Ilmu merupakan suatu cara
berpikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan berupa pengetahuan yang dapat
dipercaya atau diandalkan. Ilmu merupakan produk dari proses berpikir menurut
langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat dapat disebut sebagar berpikir
ilmiah.
Cara berpikir untuk mendapatkan
ilmu adalah: pertama alur jalan pikiran harus logis, kedua pernyataan yang
bersifat logis tersebut harus didukung dengan fakta empiris.
2.
Mengapa ilmu pengetahuan sangat penting bagi kehidupan ? (Epistomologi)
Jawab
:
Karena dengan ilmu
pengetahuan manusia akan lebih mudah dalam menjalani kehidupannya, ia juga
akan mampu membedakan yg baik dan yg buruk. Ilmu pengetahuan juga
merupakan hal yang lebih berharga dari harta, yang tidak bisa dibeli oleh apapun.
Itulah mengapa ilmu pengetahuan sangat penting bagi
kehidupan.
3.Mengapa antara filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya
mempunyai hubungan timbal balik? (Aksiologi)
Jawab :
Sebagai induk dari ilmu pengetahuan, antara filsafat dan ilmu
pengetahuan lainnya mempunyai hubungan timbal balik. Bagi filsafat, ilmu
pengetahuan dapat menyediakan sejumlah besar bahan yang berupa
fakta-fakta yang sangat penting bagi perkembangan ide-ide filsafat sekaligus
sebagai landasan pengetahuan ilmiah agar pembahasaannya bersifat rasional,
mendalam, runtut, dan tidak menimbulkan kesalahan. Sebaliknya bagi ilmu
pengetahuan, filsafat secara kritis menganalisis konsep-konsep dasar dan
memeriksa asumsi-asumsi dari ilmu untuk memperoleh objektivitas dan
validitasnya.
D.
FILSAFAT
LOGIKA BERPIKIR MENCARI KEBENARAN
1.
Apa yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah?
Jawab:
Kebenaran
ilmiah merupakan kebenaran yang muncul dari hasil penelitian ilmiah dengan
melalui prosedur baku berupa tahap-tahapan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah
yang berupa metodologi ilmiah yang sesuai dengan sifat dasar ilmu.
2.
Bagaimana cara mendapatkan kebenaran dalam
sudut pandang logika ?
Jawab:
CARA MENDAPATKAN
KEBENARAN dalam sudut pandang LOGIKA adalah dengan tercapainya syarat
syarat Keseluruhan Sistem analisis dalam mengambil atau mendapatkan Konklusi
atau kesimpulan terhadap suatu keilmuwan, titik dari pengetahuan adalah
tercapainya kebenaran Keilmuwan. Keilmuwan memiliki sifat logis yang oleh
karena itu kepentingan keilmuwan tidak mungkin melepaskan Kepentingannya terhadap
Logika.
3.
Digunakan
untuk apa logika linguistik ?
Jawab :
Telah dipaparkan sebelumnya bahwa
logika bahasa/linguistik (second order) digunakan untuk mengambil
kesimpulan fakta-fakta bahasa dan sastra. Terdapat dua teori terkait pemahaman
bahasa dan sastra yaitu: (1) formal thinking yaitu teori bahasa
platonik, bahwa manusia sebenarya dapat bepikir formal sehingga menghasilkan
subyek, predikat, dan objek, dan (2) subjective thinking, yaitu teori
bahasa chomsky, bahwa sesuatu yg diekspresikan berada dalam pikiran manusia
E.
TEORI
KEBENARAN
1.
Apa yang dimaksud dengan kebenaran ?
jelaskan !
Jawab:
Kebenaran
adalah keadaan yang sesuai dengan nilai esensialnya atau keadaan yang dianggap
sebagai sebenarnya atau orisinal. Kebenaran merupakan satu nilai utama di dalam
kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia.
Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human
dignity) selalu berusaha "memeluk" suatu kebenaran.
2. Bagaimana pendapat Aristoteles
mengenai proposisi (pernyataan) dikatakan benar ?
Jawab :
Menurut Aristoteles, proposisi (pernyataan) dikatakan benar
apabila sesuai dengan persyaratan formal suatu proposisi.
3. Apa manfaat teori
kebenaran bagi manusia ?
Jawab :
Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia
mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk
melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang
kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia akan mengalami
pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu
yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya
dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang
dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran.
F.
FILSAFAT MANUSIA
1. Apa yang dimaksud dengan hakikat
kehidupan manusia ?
