Sabtu, 13 Juli 2019


PENGANTAR FILSAFAT ILMU
DOSEN PEMBIMBING : Dr.Sigit Sardjono,MS












NAMA     
Errinda Hidayatun Nikmah            (1221800047)
Chusnul Chofifah                              (1221800036)
 Risma Amilza                                    (1221800020)
KELAS     :          G


PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA
2019










“MANFAAT MAHASISWA BELAJAR FILSAFAT”
A.     Pengertian Filsafat Ilmu
Kata filsafat berasal dari kata yunani kuno: philosophia, yang terdiri dari dua kata : philos (cinta) atau philia (persahabatan,tertarik kepada) dan shopos (hikmah,kebijaksanaan). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom).Sedangkan ilmu Menurut kamus bahasa Indonesia adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis, logis dengan menggunakan metode tertentu dan bersifat empiris.
Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran yang reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.
B.     Manfaat, Fungsi, dan Tujuan Belajar Filsafat Ilmu
1.    Manfaat belajar filsafat ilmu
Manfaat belajar ilmu filsafat antara lain sebagai berikut:
Menjadi seorang yang kritis
Dengan belajar filsafat, kamu bisa memiliki pemikiran yang kritis. Filsafat akan membentuk pemikiran diplomatis, yang bisa menjadikan kamu peka  terhadaplingkungan sekitar dan juga bertindak anti apatis.
mampu berpikir secara rasional dan logis
Disamping itu, filsafat juga bisa membentuk kamu menjadi seorang pemikir yang logis dan rasional. Dengan metode berpikir seperti ini, kamu bisa mengatasi masalah-masalah dalam kehidupan dengan baik.
Berpikir independen
Pemikiran independen adalah hasil berpikir secara pragmatis dan terbuka. Kamu juga berusaha mengambil jalan tengah agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan. Memang, berpikir secara konvensional akan membuat hidup kamu menjadi sistematis, tapi berpikir secara independen membuat kamu bisa melangkah lebih jauh. Selain itu, berpikir independen berarti kamu tidak 'hidup' berdasar pemikiran orang lain. 
Berpikir secara fleksibel
Filsafat itu sifatnya dinamis, tidak terbelenggu dalam satu aturan-aturan dan kaidah. Ini akan membuat kamu memiliki fleksibilitas berpikir, memiliki kemauan untuk mencoba hal baru. Tidak harus 'terikat' dengan ide-ide lama, karena kamu bisa menggantinya dengan ide-ide baru yang lebih efektif.
Memperluas wawasan
Memiliki wawasan yang luas akan membuat kamu lebih terampil di berbagai bidang. Ingat, peradaban dunia dibangun berdasar dari berbagai macam pemikiran. Di samping itu, kamu akan memahami berbagai macam teori-teori dalam kehidupan, sehingga kamu menjadi sadar, betapa berharganya kehidupan.
Mampu menganilis setiap permasalahan
Filsafat mengajarkan kita untuk bisa mempertahankan pendapat, serta bisa mengembangkannya secara sehat, menggunakan nalar yang tepat, tidak menggunakan otot dan tidak menggunakan ototritas intervensi.
Menjadi seorang yang skeptis
Bukan berarti kamu harus menjadi agnostik atau atheist, namun ini lebih ke arah bagaimana kamu mengamati lingkungan dan situasi sekitar. Menjadi seorang yang skeptis berarti kamu tidak langsung percaya pada suatu peristiwa atau berita, tapi kamu harus bisa menemukan bukti yang kredibel serta valid, agar tidak termakan berita hoax.
Memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi berdasar sebab-akibat
Prinsip ini disebut juga kausalitas, bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti ada sebab yang mengawalinya.Ketika kamu ditanya tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi, kamu tidak lagi menjawab "Tidak tahu", karena kamu sudah memiliki jawabannya.
Menjawab segala pertnyaan tentang kehidupan
Pada dasarnya, Filsafat adalah jawaban dari setiap pertanyaan. Mungkin di benak kamu sering terlintas pertanyaan seperti, "Siapa kita?", "Untuk apa kita hidup?", "Apa itu kehidupan?". Kamu bisa menemukan metode dan cara yang tepat, untuk bisa memahami dan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
2.      Fungsi belajar filsafat ilmu
Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yaitu :
  • Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
  • Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya.
  • Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
  • Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan
·         Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya
3.    Tujuan mempelajari Filsafat Ilmu
Belajar filsafat ilmu bagi mahasiswa sangat penting, karena beberapa tujuan yang dapat dirasakan, antara lain :
·                     Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mahasiswa semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Mahasiswa sebagai insan kampus diharapkan untuk bersikap kritis terhadap berbagai macam teori yang dipelajarinya di ruang kuliah maupun dari sumber-sumber lainnya.
·                     Mempelajari filsafat ilmu mendatangkan kegunaan bagi para mahasiswa sebagai calon ilmuwan untuk mendalami metode ilmiah dan untuk melakukan penelitian ilmiah.
·                     Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mereka memiliki pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan penelitian ilmiah.
·                     Mempelajari filsafat ilmu memiliki manfaat praktis. Setelah mahasiswa lulus dan bekerja mereka pasti berhadapan dengan berbagai masalah dalam pekerjaannya.
·                     Untuk memecahkan masalah diperlukan kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis berbagai hal yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi.
·                     Membiasakan diri untuk bersikap logis-rasional dalam Opini & argumentasi yang dikemukakan.
·                     Mengembangkan semangat toleransi dalam perbedaan pandangan (pluralitas). Karena para ahli filsafat tidak pernah memiliki satu pendapat, baik dalam isi, perumusan permasalahan maupun penyusunan jawabannya.
·                     Mengajarkan cara berpikir yang cermat dan tidak kenal lelah.


C.     Hubungan antara Filsafat dan Ilmu
·                    Hubungan Ilmu dengan Filsafat pada mulanya ilmu yang pertama kali muncul adalah filsafat dan ilmu-ilmu khusus menjadi bagian dari filsafat. Dan filsafat merupakan induk dari segala ilmu karena berbicara tentang abstraksi/sebuah yang ideal. 
·                    Filsafat tidak terbatas, sedangkan ilmu terbatas sehingga ilmu menarik bagian filsafat agar bisa dimengerti oleh manusia.
·                    Pada hakikatnya filsafat dan ilmu saling terkait satu sama lain, keduanya tumbuh dari sikap refleksi, ingin tahu, dan dilandasi kecintaan pada kebenaran. Filsafat dengan metodenya mampu mempertanyakan keabsahan dan kebenaran ilmu, sedangkan ilmu tidak mampu mempertanyakan asumsi, kebenaran, metode, dan keabsahannya sendiri.
·                    Ilmu merupakan masalah yang hidup bagi filsafat dan membekali filsafat dengan bahan-bahan deskriptif dan faktual yang sangat perlu untuk membangun filsafat. Filsafat dapat memperlancarr integrasi antara ilmu-ilmu yang dibutuhkan. Filsafat adalah meta ilmu, refleksinya mendorong peninjauan kembali ide-ide dan interpretasi baik dari ilmu maupun bidang-bidang lain.




“SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU”
Sebelum mengetahui Sejarah Pemkembangan Filsafat Ilmu alangkah baiknya kita mengetahui pengertian filsafat ilmu. Filsafat merupakan berfikir secara menyeluruh tidak parsial dan secara radikal atau mendalam sampai ke akar-akar masalah.Sedangkan, filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu. Filsafat ilmu sendiri telah berkembang seiring perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Sejarah filsafat ilmu hingga kini merupakan perjalanan yang sangat panjang sehingga terbagi dalam berbagai era/zaman. Makalah ini akan mendeskripsikan secara singkat sejarah perkembangan aliran filsafat ilmu. Uraian singkat tentang periode sejarah akan melewati dan mengungkap banyak tokoh, peristiwa dan fakta yang memungkinkan kita dapat memahami sejarah perkembanganaliran filsafat ilmu.
1.      Pra Yunani Kuno ( abad 15 – 7 SM)
            Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia. Yakni ketika belum mengenal peralatan seperti yang dipakai sekarang ini. Pada masa itu manusia masih menggunakan batu sebagai peralatan. Masa zaman batu berkisar antara 4 juta tahun sampai 20.000 tahun SM. Mereka pada mulanya hidup dari mengumpulkan biji-bijian dan buah-buahan. Sejak itu mereka menemukan pengetahuan dan menjadi penghasil makanan sehingga memilikikelebihan persediaan. Mereka juga mulai mampu mengatur waktu kerja dan istirahat sesuai dengan waktu malam dan siang. Perkembangan kehidupan manusia lainnya, yaitu mulai berkelompok dan mengukur waktu serta perhitungan hari. Lalu, manusia sampai kezaman logam(metalage).

Pada zaman Fir‟aun, dimesir telah ditemukan dasar-dasar pertanian, survei pertanian, dan kalkulasi banjir Sungai Nil. Perdagangan mulai tumbuh dengan subur sehingga muncul kebutuhan akan angka-angka. Penulisan dengan gambarpun mulai dikenal sehingga peradaban mulai memperlihatkan perkembangannya yang pesat.
Pelajaran tulis menulis dan pentatan ilmu pengetahuan dilakukan pada daun-daun papirus dan di dinding kuil dalam bentuk tulisan Heirogliph di Negeri Mesir Kuno, juga tulisan-tulisan paku terdapat pada batu-batu bata di Assyiria, dan Babylonia. Evolusi ilmu pengetahuan dapat diruntut melalui sejarah perkembangan pemikiran yang terjadi di Yunani, Babilonia, Mesir, China, Timur Tengah dan Eropa.
Sisa peradaban manusia yang ditemukan pada masa ini antara lain: alat-alat dari batu, tulang belulang dari hewan, sisa beberapa tanaman, gambar-gambar digua-gua, tempat-tempat penguburan, tulang belulang manusia purba.
2.      Zaman Yunani Kuno (abad 7 – 2 SM)
            Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengeluarkan ide-ide atau pendapatnya, Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudangnya ilmu dan filsafat, karena Yunani pada masa itu tidak mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman-pengalaman yang didasarkan pada sikap menerima saja (receptive attitude) tetapi menumbuhkan rasasenang menyelidiki secara kritis (quiring attitude). Sikap inilah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli-ahli pikir yang terkenal sepanjang masa.
            Pada Zaman Yunani kuno terdapat tiga periode masa sejarah Filsafat, yaitu masa awal, masa keemasan, serta masa Helenitas dan Romawi. Masa awal filsafat Yunani Kuno ditandai tercatatnya tiga nama filosof yang berasal dari daerah Miletos, antara lain: Thales, Ananximandros, Anaximenes,Hipocrates, Pythagoras, Democritus, Socrates, Plato dan Aristoteles.
-          Masa Awal
            Perhatiannya adalah pada alam dan kejadian alamiah, terutama dalam hubungannya dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Namun mereka yakin bahwa terhadap perubahan-perubahan itu terdapat suatu asas yang menentukan, tetapi di antara mereka menyebut asas yang berbeda. Thales menyebutnya asas air, Anaximandros dengan asas yang tidak terbatas (to apeiron), dan Anaximandres dengan asas udara.
-          Masa Keemasan
            Dilanjutkan pada masa keemasan Yunani Kuno yang ditandai oleh sejumlah nama besar yang sampai sekarang tidak pernah dilupakan oleh kalangan pemikir, termasuk pemikir masa kini yang berbeda pendapat. Nama besar yang pertama dipimpin Perikles yang tinggal di Athena. Athena menjadi pusat dari penganut berbagai aliran filsafat yang ada pada masa itu. Pada masa itu terdapat pula pemikiran sofistik yang penganutnya disebut kaum sofis, yaitu kaum yang pandai berpidato dan yang tidak lagi menaruh perhatian utama pada alam, tetapi menjadikan manusia sebagai pusat perhatian studinya. Tokohnya adaalah protogoras. Pemahamannya memperlihatkan sifat-sifat relativisme, atau kebenaran bersifat relatif, tidak ada kebenaran yang tetap dan definitif. Benar, baik, dan bagus selalu berhubungan dengan manusia, tidak mandiri sebagai kebenaran mutlak. Pemahaman seperti ini di tentang oleh Socretes (470-399 SM) sebagaimana yang dikatakannya bahwa ia tidak memiliki ajaran sendiri, sebagai seorang filosofyang terpenting adalah mengembangkan pemikiran filosofisnya, seperti seorang bidan yang tidak melahirkan anaknya sendiri, tetapi orang lain.
            Pengetahuan ilmiah sampai di tangan orang-orang Yunani, juga di Babylonia diperkirakan pada permulaan abad ke-7 SM. Sarjana-sarjana Yunani memfilsafatkan ilmu dan menghasilkan teori-teori baru.
            Pemikir-pemikir (filosof) Yunani seperti Thales, Ananximandros, Anaximenes,Hipocrates, Pythagoras, Democritus, Socrates, Plato dan Aristoteles. Warisan mereka dalam bidang ilmu dan filsafat merupakan penambahan yang baru dan tak terdandingi dalam khazanah ilmu pengetahuan.dunia mengenal teori-teori, seperti unsur-unsur kimia, teori bilangan, pandangan Demokritos tentang atom, pandangan Hipercritos tentang pengobatan, pandangan Pythagoras tentang matematika, pandangan Plato tentang geometri, dan pandangan Aristoteles tentang anatomi, botani, zoologi dan metalurgi. Diantara pemikiran aristoteles yang radikal, yaitu bahwa alam semesta tidak dikendalikan oleh serba kebetulan, magi, oleh keinginan tak terpikirkan kehendak dewa, tetapi oleh tingkah laku alam semesta yang tunduk pada hukum-hukum rasional.
-          Masa Halenitas dan Romawi
            Masa ketiga adalah masa Helenitas dan Romawi. Ini adalah suatu masa yang tidak dapat dilepaskan dari peranan Raja Alexander Agung. Raja ini telah mampu mendirikan negara besar yang tidak sekedar meliputi seluruh Yunani, tetapi daerah-daerah di sebelah timurnya. Kebudayaan Yunani menjadi kebudayaan supranasional. Kebudayaan Yunani ini disebut “Kebudayaan Helenitas”. Dalam bidang kebudayaan, selain akademia lykeion, di buka juga sekolah-sekolah baru dan yang menjadi tekanan pembelajarannya adalah masalah etika, yaitu bagaimana sebaiknya orang mengatur tingkah lakunya agar hidup bahagia dalam kehidupan bersama. Ada sejumlah aliran pada masa ini, seperti stiotisme, epikurisme, skeptisisme, ekletisisme, dan neolplatonisme. Periode gemilang ilmu-ilmu Helenis ini berakhir dengan meninggalnya Iskandar yang Agung disusul oleh Aristoteles.


3.      Zaman Pertengahan (abad 2 – 14 M)
Zaman pertengahan (middle age) ditandai dengan para tampilnya theolog di lapangan ilmu pengetahuan. Ilmuwan pada masa ini adalah hampir semuanya para theolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Atau dengan kata lain kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Semboyan pada masa ini adalah Anchila Theologia (abdi agama).
Filsafat pada abad ini dikuasai dengan pemikiran keagamaan (Kristiani). Puncak filsafat Kristiani ini adalah Patristik (Lt. “Patres”/Bapa-bapa Gereja) dan Skolastik Patristik sendiri dibagi atas Patristik Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik Latin (atau Patristik Barat). Tokoh-tokoh Patristik Yunani ini anatara lain Clemens dari Alexandria (150-215), Origenes (185-254), Gregorius dari Naziane (330-390), Basilius (330-379). Tokoh-tokoh dari Patristik Latin antara lain Hilarius (315-367), Ambrosius (339-397), Hieronymus (347-420) dan Augustinus (354-430). Ajaran-ajaran dari para Bapa Gereja ini adalah falsafi-teologis, yang pada intinya ajaran ini ingin memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Ajaran-ajaran ini banyak pengaruh dari Plotinos. Pada masa ini dapat dikatakan era filsafat yang berlandaskan akal-budi “diabdikan” untuk dogma agama.
Zaman Skolastik (sekitar tahun 1000), pengaruh Plotinus diambil alih oleh Aristoteles. Pemikiran-pemikiran Ariestoteles kembali dikenal dalam karya beberapa filsuf Yahudi maupun Islam, Eriugena (810-877), Avicena (Ibnu Sina, 980-1037), Averroes (Ibnu Rushd,1126-1198) dan Maimonides (1135-1204). Pengaruh Aristoteles demikian besar sehingga ia (Aristoteles) disebut sebagai “Sang Filsuf” sedangkan Averroes yang banyak membahas karya Aristoteles dijuluki sebagai “Sang Komentator”. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman Kristiani menghasilkan filsuf penting sebagian besar dari ordo baru yang lahir pada masa Abad Pertengahan, yaitu, dari ordo Dominikan dan Fransiskan.. Filsafatnya disebut “Skolastik” (Lt.“scholasticus”, “guru”), karena pada periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang baku dan bersifat internasional. Inti ajaran ini bertema pokok bahwa ada hubungan antara iman dengan akal budi.
Pada masa ini filsafat mulai ambil jarak dengan agama, dengan melihat sebagai suatu kesetaraan antara satu dengan yang lain (Agama dengan Filsafat) bukan yang satu “mengabdi” terhadap yang lain atau sebaliknya.Peradaban dunia Islam terutama abad 7 yaitu Zaman bani Umayyah telah menemukan suatu cara pengamatan astronomi, 8 abad sebelum Nicholas Covernicus (1473-1543)dan Galileo Galilie (1564-1642) dan. Sedangkan peradaban Islam yang menaklukan Persia pada abad 8 Masehi, telah mendirikan Sekolah kedokteran dan Astronomi di Jundishapur. Pada masa keemasan kebudayaan Islam, dilakukan penerjemahan berbagai karya Yunani. Dan bahkan khalifah Al Makmun telah mendirikan rumah Kebijaksanaan (House of Wisdom) / Baitul Hikmah pada abad 9. Pada abad ini Eropa mengalami zaman kegelapan(dark age).
Filsafat abad pertengahan diakhiri oleh Nicolaus Cusanus (1401 – 1464). Nicolaus Cusanus membedakan tiga macam pengenalan, yaitu pancaindra, rasio, dan intuisi. Pengenalan indrawi kurang sempurna. Rasio membentuk konsep berdasarkan pengenalan indrawi. Adapun aktivitasnya dikuasai prinsip nonkontradiksi (tidak mungkin sesuatu ada dan tiada). Manusia tidak mengetahui apa pun (dogta ignotaria). Dengan intuisi, manusia dapat mencapai segala sesuatu yang tidak terhingga. Allah merupakan objek intuisi manusia. Dalam diri Allah seluruh hal yang berlawanan akan mencapai kesatuan (coincidentia oppositrum). Pengetahuan yang luas memvuat Nicolaus tidak sekedar menjadi eksponen abad pertengahan. Ia juga mencintai eksperimen shingga membawanya pada pemikiran ilmu masa modern.
Sampai dengan di penghujung Abad Pertengahan sebagai abad yang kurang kondusif terhadap perkembangan ilmu, dapatlah diingat dengan nasib seorang astronomberkebangsaan Polandia Nicholas Covernicus yang dihukum kurungan seumur hidup oleh otoritas Gereja, ketika mengemukakan temuannya tentang pusat peredaran benda-benda angkasa adalah matahari (Heleosentrisme). Teori ini dianggap oleh otoritas Gereja sebagai bertentangan dengan teori Geosentrisme (Bumi sebagai pusat peredaran benda - benda angkasa) yang dikemukakan oleh Ptolomeus semenjak zaman Yunani yang justru telah mendapat “mandat” dari otoritas Gereja. Oleh karena itu dianggap menjatuhkan kewibawaan Gereja.
4.      Masa Renaissance (14-17 M)
Renaisance merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Jembatan antara Abad pertengahan dan zaman Modern adalah zaman “Renaisanse”, periode sekitar 1400-1700. Pada zaman ini pengetahuan arab dalam kemunduran, Eropa mulai menggeliat dari tidurnya. Pada abad ke-13 M, mereka mulai mengadakan penerjemahan dan mendirikan Universitas seperti Oxford, Cambridge dan lain-lain. Filsuf-filsuf penting dari zaman ini adalah Nicholas Macchiavelli (1469-1527), Thomas Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535) dan Francis Bacon (1561-1626). Pembaharuan yang sangat bermakna pada zaman ini adalah “antroposentrisme”nya. Artinya pusat perhatian pemikiran tidak lagi kosmos seperti pada zaman Yunani Kuno, atau Tuhan sebagaimana dalam Abad Pertengahan.Zaman yang menyaksikan dilancarkannya tantangan gerakan reformasi terhadap keesaan dan supremasi gereja katolik Roma, bersamaan dengan berkembangnya humanisme.
Zaman ini juga merupakan penyempurnaan kesenian, keahlian, dan ilmu yang diwujudkan dalam diri jenius serba bisa, Leonardo Da Vinci. Penemuan percetakan (kira-kira 1440 M) oleh kolumbus memberikan dorongan lebih keras untuk meraih kemajuan ilmu. Kelahiran kembali sastra di Inggris, Prancis, dan Spayol diwakili Shakespeare, Spencer, Rabelais, dan Ronsard. Pada masa itu, seni musik juga mengalami perkembagan. Adanya penemuan para ahli perbintangan seperti Covernicus dan Galileo menjadi dasar munculnya astronomi modern yang merupakan titik balik dalam pemikiran ilmu dan filsafat.
Setelah Renaissence mulailah zaman Barok, pada zaman ini tradisi rasionalisme ditumbuh-kembangkan oleh filsuf-filsuf antara lain; R. Descartes (1596-1650), B. Spinoza(1632-1677) dan G. Leibniz (1646-1710). Para Filsuf tersebut di atas menekankan pentingnya kemungkinan-kemungkinan akal-budi (“ratio”) didalam mengembangkan pengetahuan
manusia.
5.      Zaman Modern (17-19 M)
Tidaklah mudah membuat garis batas yang tegas antara zaman Renaisance dengan zaman modern. Sementara orang menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan Renaisance. Akan tetapi, pemikiran ilmiah membawa manusia lebih maju kedepan dengan kecepatan yang besar, berkat kemampuan-kemampuan yang dihasilkan oleh masa-masa sebelumnya. Manusia maju dengan langkah raksasa dari zaman uap ke zaman listrik, kemudian ke zaman atom, elektron, radio, televisi, roket dan zaman ruang angkasa.
Zaman ini ditandai dengan berbagai dalam bidang ilmiah, serta filsafat dari berbagai aliran muncul. Pada dasarnya corak secara keseluruhan bercorak sufisme Yunani. Paham – paham yang muncul dalam garis besarnya adalah Rasionalisme, Idialisme, dengan Empirisme. Paham Rasionalisme mengajarkan bahwa akal itulah alat terpenting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Ada tiga tokoh penting pendukung rasionalisme ini, yaitu Descartes, Spinoza, dan Leibniz.
Sedangkan aliran Idialisme mengajarkan hakekat fisik adalah jiwa, spirit. Ide ini merupakan ide Plato yang memberikan jalan untuk memperlajari paham idealisme zaman modern. Para pengikut aliran/paham ini pada umumnya, sumber filsafatnya mengikuti filsafat kritisisismenya Immanuel Kant. Fitche (1762-1814) yang dijuluki sebagai penganut Idealisme subyektif merupakan murid Kant. Sedangkan Scelling, filsafatnya dikenal dengan filsafat Idealisme Objektif .Kedua Idealisme ini kemudian disintesakan dalam Filsafat Idealisme Mutlak Hegel.
Pada Paham Empirisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman. ini bertolak belakang dengan paham rasionalisme. Mereka menentang para penganut rasionalisme yang berdasarkan atas kepastian-kepastian yang bersifat apriori. Pelopor aliran iniadalah Thomas Hobes Jonh locke, dan David Hume.




“HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, PENGETAHUAN DAN ILMU”
1.    Pengertian Filsafat, Pengetahuan dan Ilmu
1)        Pengertian Filsafat
Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab.
Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa Yunani yaitu philosophia – philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.
·         Johann Gotlich Fickte ( 1762-1814 ) : filsafat sebagai Wissenschaftslehre ( ilmu dari ilmu-ilmu ) yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.
·         Paul Nartorp (1854 – 1924) : filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar untuk menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama).
·         Notonegoro: Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat.
·         Driyakarya : filsafat sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebab, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai habis.
·         Sidi Gazalba: Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal.
·         Prof. Mr.Mumahamd Yamin: Filsafat ialah pemusatan pikiran , sehingga manusia menemui kepribadiannya serta didalam kepribadiannya itu sungguh dialaminya.
·         Prof. Ismaun: Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis.
Filsafat menurut para filusuf disebut sebagai induk ilmu. Karena dari filsafatlah ilmu-ilmu modern dan kontemporer berkembang. Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak akan merasa puas jika hanya mengenal ilmu dari sudut pandang ilmu itu sendiri. Jika ingin mengetahui hakikat ilmu, maka akan dikaitkan dengan ilmu lainnya. Misalnya, ingin mengetahui kaitan ilmu dengan moral, ilmu dengan agamanya, dan ingin merasa yakin bahwa ilmu itu akan membawa kebahagiaan terhadap kehidupan dirinya.
Karakteristik berpikir filsafati yang kedua yakni sifatmendasar. Orang yang berpikir filsafati tidak percaya begitu saja bahwa ilmu yang disampaikan itu benar. Mereka akan berpikir bahwa ; mengapa ilmu itu dapat disebut benar? Bagaimana proses penilaian yang berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakah kriteria yang digunakan untuk menilai itu benar? Lalu benar itu apa? Dan seterusnya.
Karakteristik atau ciri berpikir filsafati yang ketiga adalahspekulatif. Artinya, hasil pemikiran yang didapat dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya. Hasil pemikiran selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilyah pengetahuan yang baru (Surajiyo, 2005: 13).
Dalam pemikiran ini, mereka tidak yakin pada titik awal yang menjadi jangkar pemikiran yang mendasar, kemudian mereka akan berspekulasi. Tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan. Apakah yang disebut logis?apakah yang disebut benar?. Dengan ini kita akan mengetahui bahwa semua pengatahuan yang sekarang ada dimulai dari spekulasi. Kemudian dari serangkaian spekulasi ini, akan muncul buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan ilmu pengetahuan.
Filsafat merupakan hasil menjadi sadarnya manusia mengenai dirinya sendiri sebagai pemikir, dan menjadi kritisnya manusia terhadap diri sendiri sebagai pemikir di dalam dunia yang dipikirnya. Sebagai konskuensinya, filusuf tidak hanya membicarakan dunia yang ada di sekitarnya serta dunia yang ada dalam dirinya, namun seorang filusuf juga harus membicarakan perbuatan berpikir itu sendiri.
Cabang ilmu filsafat yang membahas masalah ilmu adalah filsafat ilmu. Tujuan dari filsafat ilmu adalah menganalisis mengenai ilmu pengetahuan dan cara-cara bagaimana ilmu pengetahuan diperoleh. The Liang Gie mendefinisikan filsafat ilmu adalah segenap pemikiran yang reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun  hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistimologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu pengetahuan ilmiah. Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti: obyek apa? Bagaimana hubungannya? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana prosesnya? Bagaimana prosedurnya? Hala apa saja yang perlu diperhatikan agar pengetahuan tersebut benar? Apakah kriteriannya? Bagaimana teknik/caranya?untuk apa pengetahuan tersebut? Bagaimana kaitan dengan ilmu lain?.
Ciri-ciri pikiran kefilsafatan yaitu:
1.      Suatu bagan konsepsional. Perenungan kefilsafatan berusaha untuk menyusun suatu bagan konsepsional. Konsepsi (rencana kerja) merupakan hasil generalisasi serta abstraksi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses satu demi satu. Karena itu, filsafat merupakan pemikiran tenatnag hal-hal serta proses-proses dalam hubungan yang umum.
2.     Saling hubungan antar jawaban-jawaban kefilsafatan. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang satu harus menyangkut dengan pertanyaan-pertanyaan lain.
3.     Sebuah sistem filsafat harus bersifat koheren. Kefilsafatan harus berusaha menyusun suatu bagan yang koheren (runtut), yang konsepsional. Bagan konsepsial yang merupakan hasil perenungan kefilsafatan harus bersiat runtut.
4.    Filsafat merupakan pemikiran secara rasional. Bagan yang telah disusun harus logis pada setiap bagian-bagiannya. Secara logis yaitu harus saling berhubungan satu dengan yang lain.
5.     Filsafat senantiasa bersifat menyeluruh (komprehensif). Suatu sistem filsafat harus bersifat komprehensif tidak ada sesuatupun yang berada diluar jangkauannya.
6.    Suatu pandangan dunia. Perenungan kefilsafatan berusaha memahami segenap kenyataan dengan jalan menyusun suatu pandangan dunia. Didalam filsafat tidak boleh ada misteri, harus sepenuhnya mejelaskan tentang prinsip penjelasan yang dipakainya.
7.     Suatu definisi pendahuluan. Dalam perenungan kefilsafatan kita berusaha mencari dasar-dasar bagi kepercayaan kita. Sebuah definisi yang memadai untuk menjelaskan sesuatu menjadi bermakna seringkali tidak ditemukan pada permulaan, melainkan hanya pada akhir suatu penyelidikan.


2)        Pengertian Pengetahuan
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata  dalam bahasa inggris yaitu knowledge. Dalam encyclopedia of philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowlegde is justified true belief). Menurut Prof. Amsal Bachtiar; pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. 
Jadi, Pengetahuan merupakan Hasil yang didapatkan dari proses penalaran yaitu usaha berpikir dalam menarik suatu kesimpulan serta usahanya untuk tahu. Pengetahuan yang benar akan didapatkan jika manusia dapat melakukan proses kegiatan berpikir secara mendalam
Kegiatan berpikir untuk mendapatkan suatu pengetahuan mempunyai ciri-ciri yaitu:
1.      Logis. Berpikir logis disini adalah suatu kegiatan berpikir menurut suatu pola tertentu atau menurut logika tertentu.
2.     Sifat analitik. Kegiatan berpikir yang menyadarkan diri pada suatu analisis dan kerangka berpikir yang dipergunakan.
Jenis pengetahuan:
1.      Pengetahuan biasa, yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan dengan istilah common sense, dan sering diartikan dengan good sense, karena seseorang memiliki sesuatu dimana ia menerima secara baik. Common sense, semua orang sampai pada keyakinan secara umum tentang sesuatu, dimana mereka akan berpendapat sama semuanya. Common sense diperoleh dari kehidupan sehari-hari. Contoh: makanan dapat memuaskan rasa lapar, air dipakai untuk menyiram bunga.
2.     Pengetahuan ilmu, yaitu usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengamatan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
3.     Pengetahuan filsafat, yaitu pengetahuan yang diperoleh secara lebih luas dan mendalam serta reflektif dan kritis dalam mengkaji sesuatu. Beda dengan ilmu, kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit.
4.    Pengetahuan agama, yaitu pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok, yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan, yang sering disebut hubungan vertikal, dan hubungan horizontal yaitu berhubungan dengan manusia.
Sumber pengetahuan
a.          Empirisme
Kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapat lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman yang konkret. Gejala-gejala alamiah adalah bersifat konkret, dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indera.
b.    Rasionalisme
Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima.
c.     Intuisi
Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawabannya atas permasalahan tersebut, tanpa melalui proses berliku-liku (tiba-tiba menemukan jawaban atas per masalahan tersebut). Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan.
d.    Wahyu
Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat Nabi- Nabi yang diutusnya sepanjang zaman.

3)        Pengertian Ilmu
The Liang Gie mengutip Paul Freedman dari buku The Principles Of Scientific Research memberi batasan ilmu sebagai berikut:
“ilmu adalah suatu bentuk aktiva manusia yang dengan melakukanya umat manusia memperoleh suatu pengetahuan dan senantiasa lebih lengkap dan lebih cermat tentang alam dimasa lampau, sekarang dan kemudian hari, serta suatu kemapuan yang meningkat untuk menyesuaikan dirinya pada dan mengubah lingkungannya serta mengubah sifat-sifatnya sendiri “.
Rumusan lain menurut Carles Siregar yang menyatakan: “ ilmu adalah proses membuat pengetahuan”. Rumusan lain menurut Jujun S. Suriasumantri dalam buku ilmu dalam perspektif menulis: “....ilmu lebih bersifat merupakan kegiatan daripada sekedar produk yang siap dikonsumsikan”.
Dalam The Liang Gie, definisi ilmu sebagai berikut:
Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan.
Dari berbagai kesimpulan diatas dapat disimpulkan bahwa Ilmu merupakan suatu cara berpikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan berupa pengetahuan yang dapat dipercaya atau diandalkan. Ilmu merupakan produk dari proses berpikir menurut langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat dapat disebut sebagar berpikir ilmiah.
Cara berpikir untuk mendapatkan ilmu adalah: pertama alur jalan pikiran harus logis, kedua pernyataan yang bersifat logis tersebut harus didukung dengan fakta empiris.
Perbedaan ilmu dapat ditelusuri dengan melihat ciri-ciri dari ilmu tersebut. Menurut Herber L. Searles memperlihatkan ciri-ciri tersebut sebagai berikut: “kalau ilmu berbeda dengan filsafat berdasarkan empiris, maka ilmu berbeda dari pengetahuan biasa karena ciri sistematisnya.


2.        Perbedaan Filsafat, Pengetahuan, dan Ilmu
Filsafat
Pengetahuan
Ilmu
Mencoba merumuskan pertanyaan atas jawaban. Mencari prinsip-prinsip umum,tidak membatasi segi pandangannya bahkan cenderung memandang segala sesuatu secara umum dan keseluruhan.
Yang dipelajari terbatas karena hanya sekedar kemampuan yang ada dalam diri kita untuk mengetahuis esuatu hal.
Cenderung kepada hal yang dipelajari dari sebuah buku panduan.
Keseluruhan yang ada
Objek penelitian yang terbatas
Ilmu pengetahuan adalah kajian tentang dunia material.
Menilai  objek renungan  dengan suatu makna. Misalkan : religi, kesusilaan, keadilan, dsb
Tidak menilai objek dari suatu sistem nilai tertentu.
Ilmu pengetahuan adalah definisi eksperimental.
Bertugas mengintegrasikan ilmu-ilmu.
Bertugas memberikanjawaban
Ilmu Pengetahuan dapat sampai pada kebenaran melalui kesimpulan logis dari pengamatan empiris


3.        Persamaan Filsafat, Pengetahuan dan Ilmu
·         Ketiganya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki objek selengkap-lengkapnya
·         Ketiganya memberikan pengertian mengenai hubungan yang ada antara kejadian –kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukkan sebab-sebabnya
·         Ketiganya hendak memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan
·         Ketiganya mempunyai metode dan sistem
·         Ketiganya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasratmanusia (objektivitas) akan pengetahuan yang lebih mendasar





“FILSAFAT LOGIKA BERPIKIR MENCARI KEBENARAN”
A.      Pengertian, macam-macam, dan manfaat Logika
1.      Pengertian logika
Dalam filsafat ilmu, logika sangat dibutuhkan untuk menjelaskan dan memahami sebuah gejala keilmuan. Hadiatmaja dan Kuswa Endah  melalui Suwardi Endraswara (2012: 174) menyatakan bahwa logika adalah cabang filsafat umum yang membicarakan masalah berpikir tepat, yaitu mengikuti kaidah-kaidah berpikir yang logis.
Logika berasal dari kata Yunani yaitu “logos” yang berarti ucapan, kata, akal budi, dan ilmu (Suwardi Endraswara, 2012: 173). Secara leksikal, Oxford Advanced Learner’s Dictionary mendefinisikan logika sebagai (1) the science of thinking about or explaining the reasons for something, (2) a particular method or system of reasoning, dan (3) a way of thinking or explaining something, whether right or wrong. Hal senada juga ditegaskan oleh Karomani (2009: 14) yang mendefinisikan logika sebagai suatu kajian tentang bagaimana seseorang mampu untuk berpikir dengan lurus.
Logika adalah ilmu tentang metode dan prinsip yang memelajari segenap asas, aturan dan tata cara mengenai penalaran yang benar untuk membedakan yang benar dan yang salah. Logika merupakan ilmu sekaligus keterampilan berpikir guna memeroleh argumentasi yang nalar ketika digunakan untuk memandang sebuah fenomena (Suwardi Endraswara, 2012: 175).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa logika adalah ilmu atau cara tertentu yang digunakan seseorang dalam rangka berpikir lurus guna mencari alasan, penjelasan, dan jawaban atas sebuah permasalahan.
2.      Macam-macam logika
a.    Logika tradisional atau logika naturalis atau logika kodratiah/alamiah (second order), yaitu cara berpikir sederhana berdasarkan kodrat atau naluri fitrah manusia yang sejak lahir sudah dilengkapi alat berpikir, sebagai contoh:

“Makan tidak sama dengan minum”.
“Seseorang yang lapar pasti ingin makan”.
“Seseorang yang haus pasti ingin minum”.
Logika tradisional ini sering disebut juga logika bahasa atau logika linguistik karena logika jenis ini sering berfungsi untuk menganalisa bahasa (Suwardi Endraswara, 2012: 178). Menurut Noeng Muhadjir (2011: 23-24) logika tradisional terbagi lagi menjadi dua macam, yaitu:
·           Logika formil deduktif Aristoteles.
Disebut deduktif karena pembuktian diambil dari premis mayor yang dipandang mutlak benar, untuk membuktikan kasus (yang disebut premis minor) dan apabila terdapat kecocokan (dalam makna implisit) dengan premis mayor, maka kesimpulan kasus itu benar. Sedangkan disebut formil karena kebenaran diuji berdasarkan sinkrunnya proposisi-proposisi mayor-minor dan term tengahnya, bukan diuji berdasarkan kebenaran materiil. Contoh:
Semua manusia (subyek mayor) dapat mati (predikat mayor)
Si Ali (term tengah) itu manusia (subyek mayor)
“Jadi: Si Ali (term tengah) dapat mati (predikat mayor)”
·           Logika materiil axiomatik Euclides.
Logika jenis ini disebut materiil karena pembuktian kebenaran berdasarkan bukti empiris. Kebenarannya didasarkan pada cocoknya rasio dengan bukti empiris. Logika ini juga disebut axiomatik karena pembuktian kebenaran berdasar axioma atau kebenaran universal. Contohnya:
“Matahari terbit dari dari Timur dan terbenam di Barat”.
b. Logika Modern atau logika artifisialis atau logika matematika/simbolik atau logika ilmiah (first order), yaitu jenis logika yang menerapkan prinsip-prinsip matematik terhadap logika tradisional dengan menggunakan lambang-lambang (non-bahasa). Dengan kata lain logika jenis ini menggunakan cara berpikir matematis. Fakta yang dipakai adalah fakta-fakta obyektif yang andal, sehingga daya tahan logika ini agak lama. Dengan kata lain logika jenis ini mempelajari hukum-hukum, prinsip-prinsip, dan bentuk-bentuk pikiran manusia yang jika dipatuhi akan membimbing manusia untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang lurus dan sah (Suwardi Endraswara: 2012: 181-186). Sebagai contoh:
A > B (A lebih besar dari B)
A = C (A sama dengan C)
C > B (C lebih besar dari B) atau B < C (B lebih kecil dari C)
c.    Logika Linguistik atau Logika Bahasa
Telah dipaparkan sebelumnya bahwa logika bahasa/linguistik (second order) digunakan untuk mengambil kesimpulan fakta-fakta bahasa dan sastra. Terdapat dua teori terkait pemahaman bahasa dan sastra yaitu: (1) formal thinking yaitu teori bahasa platonik, bahwa manusia sebenarya dapat bepikir formal sehingga menghasilkan subyek, predikat, dan objek, dan (2) subjective thinking, yaitu teori bahasa chomsky, bahwa sesuatu yg diekspresikan berada dalam pikiran manusia (Suwardi Endraswara, 2012: 181).
Logika bahasa adalah cara berpikir menggunakan gagasan yang diawali dengan hal-hal atau fakta yang bersifat khusus yang dituangkan dalam beberapa kalimat atau berupa kalimat penjelasan berdasarkan penjelasan itu berakhir pada kesimpulan umum yang dinyatakan dengan kalimat topik. Dengan kata lain logika bahasa menggunakan alur berpikir induktif. Contohnya:
Kuda Sumba punya sebuah jantung        (Penjelasan)
Kuda Australia punya sebuah jantung     (Penjelasan)
Kuda Amerika punya sebuah jantung     (Penjelasan)
Kuda Inggris punya sebuah jantung         (Penjelasan)
Setiap kuda punya sebuah jantung          (Kalimat Topik)
Bahasa yang baik dan benar dalam praktik kehidupan sehari-hari hanya dapat tercipta apabila ada kebiasaan atau kemampuan dasar dari setiap orang untuk berpikir logis. Sebaliknya, suatu kemampuan berpikir logis tanpa kemampuan bahasa yang baik, maka ia tidak akan dapat menyampaikan isi pikiran kepada orang lain.
d. Logika Matematis
Logika matematikaadalah sebuah alat berpikir yang menggunakan pernyataan-pernyataan (statements) majemuk termasuk di dalamnya:
·         Bahasa untuk merepresentasikan pernyataan.
·         Notasi yang tepat untuk menuliskan sebuah pernyataan.
·         Metodologi untuk bernalar secara objektif untuk menentukan nilai benar-salah dari sebuah pernyataan.
·         Dasar-dasar untuk menyatakan pembuktian formal dalam semua cabang matematika.
e.  Logika Filosofis
Menurut Russell melalui Suwardi Endraswara (2012: 183-185) membagi logika ke dalam tiga tipe yaitu: logika tradisional klasik, logika evolusionisme, dan logika atomisme.
·           Logika tradisional klasik
Perhatian utama adalah para filsuf Yunani yang menekankan pasa rasio sebagai perhatian utamanya. Dengan kata lain rasio merupakan satu-satunya keabsahan yang sahih. Metode deduksi apriori digunakan dalam tipe ini untuk mengkaji fenomena yang ada. Semua realitas adalah suatu kesatuan dan tidak ada perubahan. Logika dalam bentuk ini dikonstruksikan melalui proses negasi. Dunia dibentuk oleh logika dan disempurnakan oleh pengalaman.
·         Logika evolusionisme
Logika tipe ini menekankan dan mendasarkan pada ilmu pengetahuan. Evolusionisme bukan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya dan juga bukan metode untuk memecahkan masalah. Filsafat sesungguhnya adalah suatu yang lebih kuat sekaligus lebih longgar, menguak harapan-harapan tentang keduniaan dan membutuhkan beberapa disiplin ilmu supaya berhasil dalam mempraktikkannya.
·         Logika atomisme
Logika tipe ini mempunyai tujuan untuk mengupas habis struktur hakiki bahasa dan dunia. Tujuan ini dicapai melalui jalan analisis. Logika tipe ini, didasarkan pada pemikiran matematis.
f.  Logika Pragmatik
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.
3.    Manfaat logika
a.       Logika menyatakan, menjelaskan, dan mempergunakan prinsip-prinsip abstrak yang dapat dipakai dalam semua lapangan ilmu pengetahuan bahkan seluruh lapangan kehidupan.
b.      Logika menambah daya berpikir abstrak dan dengan demikian melatih dan mengembangkan daya pemikiran dan menimbilkan disiplin intelektual.
c.       Logika mencegah kita tersesat oleh segala sesuatu yang kita peroleh berdasarkan otoritas, emosi, dan prasangka.
d.      Logika membantu kita untuk mampu berpikir sendiri dan tahu membedakan yang benar dan yang salah.
e.       Logika membantu orang untuk dapat berpikir lurus, tepat dan teratur karena dengan berpikir demikian seseorang
B.     Pengertian, macam-macam, dan manfaat kebenaran
1.    Pengertian kebenaran
Maksud hidup ini adalah untukmencari kebenaran. Kebenaran inimenurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah keadaan (hal dsb) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya. Sementara menurut Syafi’i dikutip oleh Marwardidalam artikelnya, “Kebenaran dalamperspektif filsafat ilmu” mengatakanbahwa kebenaran itu adalah kenyataan.  Kenyataan yang dimaksud itu tidak selalu yang seharusnya terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidakbenaran (keburukan). Jadi, ada dua pengertian kebenaran, yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata di satu pihak, dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran).
Kebenaran adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Pernyataan ini pasti, dan tidak dapat dipungkiri lagi. Manusia selalu ingin tahu kebenaran, karena hanya kebenaranlah yang bias memuaskan rasa ingin tahu, dengan kata lain tujuan pengetahuan ialah mengetahui kebenaran.
Kita manusia bukan hanya sekedar ingin tahu, tetapi ingin mengetahui kebenaran. Kita juga selalu ingin memiliki pengetahuan yang benar. Kebenaran ialah persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyeknya.
2.      Macam-macam kebenaran
Terdapat banyak pandangan mengenai teori kebenaran dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu, di antaranya adalah kebenaran empiris, kebenaran rasional, kebenaran ilmiah, kebenaran intuitif,dan kebenaran relegius.
a.       Kebenaran empiris.
Empiris adalah suatu keadaan yang bergantung bukti atau konsekuensi yang teramati olehindera. Data empiris yang dihasilkan dari percobaan atau pengamatan (Wikipedia).Jadi, empiris itu artinya kelihatan jelas, ada pembuktiannya, bias kita dengar, sentuh, berdasarkan padahal-hal yang kelihatan dan sudahdiuji kebenarannya. 
Merupakan hal yang dapat di inderawi, hal yang di rasakan oleh manusia dengan inderanya. Secara lebih jelas dengan contoh berikut ini:
·         Api itu panas.
·         Es itu dingin.
·         Daun itu hijau.
b.      Kebenaran Rasional.
Rasional berarti menurut pikiran dan pertimbangan yang logis; menurut pikiran yang sehat; cocok dengan akal. Rasionalisme adalah pandangan bahwa kita mengetahui apa yang kita pikirkan dan bahwa akal mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan kebenaran dengan diri sendiri, atau bahwa pengetahuan itu diperoleh dengan cara membandingkan ide dengan ide Basman (2009: 30).
Manusia merupakan makhluk hidup yang dapat berpikir, sehingga kemampuannya tersebut dapat menangkap ide atau prinsip tentang sesuatu yang pada akhirnya sampai kepada kebenaran, yaitu kebenaran rasional. Sebagai contoh berikut:
“Ketika TV kita tidak berfungsi dengan baik maka dapat dipikir bahwa dan dipastikan kalau ada komponen di dalam TV yang rusak atau sudah perlu diganti. Pemikiran tentang ada sesuatu yang tidak beres ini merupakan suatu hal rasional yang timbul dari fenomena TV dan dapat dipastikan pikiran rasional ini benar”.
c.       Kebenaran Ilmiah.
Kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang muncul dari hasil penelitian ilmiah dengan melalui prosedur baku berupa tahap-tahapan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang berupa metodologi ilmiah yang sesuai dengan sifat dasar ilmu.
Oleh karena itu, kebenaran ilmiah sering disebut sebagai kebenaran nisbi atau relatif. Sifat kebenaran ini sesuai dengan sifat keilmuan itu sendiri yang dapat berubah sesuai dengan perkembangan hasil penelitian, karena suatu teori pada masa tertentu bisa jadi merupakan kebenaran, tetapi pada masa berikutnya bisa jadi sebuah kesalahan besar. Contoh kebenaran ilmiah:
·         Bumi itu bulat dan tidakdatar.
·         Air mendidih pada 100°C
d.      Kebenaran Intuitif
Intuitif merupakan suatusarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Unsurutama bagi pengetahuan adalah kemungkinan adanya sesuatu bentuk penghayatan langsung (intuitif) Bergson dalam Muslih (2004: 68).
 Pendekatan ini merupakan pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui proses penalaran tertentu.Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan.Bahwa intuisi yang dialami oleh seseorang bersifat khas, sulit atau tidak bisa dijelaskan, dan tidak bisa dipelajari atau ditiru oleh orang lain. Bahkan seseorang yang pernah memperoleh intuisi sulit atau bahkan tidak bias mengulang pengalaman serupa, misalnya,seorang yang sedang menghadapi suatu masalah secara tiba-tiba menemukan jalan pemecahan dari masalah yang dihadapi atau secara tiba-tiba seseorang memperoleh informasi mengenai peristiwa yang akan terjadi.
e.         Kebenaran Religius.
Kebenaran religius ialah kebenaran Ilahi, kebenaran yang bersumber dari Tuhan. Kebenaran ini disampaikan melalui wahyu. Manusia bukan semata makhluk jasmani yang ditentukan oleh hukum alam dan kehidupan saja,ia juga makhluk rohaniah sekaligus pendukung nilai.
Kebenaran tidak cukupdiukur dengan interes dan rasioindividu,akan tetapi harus bisa menjawab kebutuhan dan memberi keyakinan pada seluruh umat. 
Karena itu kebenaranharuslah mutlak,berlaku sepanjang sejarah manusia.Contoh kebenaran religius:
·         Tentang madu.
·         Alkitab 
C.      Cara mendapatkan kebenaran dalam sudut pandang logika
Bagaimana Mendapatkan Kebenaran itu ditinjau dari sisi LOGIKA. Seperti kita ketahui bersama, fungsi  dasar dari Logika adalah menentukan penalaran Akal kita untuk dapat memisahkan mana yang Benar dan Mana yang Tidak Benar. Benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain, para tokoh-tokoh Filsuf Seperti Charles S Pierce ( 1914 – 1939 ) yang menganut Teori Pragmatisme dalam mencari kebenaran lebih dititik beratkan pada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Tiga teori yang menjadi dasar dari sisi Pragmatis adalah :
·         Sesuai Keinginan dan Tujuan
·         Adanya Keseuaian dalam Eksperimen
·         Eksistensi
Konsep Logika atau Logika Itu sendiri adalah cabang ilmu Filsafat yang secara tidak langsung akan berhubungan langsung terhadap kaidah-kaidah yang ada didalamnya. Dalam logika dikenal metode cara mendapatkan Kebenaran dangan metoda cara Berfikir secara Induksi dan Deduksi dimana didalamnya telah dilakukan penelitian-penelitian yang sistematis, tepelajar berdasarkan bidang ilmu atau object yang menjadi tujuan Pengetahuan.
Dalam proses penalaran yang akan dilakukan secara induktif atau deduktif kita tidak boleh melalaikan pokok-pokok yang oleh logika disebut azas Berpikir (Drs. H Mundari ), kapasitas dari asas ini adalah mutlak agar kita bisa lurus dalam berpikir , tiga asas pemikiran antara lain :
·         Asas Identitas
·         Asas Kontradiksi
·         Asas Penolakan Kemungkinan Ketiga.
CARA MENDAPATKAN KEBENARAN dalam sudut pandang LOGIKA adalah dengan tercapainya syarat syarat Keseluruhan Sistem analisis dalam mengambil atau mendapatkan Konklusi atau kesimpulan terhadap suatu keilmuwan, titik dari pengetahuan adalah tercapainya kebenaran Keilmuwan. Keilmuwan memiliki sifat logis yang oleh karena itu kepentingan keilmuwan tidak mungkin melepaskan Kepentingannya terhadap Logika.




“TEORI  KEBENARAN”
A.Pengertian Kebenaran
            Kebenaran adalah keadaan yang sesuai dengan nilai esensialnya atau keadaan yang dianggap sebagai sebenarnya atau orisinal. Kebenaran merupakan satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha "memeluk" suatu kebenaran. Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah. Kriteria ilmiah dari suatu ilmu memang tidak dapat menjelaskan fakta dan realitas yang ada. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan yang berada dalam lingkup religi ataupun yang metafisika dan mistik, ataupun yang non ilmiah lainnya. Di sinilah perlunya pengembangan sikap dan kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam dunianya.  Penegasan di atas dapat kita pahami karena apa yang disebut ilmu pengetahuan diletakkan dengan ukuran, pertama, pada dimensi fenomenalnya yaitu bahwa ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat, sebagai proses dan sebagai produk. Kedua, pada dimensi strukturalnya, yaitu bahwa ilmu pengetahuan harus terstruktur atas komponen-komponen, obyek sasaran yang hendak diteliti (begenstand), yang diteliti atau dipertanyakan tanpa mengenal titik henti atas dasar motif dan tata cara tertentu,sedang hasil-hasil temuannya diletakkan dalam satu kesatuan system.
Maksud dari hidup ini adalah untuk mencari kebenaran. Tentang kebenaran ini,Plato pernah berkata: "Apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley menjawab; "Kebenaran itu adalahkenyataan", tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidak benaran (keburukan).Dalam bahasan, makna "kebenaran" dibatasi pada kekhususan makna "kebenaran keilmuan (ilmiah)". Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng,melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan. Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan. Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral,tak bermuara, dapat melunturkan pengertian kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran. Selaras dengan Poedjawiyatna yang mengatakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif.
 Meskipun demikian, apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih jatilagi dan demikian seterusnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang transenden,dengan kata lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden, artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat diluar jangkauan manusia. Kebenaran dapat dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran moral, kebenaran logis, dan kebenaran metafisik. Kebenaran moral menjadi bahasan etika, ia menunjukkan hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan psikologi, ia merupakan hubungan antara pernyataan dengan realitas objektif. Kebenaran metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akal budi, karena yang ada mengungkapkan diri kepada akal budi. Yang ada merupakan dasar dari kebenaran, dan akal budi yang menyatakannya.
B. Teori Kebenaran
1.        Teori Kebenaran Koherensi
Yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsure tersebut, baik berupa skema, system, ataupun nilai. Koherensi bias pada tatanan sensual rasional maupun pada dataran transcendental.
Teori koherensi dapat juga disebut dengan teori konsistensi, yaitu teori yang mengatakan, suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar secara logis.
Contoh : Pernyataan “Seluruh mahasiswa UNTAG harus mengenakan almamater saat perkuliahan berlangsung”. Sulis adalah mahasiswa UNTAG, Sulis harus mengenakan almamater saat perkuliahan berlangsung. Pernyataan tersebut adalah benar sebab pernyataan kedua konsisten dengan pernyataan pertama.
2.    Teori Kebenaran Korespondensi
Teori korespondensi berpandangan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar apabila materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan pernyataan yang ada di alam atau obyek yang dituju pernyataan tersebut.
Berfikir korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu yang lain. Korespondensi relevan dibuktikan dengan adanya kejadian yang sejalan atau berlawanan arah antara kenyataan dengan fakta yang diharapkan.
Contoh : Pernyataan “Ibu adalah orang yang melahirkan kita”, pernyataan tersebut benar karena faktanya memang ibulah yang telah melahirkan kita. Sedangkan pernyataan lain “Bapak adalah orang yang melahirkan kita”, pernyataan tersebut tidak benar sebab tidak ada obyek yang berhubungan dengan pernyataan tersebut. Jadi secara faktual “Orang yang melahirkan kita bukan bapak, melainkan ibu”
3.    Teori Kebenaran Performatif
Adalah kebenaran yang diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Masyarakat dapat menganggap suatu hal itu benar, meski terkadang bertentangan dengan bukti-bukti empiris.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusian terkadang harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yakni pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat, dan sebagainya.
Kebenaran performatif cenderung menjadikan manusia kurang inisiatif dan inovatif, karena mereka hanya mengikuti kebenaran dari pemegang otoritas, sehingga tidak terbiasa berfikir secara kritis dan rasional.
Contoh : Ketua RT memutuskan bahwa hari minggu pada minggu pertama tiap bulan akan menjadi agenda rutin untuk para warga melaksanakan kerja bakti, sebagian masyarakat menyetujuinya, namun juga sebagian masyarakat ada yang tidak setuju dengan keputusan tersebut.

4.    Teori Kebenaran Pragmatis
Teori pragmatis mengatakan bahwa pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Maksudnya, suatu pernyataan adalah benar apabila pernyataan atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.
Contoh : Seseorang yang mencetuskan ide untuk menciptakan suatu alat perontok padi, kemudian ide tersebut direalisasikan hingga tercipta alat perontok padi yang dapat digunakan oleh manusia untuk mempermudah pekerjaannya dalam proses merontokkan padi. Maka alat perontok padi dianggap benar, karena alat tersebut adalah fungsional dan mempunyai kegunaan.
5.    Teori Kebenaran Proposisi
Menurut Aristoteles, proposisi (pernyataan) dikatakan benar apabila sesuai dengan persyaratan formal suatu proposisi. Kemudian pendapat lain dari Euclides, proposisi bernilai benar tidak dilihat dari benar formalnya, tetapi dilihat dari benar menurut materialnya.
6.    Teori Kebenaran Paradigmatik
Yakni suatu teori yang menyatakan benar apabila teori itu berdasarkan pada paradigma atau perspektif tertentu dan ada komunitas ilmuan yang mengakui paradigma tersebut. Kebenaran paradigmatik sebenarnya pengembangan dari kebenaran korespondensi. Paradigma berfungsi sebagai keputusan yuridiktif yang diterima dalam hukum tak tertulis






 “FILSAFAT MANUSIA”
1.                   Pengertian Filsafat Manusia
Filsafat manusia, dalam bahasa Inggris disebut philosophy of man, merupakan bagian dari filsafat yang berupaya menelisik eksistensi seorang manusia. Filsafat manusia berupaya melukiskan siapa sebenarnya makhluk yang kita sebut sebagai manusia itu srcara total.[1]Filsafat manusia juga disebut dengan antropologi filosofis. Pada intinya filsafat manusia adalah ilmu filsafat yang membahas tentang manusia yang mencakup seluruh dimensinya. yaitu, membahas tentang fisik manusia, mental manusia, nilai, makna, tujuan hidup dan segala hal yang berhubungan dengan eksistenai hidup seorang manusia.
Filsafat manusia dalam konteks ini mempunyai kedudukan yang kurang lebih setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya seperti etika, epistemologi, kosmologi, filsafat sosial, dll. Akan tetapi filsafat manusia mempunyai kedudukan yang lebih istimewa karna semua cabang-cabang filsafat tersebut pada prinsipnya berawal dan berakhir pada persoalan mengenai esensi manusia yang merupakan objek kajian dari filsafat manusia.
2.                   Hakikat Tujuan Hidup Manusia
Hakikat manusia dapat dilihat dari tahapannya. Nafs, keakuan, diri, ego. Dimana pada tahapbini semua unsur membentuk kesatuan diri yang aktual, kekinian dan dinamik yang beradaa dalam perbuatan dan amalnya. Secara substansial dan moral, manusia lebih buruk dari pada iblis, tetapi secara konseptual manusia lebih baik karna manusia memiliki kemampuan kreatif. Tahapan nafs hakikat manusia ditentukan oleh amal, karya dan perbuatannya. Sedangkan pada tauhid hakikat manusia sebagai 'adb dan khalifah, kesatuan aktualisasi sebagai kesatuan jasad dan ruh yang membentuk pada tahapan nafs secara aktual.
Memahami hakikat manusia dan kesadarannya tidak dapat dilepaskan dengan dunianya. Hubungan manusia harus dan selaku dikaitkan dengan dunia dimana ia berada. Dunia bagi manusia adalah bersifat tersendiri. Manusia dalam kehadirannya tidak pernah terpisah dari dunia dan hubungannya dengan dunia manusia bersifat unik. Status unik manusia dengan dunia dikarenakan manusia dalam kapasitasnya dapat mengetahui, mengetahui merupakan tindakan yang mencerminkan orientasi manusia terhadap dunia. Dari sini muncullah kesadaran atau tindakan otentik, dikarenakan kesadaran merupakan penjelasan eksistensi manusia di dunia. Orientasi di dunia yang terpusat pada kemampuan pemikiran adalah proses mengetahui dan memahami. Manusia sebagai proses dan sebagai makhluk sejarah yang terikat dalam ruang dan waktu. Manusia memiliki kemampuan dan harus bangkit dan terlibat dalam proses sejarah dengan cara untuk menjadi lebih.
Hakikat kehidupan manusia adalah menuju kematian, suka tidak suka, mau tidak mau, manusia pasti akan mengalami yang namanya mati. Sesungguhnya kita datang kedunia ini bukanlah atas kehendak kita, manusia datang kedunia, bukanlah atas kehendak manusia itu sendiri, tetapi manusia datang kedunia atas kehendak Allah Swt. Oleh karena itu, dalam menjalani kehidupan, manusia tidak boleh menyia-nyiakan masa hidupnya, manfaatkan apa yang telah dikaruniakan kepada kita untuk berbuat kebajikan.
Pada hakikatnya tujuan manusia dalam menjalankan kehidupannya mencapai perjumpaan kembali dengan Penciptanya. Perjumpaan kembali tersebut seperti kembalinya air hujan kelaut. Kembalinya manusia sesuai dengan asalnya sebagaimana dalam dimensi manusia yang berasal dari Pencipta maka ia kembali kepada Tuhan sesuai dengan bentuknya misalkan dalam bentuk imateri maka kembali kepada pencinta dalam bentuk imateri. sedangkan unsur materi yang berada dalam diri manusia akan kembali kepada materi yang membentuk jasad manusia.
3.                   Kodrat Manusia
Apa itu kodrat manusia? kodrat manusia adalah sifat dasar manusia yang dibawa sejak lahir sampai meninggal dunia. Sifat dasar inilah yang menentukan sikap dan perbuatan manusia. Sifat dasar ini harus dikembangkan secara optimal bila ingin menjadi manusia yang unggul. Namun jika tidak maka manusia itu akan jatuh pada perbuatan sesat dan jahat.
Dalam kehidupan masyarakat umumnya terdapat tiga konsep tentang kodrat manusia. Pertama, kodrat manusia itu netral artinya tidak baik dan tidak buruk atau jahat. Kedua, kodrat manusia itu bisa baik atau bisa buruk atau jahat artinya bahwa kebaikan atau keburukan ada pada diri manusia. Ketiga, sebagian melihat kodrat manusia itu baik dan sebagian lainnya melihat kodrat manusia itu buruk atau jahat.
Menurut Mensius (Men Chi) ahli filsafat dari Cina, kodrat manusia pada dasarnya itu adalah baik. seperti contoh sebagai berikut. Jika seseorang melihat ada seorang anak kecil sedang bermain di tepi sungai dan ketika saat bermain anak kecil itu hampir tercebur ke sungi, maka dengan tanpa berpikir panjang orang tersebut akan segera menghampiri dan berusaha untuk membantu anak tersebut agar tidak tercebur ke sungai. Rasa iba dan membantu anak tersebut bukan karena ingin dipuji oleh orang tua anak atau orang lain yang melihat. Tetapi semata-mata merupakan rasa iba dan tolong menolong yang bersumber pada kodratnya untuk membantu sesama jika terjadi kesulitan. Rasa iba inilah yang memunculkan rasa kemanusiaan dari dalam diri orang tersebut.
Mensius menunjukkan kebaikan kodrat manusia ada empat unsur fundamental dan khas yang ada hanya pada manusia. Keempat unsur tersebut adalah.
1)                  Simpati. Menurutnya rasa simpati merupakan dasar dari rasa kemanusiaan.
2)                  Malu dan segan. Rasa malu dan segan merupakan dasar dari kebenaran dan keadilan.
3)                  Rendah hati dan kerelaan. Perasaan rendah hatidan kerelaan merupakan dasar dari kesusilaan atau kesopanan.
4)                  Setiap manusia di dalam dirinya mampu memahami dan membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Memahami apa yang benar dan apa yang salah merupakan dasar dari kebijaksanaan atau kearifan.
Apabila empat unsur fundamental ini tidak ada dalam diri manusia, maka orang tersebut bukanlah manusia normal. Keempat unsur inilah yang juga membedakan manusia dengan binatang karena binatang tidak memiliki empat unsur tersebut. Keempat unsur fundamental yang hanya dimiliki manusia ini melekat dengan kuat dalam hati manusia. Dengan kata lain kebaikan dan kodrat manusia bersumber pada hati. Orang yang bertindak menurut hatinya berarti bertindak menurut kodratnya.
Manusia yang mencintai sesamanya dan menciptakan perdamaian dalam kehidupan bersama merupakan tindakan yang didasarkan pada kodratnya yang baik. Dan kebaikan kodrat manusia itu bersumber pada hati. Hati adalah adalah pusat kemanusiaan yang memberi warna khusus pada manusia dan membedakan dari binatang yang berakal budi. Dari hati lahirlah kesadaraan diri sebagai manusia. kehendak untuk bersikap patuh, berlaku benar dan salah, mengetahui yang baik dan yang buruk. Karena kodrat manusia merupakan sebuah keniscayaan pada manusia.
4.                   Kodrat kedua dari seorang Socrates.
Dalam dialog yang menceritakan kematian Socrates, Plato menggambarkan sebuah potret klasik dari warga negara yang beradab. Pada sore hari setelah dijatuhi hukuman mati, Socrates berdebat dengan teman-temannya. Para petugas penjara membiarkan pintu penjara itu terbuka, tetapi Socrates malah menjelaskan mengapa ia menolak melarika diri. Socrates mengatakan bahwa dia sendiri bukanlah organisme dari otot dan tulangnya, daya refleknya, perasaannya dan nalurinya. Ia, Socrates, adalah pribadi yang memerintah organisme itu.
Teman-teman Socrates, yang berada disana pada hari terakhir itu, mungkin akan mengatakan bahwa adalah "manusiawi" kalau ia ingin melarikan diri apabila kesempatan itu ada. Akan tetapi Socrates memilih untuk melakukan yang sebaliknya dan menegaskan bahwa ia adalah manusia paripurna, manusia utuh, karena ia rela dan mampu memerintah keinginan-keinginannya.
Inti cerita itu adalah bahwa Socrates tidak mau menyelamatkan dirinya karena seorang warga negara Athena tidak akan mencurangi hukum, apalagi kalau itu dilakukan untuk keuntungan pribadi. Jika Athena akan diperintah, maka haruslah oleh warga negara yang dengan kodrat mereka yang kedua yaitu lebih senang taat hukum daripada kepuasan dorongan batin mereka sendiri, bahkan bila perlu lebih dari keinginan hidup mereka sendiri.
Inilah citra batin seseorang yang pantas untuk memerintah. Didalam dirinya, dia diperintah oleh kodrat keduanya yang beradab. Jati diri yang sesungguhnya berkuasa atas hidup dan mati dirinya yang alamiah. Karena hanya pribadi yang beradablah yang memenuhi persyaratan sebagai pemilik hukum dan lembaga Atena dan pemilik idealisme kehidupan, padanya ia berbakti. Semuaitu adalah tujuan dari karakternya sendiri, yang telah terbangun sebagai bagial keberadaannya yang dia sebut sebagai jati diri.






“TATARAN KEILMUAN ONTOLOGI, EPISTIMOLOGI, DAN AKSIOLOGI”
1.      Ontologi
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis yang terkenal diantaranya Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum mampu membedakan antara penampakan dengan kenyataan.
Pengertian Ontologi
a.    Menurut Bahasa :
Ontologi berasal dari BahasaYunani, yaitu on / ontos = being atau ada, dan logos = logic atau ilmu.
Jadi, ontology bias diartikan :
The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan), atau Ilmu tentang yang ada.
b.      Pengertian menurut istilah :
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani / kongkret maupun rohani / abstrak (Bakhtiar, 2004).
Paham–paham dalam Ontologi
Dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok/aliran-aliran pemikiran antara lain: Monoisme, Dualisme, Pluralisme, Nihilisme, dan Agnotisisme.
a.         Monoisme
Paham ini menganggap bahwah akikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua, baik yang asal berupa materi atau pun rohani. Paham ini kemudian terbagi ke dalam 2 aliran :
1). Materialisme
Aliran materialisme ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh Bapak Filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Dia berpendapat bahwa sumber asal adalah air karena pentingnya bagi kehidupan. Aliran ini sering juga disebut naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi/alam, sedangkan jiwa /ruh tidak berdiri sendiri. Tokoh aliran ini adalah Anaximander (585-525 SM).  Dia berpendapat bahwa unsur asal itu adalah udara dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala kehidupan. Dari segi dimensinya paham ini sering dikaitkan dengan teori Atomisme. Menurutnya semua materi tersusun dari sejumlah bahan yang disebut unsur. Unsur-unsur itu bersifat tetap tak dapat dirusakkan. Bagian-bagian yang terkecil dari itulah yang dinamakan atom-atom. Tokoh aliran ini adalah Demokritos (460-370 SM). Ia berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat di hitung dan amat halus. Atom-atom inilah yang merupkan asal kejadian alam.
2). Idealisme
Idealisme diambil dari kata idea, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idelisme sebagai lawan materialisme, dinamakan juga spiritualisme. Idealisme berarti serbacita, spiritualisme berarti serba ruh. Aliran idealisme beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang.
b.        Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari 2 macam hakikat sebagai asal sumbernya yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit.
Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan).Tokoh yang lain : Benedictus De spinoza (1632-1677 M), dan Gitifried Wilhelm Von Leibniz (1646-1716 M).
c.       Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Lebih jauh lagi paham ini menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara. Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M) yang terkenal sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika. Dalam bukunya The Meaning of  Truth, James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiris endiri, lepas dari akal yang mengenal. Apa yang kita anggap benar sebelumnya dapat dikoreksi / diubah oleh pengalaman berikutnya.
d.        Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Doktrin tentang nihilism sudah ada semenjak zamanYunani Kuno, tokohnya yaitu Gorgias (483-360 SM) yang memberikan 3 proposisi tentang realitas yaitu: Pertama, tidak ada sesuatu pun yang eksis, Kedua, bila sesuatu itu ada ia tidak dapat diketahui, Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. Tokoh  modern aliran ini diantaranya: IvanTurgeniev (1862 M) dari Rusia dan Friedrich Nietzsche (1844-1900 M), ia dilahirkan di Rocken di Prusia dari keluarga pendeta.
e.         Agnotisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun ruhani. Kata Agnoticisme berasal dari bahasa Greek yaitu Agnostos yang berarti unknown A artinya not Gno artinya know.Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti: Soren Kierkegaar (1813-1855 M), yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme dan Martin Heidegger (1889-1976 M) seorang filosof Jerman, serta Jean Paul Sartre (1905-1980 M), seorang filosof dan sastrawan Prancis yang atheis(Bagus, 1996).
2.      Epistimologi
Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Dalam pembahasan filsafat, epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat. Epistemologi adalah teori pengetahuan, yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan.
Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. Ketika kita membicarakan epistemologi, berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Dari sini setidaknya didapatkan perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan aksiologi.
Pengertian Epistemologi
Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge).
Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.
Pengertian lain, menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005).
Ruang Lingkup Epistemologi
M.Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan validitas pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan. Bahkan, A.M Saefuddin menyebutkan, bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai dimanakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok; masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu.
M. Amin Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. Sementara itu, aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi, atau setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian yang layak.
Kecenderungan sepihak ini menimbulkan kesan seolah-olah cakupan pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan metode pengetahuan, bahkan epistemologi sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi secara sistemik, seserorang cenderung menyederhanakan pemahaman, sehingga memaknai epistemologi sebagai metode pemikiran, ontologi sebagai objek pemikiran, sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran, sehingga senantiasa berkaitan dengan nilai, baik yang bercorak positif maupun negatif. Padahal sebenarnya metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi.
Objek Dan Tujuan Epistemologi
Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal. Objek material adalah sarwa-yang-ada, yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan, hakikat alam dan hakikat manusia. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya, sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwa-yang-ada).
Objek epistemologi ini menurut Jujun S.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali.
Tujuan epistemologi menurut Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. Hal ini menunjukkan, bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari, akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu, yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan.
3.       Aksiologi
Pengertian Aksiologi
Menurut Kamus Filsafat, Aksiologi Berasal dari bahasa Yunani Axios (layak, pantas) dan Logos (Ilmu). Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai. Jujun S.Suriasumantri mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Aksiologi berkaitan dengan kegunaan dari suatu ilmu, hakekat ilmu sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang didapat dan berguna untuk kita dalam menjelaskan, meramalkan dan menganalisa gejala-gejala alam. (Cece Rakhmat, 2010)
Dari pendapat diatas dapat dikatakan bahwa Aksiologi merupakan  ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan.
Penilaian Aksiologi
Bramel (Jalaluddindan Abdullah,1997) membagi aksiologi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral. Bidang ini melahirkan disiplin khusus yakni etika. Kajian etika lebih focus pada prilaku, norma dan adat istiadat manusia. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu mempertanggung jawabkan apa yang ia lakukan. Di dalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya adalah tingkah laku yang penuh dengan tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, alam maupun terhadap Tuhan sebagai sang pencipta.
Bagian kedua dari aksiologi adalah esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena disekelilingnya.
Mengutip pendapatnya Risieri Frondiz (BakhtiarAmsal, 2004), nilai itu objektif ataukah subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangannya yang muncul dari filsafat. Nilai akan menjadi subjektif, apabila subjek sangat berperan dalam segala hal, kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya; atau eksistensinya, maknanya dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis ataupun fisik. Dengan demikian nilai subjekif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia seperti perasaan, intelektualitas dan hasil nilai subjektif akan selalu mengarah pada suka atau tidak suka, senang atau tidaks enang.
Selanjutnya nilai itu akan objektif, jika tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam filsafat tentang objektivisme. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, sesuatu yang memiliki kadar secara realitas benar-benar ada (Bakhtiar Amsal, 2004).
Bagian ketiga dari Aksiologi adalah , sosio-political life, yaitu kehidupan social politik yang akan melahirkan filsafat sosiopolitik.Manfaat dari ilmu adalah sudah tidak terhitung banyaknya manfaat  dari ilmu bagi manusia dan makhluk hidup secara keseluruhan. Mulai dari zamannya Copernicus sampai Mark Elliot Zuckerberg , ilmu terus  berkembang dan memberikan banyak manfaat bagi manusia.  Dengan ilmu manusia bisa sampai ke bulan, dengan ilmu manusia dapat mengetahui bagian-bagian tersembunyi dan terkecil dari sel tubuh manusia. Ilmu telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi peradaban manusia, tapi dengan ilmu juga manusia dapat menghancurkan peradaban manusia yang lain.
Mengutip pendapatnya Francis Bacon dalam Suriasumantri (1999) yang mengatakan bahwa “Pengetahuan adalah kekuasaan”. Apakah kekuasaan itu akan merupakan berkat atau malapetaka bagi umat manusia, semua itu terletak pada system nilai dari orang yang menggunakan kekuasaan tersebut.  Ilmu itu bersifat netral, ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang harus mempunyai sikap.
Selanjutnya  Suriasumantri juga mengatakan bahwa kekuasaan ilmu yang besar ini mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai landasan moral yang kuat.
Untuk merumuskan aksiologi dari ilmu,  Jujun S Sumantri merumuskan kedalam 4 tahapan yaitu:
-            Untuk apa ilmu tersebut digunakan?
-            Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral?
-            Bagaimana penentuan objek yang di telaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
-            Bagaimana kaitan antara teknik procedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral / professional.
Dari apa yang dirumuskan diatas dapat dikatakan bahwa apapun jenis ilmu yang ada, kesemuanya harus disesuaikan dengan nilai-nilai moral yang ada di masyarakat, sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana. Bagi seorang ilmuwan, nilai dan norma moral yang dimilikinya akan menjadi penentu apakah ia sudah menjadi ilmuwan yang baik atau belum.






“FILSAFAT ETIKA DAN MORAL”
2.1.  PENGERTIAN ETIKA DAN MORAL
1. Etika
Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti hati nurani ataupun perikelakuan yang pantas (atau yang diharapkan). Secara sederhana hal itu kemudian diartikan sebagai ajaran tentang perikelakuan yang didasarkan pada perbandingan mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.
Menurut para ahli, etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini:
A.  Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
B.  Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah lakuperbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan olehakal.
C. Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.

Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu di lakukan dan yang perlu di pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan.

2. Moral
                  Kata moral berasal kata latin ‘’mos’’yaitu kebiasaan. Moral berasal dari Bahasa Latin yaitu Moralitas adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif.Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya.Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Namun demikian karena manusia selalu berhubungan dengan masalah keindahan baik dan buruk bahkan dengan persoalan-persoalan layak atau tidak layaknya sesuatu.
Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi.
Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya.
Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh.Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia.apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya.
 Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Moral juga dapat diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta nasihat, dll.
2.2. DAMPAK MODERNISASIDAN GLOBALISASI TERHADAP ETIKA
        DAN MORAL
Dampak modernisasi dan globalisasi terhadap etika, dan moral pelajarModernisasi merupakan suatu proses transformasi dari suatu perubahan ke arah yang lebih maju atau meningkat di berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan, globalisasi yang berasal dari kata global atau globe artinya bola dunia atau mendunia.
Jadi,globalisasi berarti suatu proses masuk ke lingkungan dunia.Modernisasi dan globalisasi dapat memperngaruhi sikap masyarakat dalam bentuk positif maupun negatif. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
A.Sikap positif
1. Penerimaan secara terbuka (open minded); lebih dinamis, tidak terbelenggu hal-hal lama yang bersikap kolot.
2. Mengembangkan sikap antisipatif dan selektif kepekaan dalam menilai hal-hal
    hal yang akan terjadi.
B.Sikap Negatif
1. Menjadi tertutup.
2. masyarakat yang telah merasa nyaman dengan kondisi kehidupan masyarakat yang ada.
3. Acuh tah acuh.
4. masyarakat awam yang kurang memahami arti strategis modernisasi dan
    globalisasi.
5.  Kurang selektif dalam menyikapi perubahan modernisasi.
6.  Dengan menerima setiap bentuk hal-hal baru tanpa adanya seleksi.
Modernisasi dan globalisasi dapat masuk ke kehidupan masyarakat melalui berbagai media, terutama media elektronik seperti internet. Karena dengan fasilitas ini  semua orang dapat dengan bebas mengakses informasi dari berbagai belahan dunia. Pengetahuan dan kesadaran seseorang sangat menentukan sikapnya untuk menyaring informasi yang didapat.Apakah nantinya berdampak positif atau negatif terhadap dirinya, lingkungan, dan masyarakat.Untuk itu, diperlukan pemahaman agama yang baik sebagai dasar untuk menyaring informasi. Kurangnya filter dan selektivitas terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia, budaya tersebut dapat saja masuk pada masyarakat yang labil terhadap perubahan terutama remaja dan terjadilah penurunan etika dan moral pada masyarakat Indonesia.
Jika dilihat pada kenyataannya, efek dari modernisasi dan globalisasi lebih banyak mengarah ke negatif. Kita dapat kehilangan budaya negara kita sendiri dan terbawa oleh budaya barat, jika masyarakat Indonesia sendiri tidak mempelajari  pengetahuan tentang kebudayaan Indonesia dan tidak menjaga kebudayaan tersebut. Ada baiknya budaya barat yang kita serap disaring terlebih dahulu.Karena tidak semua budaya barat adalah baik.Jika kita terus menerima dan menyerap budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia, dapat terjadi penyimpangan etika dan moral bangsa Indonesia sendiri.Melalui penyimpangan etika dan moral tersebut, dapat tercipta pola kehidupan dan pergaulan yang menyimpang.Tidak hanya akibat negatif yang dihasilkan modernisasi dan globalisasi. Proses ini juga menghasilkan akibat positif, yaitu terciptanya masyarakat yang lebih intelek dan melek terhadap perubahan dan perkembangan dunia. 
2.3. FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA PERUBAHAN       
       ETIKA DAN MORAL
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya Perubaha Moral dan Etika, yaitu:
1. Longgarnya pegangan terhadap agama
            Sudah menjadi tragedi dari dunia maju, dimana segala sesuatu hampir dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, sehingga keyakinan beragam mulai terdesak, kepercayaan kepada Tuhan tinggal simbol, larangan-larangan dan suruhan-suruhan Tuhan tidak diindahkan lagi.Dengan longgarnya pegangan seseorang pada ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada didalam dirinya.Dengan demikian satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan peraturanya.
Namun biasanya pengawasan masyarakat itu tidak sekuat pengawasan dari dalam diri sendiri. Karen pengawasan masyarakat itu datang dari luar, jika orang luar tidak tahu, atau tidak ada orang yang disangka akan mengetahuinya, maka dengan senang hati orang itu akan berani melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum sosial itu. Dan apabila dalam masyarakat itu banyak ornag yang melakukuan pelanggaran moral, dengan sendirinya orang yang kurang iman tadi tidak akan mudah pula meniru melakukan pelanggaran-pelanggaran yang sama. Tetapi jika setiap orang teguh keyakinannya kepada Tuhan serta menjalankan agama dengan sungguh-sungguh, tidak perlu lagi adanya pengawasan yang ketat, karena setiap orang sudah dapat menjaga dirinya sendiri, tidak mau melanggar hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Tuhan.Sebaliknya dengan semakin jauhnya masyarakat dari agama, semakin sudah memelihara moral orang dalam masyarakat itu, dan semakin kacaulah suasana, karena semakin banyak pelanggaran-pelanggaran, hak, hukum dan nilai moral.
2.  Kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumahtangga, sekolah maupun masyarakat.
Pembinaan moral yang dilakukan oleh ketiga institusi ini tidak berjalan menurut semsetinya atau yang sebiasanya.Pembinaan moral dirumah tangga misalnya harus dilakukan dari sejak anak masih kecil, sesuai dengan kemampuan dan umurnya.Karena setiap anak lahir, belum mengerti mana uang benar dan mana yang salah, dan belum tahu batas-batas dan ketentuan moral yang tidak berlaku dalam lingkungannya.
 Tanpa dibiasakan menanamkan sikap yang dianggap baik untuk manumbuhkan moral, anak-anak akan dibesarkan tanpa mengenal moral itu. Pembinaan moral pada anak dirumah tangga bukan dengan cara menyuruh anak menghapalkan rumusan tentang baik dan buruk, melainkan harus dibiasakan. Zakiah Darajat mangatakan, moral bukanlah suatu pelajaran yang dapat dicapai dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup bermoral dari sejak keci.Moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian dan tidak sebaliknya.Seperti halnya rumah tangga, sekolahpun dapat mengambil peranan yang penting dalam pembinaan moral anak didik.Hendaknya dapat diusahakan agar sekolah menjadi lapangan baik bagi pertumuhan dan perkembangan mental dan moral anak didik.
Di samping tempat pemberian pengetahuan, pengembangan bakat dan kecerdasan. Dengan kata lain, supaya sekolah merupakan lapangan sosial bagi anak-anak, dimana pertumbuhan mantal, moral dan sosial serta segala aspek kepribadian berjalan dengan baik. Untuk menumbuhkan sikap moral yang demikian itu, pendidikan agama diabaikan di sekolah, maka didikan agama yang diterima dirumah tidak akan berkembang, bahkan mungkin terhalang. Selanjutnya masyarakat juga harus mengambil peranan dalam pembinaan moral.Masyarakat yanglebih rusak moralnya perelu segera diperbaiki dan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat dengan kita.Karena kerusakan masyarakat itu sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan moral anak-anak.
Terjadinya kerusakan moral dikalangan pelajar dan generasi muda sebagaimana disebutakan diatas, karena tidak efektifnnya keluarga, sekolah dan masyarakat dalam pembinaan moral.Bahkan ketiga lembaga tersebut satu dan lainnya saling bertolak belakang, tidak seirama, dan tidak kondusif bagi pembinaan moral.
3.  Dasarnya harus budaya materialistis, hedonistis dan sekularistis.
Sekarang ini sering kita dengar dari radio atau bacaan dari surat kabar tentang anak-anak sekolah menengah yang ditemukan oleh gurunya atau polisi mengantongi obat-obat, gambar-gambar cabul, alat-alat kotrasepsi seperti kondom dan benda-banda tajam. Semua alat-alat tersebut biasanya digunakan untuk hal-hal yang dapat merusak moral.Namun, gejala penyimpangan tersebut terjadi karena pola hidup yang semata-mata mengejar kepuasan materi, kesenangan hawa nafsu dan tidak mengindahkan nilai-nilai agama.Timbulnya sikap tersebut tidak bisa dilepaskan dari derasnya arus budaya matrealistis, hedonistis dan sekularistis yang disalurkan melalui tulisan-tulisan, bacaan-bacaan, lukisan-lukisan, siaran-siaran, pertunjukan-prtunjukan dan sebagainya.Penyaluran arus budaya yang demikian itu didukung oleh para penyandang modal yang semata-mata mengeruk keuntungan material dan memanfaatkan kecenderungan para remaja, tanpa memperhatikan dampaknya bagi kerusakan moral.Derasnya arus budaya yang demikian diduga termasuk faktor yang paling besar andilnya dalam menghancurkan moral para remaja dan generasi muda umumnya.
4. Belum adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari pemerintah.
Pemerintah yang diketahui memiliki kekuasaan (power), uang, teknologi, sumber daya manusia dan sebagainya tampaknya belum menunjukan kemauan yang sungguh-sunguh untuk melakuka pembinaan moral bangsa.Hal yang demikian semaikin diperparah lagi oleh adanya ulah sebagian elit penguasa yang semata-mata mengejar kedudukan, peluang, kekayaan dan sebagainya dengan cara-cara tidak mendidik, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga kini belum adanya tanda-tanda untuk hilang.
Mereka asik memperebutkan kekuasaan, mareri dan sebagainya dengan cara-cara tidak terpuji itu, dengan tidak memperhitungkan dampaknya bagi kerusakan moral bangsa. Bangsa jadi ikut-ikutan, tidak mau mendengarkan lagi apa yang disarankan dan dianjurkan pemerintah, karena secara moral mereka sudah kehiangan daya efektifitasnya.
Sikap sebagian elit penguasa yang demikian itu semakin memperparah moral bangsa, dan sudah waktunya dihentikan.Kekuasaan, uang, teknologi dan sumber daya yang dimiliki pemerintah seharusnya digunakan untuk merumuskan konsep pembinaan moral bangsa dan aplikasinya secara bersungguh-sungguh dan berkesinambungan.
Beberapa faktor lain yang menyebabkan menurunnya moral dan etika generasi muda saat ini adalah:
 a. Salah pergaulan, apabila kita salah memilih pergaulan kita juga bisa ikut-ikutan untuk   melakukan hal yang baik.
b. Orang tua yang kurang perhatian, apabila orang tua kuran memperhatikan anaknya, bisa-bisa anaknya merasa tidak nyaman berada di rumah dan selalu keluar rumah. Hal ini bisa menyebabkan remaja terkena pergaulan bebas.
c. Ingin mengikuti trend, bisa saja awalmya para remaja merokok adalah ingin terlihat keren, padahal hal itu sama sekali tidak benar. Lalu kalu sudah mencoba merokok dia juga akan mencoba hal-hal yang lainnya seperti narkoba dan seks bebas.
d. Himpitan ekonomi yang membuat para remaja stress dan butuh tempatpelarian.
2.4. SOLUSI UNTUK MENGATASI PERUBAHAN MORAL DAN ETIKA
Ada beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada pada generasi penerus pada saat ini, diantaranya adalah
1.Untuk meghindari salah pergaulan, kita harus pandai memilah dan memilih teman dekat. Karena pergaulan akan sangat berpengaruh terhadap etika, moral dan kepribadian seseorang.
2.Peran orang tua sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang, terutama dalam mengenalkan pendidikan agama sejak dini. Perhatian dari orang tua juga sangat penting. Karena pada banyak kasus, kurangnya perhatian orang tua dapat menyebabkan dampak buruk pada sikap anak.
 3.Memperluas wawasan dan pengetahuan akan sangat berguna untuk menyaring pengaruh buruk dari lingkungan, misalnya kebiasaan merokok. Dewasa ini, orang-orang menganggap bahwa merokok meningkatkan kepercayaan diri dalam pergaulan. Padahal jika dilihat dari sisi kesehatan, merokok dapat menyebabkan banyak penyakit, baik pada perokok aktif maupun pasif. Sehingga kebiasaan ini tidak hanya akan mempengaruhi dirinya sendiri, melainkan juga orang-orang di sekelilingnya.
4. Diadakannya pembinaan moral dan akhlak, diharapkan, dengan bekal pembinaan moral dan akhlak yang baik dan kuat, mereka nantinya tidak mudah terjerumus dipengaruhi hal yang negatif lagi.
5.  Meningkatkan iman dan takwa dengan cara bersyukur, bersabar, dan beramal
     soleha
6. Melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya positif, seperti ikut dalam suatu perkumpulan remaja masjid, ikut pengajian-pengajian rutin, pagelaran seni, serta olahraga, karena hal tersebut juga dapat meminimalkan untuk seorang anak terjun kedalam kegiatan0kegiatan yang sifatnya mubadir (sia-sia), semua jenis kegiatan rutin,selama kegiatan tersebut bersifat positif serta dapat juga untuk mengukir prestasi.




“FILSAFAT PANCASILA”
A.  PENGERTIAN FILSAFAT
Secara etimologis istilah ”filsafat“ atau dalam bahasa Inggrisnya “philosophi”adalah berasal dari bahasa Yunani “philosophia” yang secara lazim diterjemahkan sebagai “cinta kearifan” kata philosophia tersebut berasal dari kata “philos” (pilia, cinta) dan “sophia” (kearifan). Berdasarkan  pengertian bahasa tersebut filsafat berarti cinta kearifan. Kata kearifan bisa juga berarti “wisdom” atau kebijaksanaan sehingga filsafat bisa juga berarti cinta kebijaksanaan. Berdasarkan makna kata  tersebut maka mempelajari filsafat berarti merupakan upaya manusia untuk mencari kebijaksanaan hidup yang nantinya bisa menjadi konsep kebijakan hidup yang bermanfaat bagi peradaban manusia.
Sesungguhnya nilai ajaran filsafat telah berkembang, terutama di wilayah Timur Tengah sejak sekitar 6000-600 SM; juga di Mesir dan sekitar sungai Tigris dan Eufrat sekitar 5000-1000 sM; daerah Palestina/Israel sebagai doktrine Yahudi sekitar 4000-1000 SM (Radhakrishnan, et al. 1953: 11; Avey 1961:3-7). Juga di India sekitar 3000-1000 SM, sebagaimana juga di China sekitar 3000-500 SM. Nilai filsafat berwujud kebenaran sedalam-dalamnya, bersifat fundamental, universal dan hakiki, karenanya dijadikan filsafat hidup oleh pemikir dan penganutnya.
Pada  umunya terdapat dua pengertian filsafat, yaitu filsafat dalam arti proses, dan filsafat dalam arti produk atau hasil. Pancasila dapat di golongkan sebagai filsafat dalam arti produk, filsafat pancasila sebagai pandangan hidup maupun filsafat pancasila dalam arti praktis. Oleh karena itu, berarti pancasila memiliki fungsi dan peranan sebagai pedoman dan pegangan dalam bersikap, bertingkah laku, dan perbuatan dalam kehidupan sehari hari dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara di manapun mereka berada.
B.  PENGERTIAN PANCASILA
Pancasila merupakan salah satu filsafat yang merupakan hasil dari pencerminan nilai-nilai luhur dan budaya bangsa indonesia yang terkandung 5 isi di dalamnya, yaitu satu, ketuhanan yang maha esa. Dua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Tiga, persatuan indonesia. Empat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebikjasanaan dan permusayawaratan/perwakilan. Lima, keadilan bagi seluruh rakyat indonesia.
Secara historis pancasila muncul pada tanggal 01 Juni 1945 yang pada saat itu presiden Ir. Soekarno berpidato tanpa teks mengenai rumusan Pancasila sebagai Dasar Negara. Kemudian, Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, keesokan harinya 18 Agustus 1945 disahkanlah UUD 1945 termasuk Pembukaannya dimana didalamnya terdapat rumusan lima Prinsip sebagai Dasar Negara yang kemudian dikenal dengan nama Pancasila.
Sejak saat itulah Pancasila menjadi Bahasa Indonesia yang umum. Jadi walaupun pada Alinea 4 Pembukaan UUD 45 tidak termuat istilah Pancasila namun yang dimaksud dasar Negara RI adalah disebut istilah Pancasila hal ini didasarkan pada interprestasi (penjabaran) historis terutama dalam rangka pembentukan Rumusan Dasar Negara.
C.  PENGERTIAN FILSAFAT PANCASILA
Filsafat Pancasila secara umum adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia. Filsafat pancasila mempunyai tujuan yang sesuai dengan dasar filsafat tersebut. Pancasila dengan dasar sebagai pandangan hidup bangsa dan dasar filsafat negara, maka tujuan filsafat pancasila secara umum adalah untuk menandingi filsafat komunis dan filsafat liberalis, tujuan ini berhasil atau tidaknya tergantung dari ketangguhan pancasila yang di dukung oleh penalaran kefilsafatan.
Tujuan khusus filsafat Pancasila yaitu untuk memahami dan menjelaskan lima prinsip kehidupan manusia dalam bermasyarakat dan bernegara, mengajukan kritik dan menilai prinsip tersebut, menemukan hakikatnya secara manusiawi serta mengatur semuanya itu dalam bentuk yang sistematik sebagai pandangan dunia.
D.  PENGERTIAN PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT
Pancasila yang terdiri dari atas lima sila pada hakikatnya merupakan sistem filsafat. Yang dimaksud dengan sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling bekerja sama untuk satu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh.
Pancasila yang terdiri atas bagian-bagian yaitu sila-sila pancasila setiap sila pada hakikatnya merupakan suatu asa sendiri. Dasar filsafat Negara Indonesia terdiri atas lima sila yang masing-masing merupakan suatu asas peradaban. Sila-sila pancasila yang merupakan sistem filsafat pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan organis. Antara sila-sila pancasila itu saling berkaitan, saling berhubungan bahkan saling mengkualifikasi. Secara demikian ini maka pancasila pada hakikatnya merupakan sistem, dalam pengertian bahwa bagian sila-silanya saling berhubungan secara erat hingga membentuk suatu struktur yang menyeluruh.
Pancasila sebagai