Jawab:
Hakikat
kehidupan manusia adalah menuju kematian, suka tidak suka, mau tidak mau,
manusia pasti akan mengalami yang namanya mati. Sesungguhnya kita datang
kedunia ini bukanlah atas kehendak kita, manusia datang kedunia, bukanlah atas
kehendak manusia itu sendiri, tetapi manusia datang kedunia atas kehendak Allah
Swt. Oleh karena itu, dalam menjalani kehidupan, manusia tidak boleh
menyia-nyiakan masa hidupnya, manfaatkan apa yang telah dikaruniakan kepada
kita untuk berbuat kebajikan.
2.
Bagaimana bisa dikatakan bahwa filsafat
manusia tetap relevan dan penting sampai saat ini?
Jawab
:
Karena
filsafatlah yang mengemukakan dan secara langsung menyediakan diri untuk
mengupas pertanyaan-pertanyaan seperti berikut :
Apakah
makhluk itu? Apakah keseluruhannya itu? Bagaiman struktur esensialnya? Dan
lain-lain.
3.
Apa manfaat adanya kodrat manusia itu ada?
Jawab :
Salah satu kodrat manusia adalah untuk mencari tahu apa
yang belum diketahui. Manusia selalu ingin tahu dalam hal apa sesungguhnya yang
ada (know what), bagaimana sesuatu terjadi (know how), dan mengapa demikian
(know why) terhadap segala hal. Orang tidak puas apabila yang ingin diketahui
tidak terjawab.Keingintahuan manusia tidak terbatas pada keadaan diri manusia
sendiri atau keadaan sekelilingnya, tetapi terhadap semua hal yang ada di alam
fana ini bahkan terhadap hal-hal yang ghaib. Manusia berusaha mencari jawaban
atas berbagai pertanyaan itu; dari dorongan ingin tahu manusia berusaha mendapatkan
pengetahuan mengenai hal yang dipertanyakannya. Ilmu Pengetahuan berawal pada
kekaguman manusia akan alam yang dihadapinya, baik alam besar (macro cosmos),
maupun alam kecil (micro-cosmos).
G.
TATARAN
KEILMUAN ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, DAN AKSIOLOGI
1. Apa
yang dimaksud dengan epistemologi ?
Jawab:
Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani
episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang
mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya)
pengetahuan.
Pengertian lain, menyatakan
bahwa epistemologi merupakan
pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah
sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup
pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap
manuasia (William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965, dalam Jujun
S.Suriasumantri, 2005).
2.
Mengapa Aksiologi berkaitan dengan
Filsafat ilmu.
Jawab:
Karena
nilai itu bersifat objektif, tapi kadang-kadang bersifat subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek
atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya,
bukan pada subjek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada
kebenaran pada pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta. Sebaliknya,
nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam memberi penilaian;
kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian. Dengan demikian nilai subjektif
selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia,
seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau
tidak senang.
3.
Apa manfaat dari pembelajaran
ontologi.epistemologi dan aksiologi??
Kita
belajar tentang ilmu yang mengkaji sebuah hakikat.Teori hakikat pertama kali
dikemukakan oleh filsuf Thales yang mengatakan bahwa hakikat segala sesuatu itu
adalah air. Kemudian dalam perkembangannya, bermuncullah paham-paham tentang
ontologi meliputi monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnotisisme.
H.
FILSAFAT
ETIKA DAN MORAL
1. Apa
yang di maksud dengan filsafat moral??
Jawab.
Filsafat moral merupakan kajian ilmu yang secara garis besar membahas tentang
macam macam teori etika.Dalam teori etika terdapat dua pembagian diantaranya
teleologis dan deontologis.Teori teleologis menentukan baik buruknya suatu
tindakan dari baik buruknya akibat yang menjadi tujuannya.Berbeda dengan etika
teleologis,etika deontologis berpandangan bahwa moralitas suatu tindakan
melekat pada tindakan itu sendiri bukan finalitasnya.
2. Mengapa
menurut franz magnis mahasiwa memiliki sifat kritis??
Jawab.Yang
dimaksud franz magnis,kritis adalah aktif dari berbagai segala macam lembaga
normatif.Franz Magnis Suseno juga menyatakan bahwa signifikansi etika ialah
membantu mahasiswa untuk mengintegrasikan secara intelektual pengalaman
pengalaman baru yang didapatinya sebagai mahasiswa kedalam kepribadiannya.
Dan
dengan adanya lembaga lembaga normatif seseorang mahasiswa akan menjadi
mahasiswa yang memiliki jiwa kepribadian yang baik.Lembaga lembaga tersebut
diantaranya:
a. Diri
kita sendiri artinya seseorang itu akanmencapai tingakt kedewasaan dan
otonominya
b. Lembaga
lingkungan masyarakat artinya seorang mahasiswaa mendapatkan kecakapan
intelektualnya agar tidak monoton.
c. Lembaga
ideologi yang melibatkan manusia pada zaman sekarang artinya dengan adanya
sifat ideologis mahasiswa dapat berfikir kritis dan menolak anggapan anggapan
yang tidak sesuia dengan nilai nilai dalam kesejatian dirinya.
3. Apa
manfaatnya belajar tentang etika dan moral???
Jawab.dengan
belajar filsafat etika, kita mengetahui dalam suatu wilayah terdapat beberapa
norma yang turun temurun ada dalam masyarakat dan harus ditaati. Perubahan
zaman sangat mengikis perilaku baik individu sehingga mereka mengabaikan etika
atau moral dari para leluhur mereka. Sudah selayaknya seseorang memahami dan
menerapkan pentingnya mengaplikasikan etika dalam kehidupannya.
I.
FILSAFAT
PANCASILA
1. Terangkan apa yang dimaksud Pancasil
sebagai dasar (filsafat) Negara Indonesia!
Jawab
:
Pancasila
sebagai dasar Negara yang dimaksud adalah sebagai dasar filsafat atau dasar
falsafah Negara dari Negara Indonesia. Pancasila sebagai dasar filsafat oleh
karena Pancasila merupakan rumusan filsafat atau dapat dikatakan nilai-nilai
Pancasila adalah nilai-niali filsafat. Pancasila sebagai dasar (filsafat)
Negara mengandung makna bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila
menjadi dasar atau pedoman bagi penyelenggaraan bernegara. Konsekuensi dari
rumusan demikian berarti seluruh pelaksanaan dan penyelenggaraan pemerintah
Negara Indonesia termasuk peraturan perundang-undangan merupakan pencerminan
dari nilai-nilai Pancasila. Penyelenggaraan bernegara mengacu dan memilikitolak
ukur yaitu tidak boleh menyimpang dari nilai-nilai Ketuhanan, nilai
kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan dan nilai keadilan.
2.
Mengapa pancasila berbeda dari waktu ke waktu??
Jawab.:
Karena Pancasila dikenal sebagai filosofi Indonesia. Dan Kenyataannya definisi
filsafat dalam filsafat Pancasila telah diubah dan diinterpretasi berbeda oleh
beberapa filsuf Indonesia.Pancasila pun dijadikan wacana sejak 1945. Filsafat
Pancasila senantiasa diperbarui sesuai dengan “permintaan” rezim yang berkuasa,
sehingga Pancasila berbeda dari waktu ke waktu.
3.
Apa manfaat pancasila bagi masyarakat indonesia??
Jawab.
: Pancasila itu adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, pandangan hidup bangsa
Indonesia dan dasar negara kita.Disamping itu maka bagi kita Pancasila
sekaligus menjadi tujuan hidup bangsa Indonesia.Pancasila bagi kita merupakan
pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita moral yang meliputi kejiwaan dan watak
yang sudah beurat/berakar di dalam kebudayaan bangsa Indonesia. Ialah suatu
kebudayaan yang mengajarkan bahwa hidup manusia ini akan mencapai kebahagiaan
jika kita dapat baik dalam hidup manusia sebagai manusia dengan alam dalam
hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun dalam mengejar kemajuan lahiriyah dan
kebahagiaan rohaniah.Bangsa Indonesia lahir sesudah melampaui perjuangan yang
sangat panjang, dengan memberikan segala pengorbanan dan menahan segala macam
penderitaan.
J.
FILSAFAT KARYA ILMIAH
1. Bagaimanakah
pengertian berpikir logis ?
Jawab :
berpikir logis
merupakan berpikir secara bernalar menurut logika yang diakui secara ilmu
pengetahuan dimana digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah yang terjadi
dalam suatu kegiatan sosial masyarakat.
2. Apa yang dimaksud dengan penelitian ilmiah ?
Jawab :
Penelitian Ilmiah adalah suatu proses pemecahan masalah dengan menggunakan
prosedur yang sistematis, logis, dan empiris sehingga akan ditemukan suatu
kebenaran. Hasil penelitian ilmiah adalah kebenaran atau pengetahuan ilmiah.
3. Apa
manfaat berpikir ilmiah ?
Jawab :
·
Metode ilmiah lebih bisa dipertanggung jawabkan, dikarenakan
adanya bukti-bukti yang konkret dan ada ukuran yang jelas;
·
Jelas, dapat di buktikan dan dapat diamati langsung oleh alat
indra pada manusia;
·
Dapat dijadikan satuan atau tolok ukur untuk penelitian-penelitian
selanjutnya, bila tidak terdapat kesalahan;
·
Mengajarkan pada manusia untuk menatap realita dan segala
sesuatu yang ada;
·
Operasional, dapat di gunakan dan di amalkan dalam kehidupan
keseharian; dan
·
Logis, karena dapat di buktikan oleh semua orang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar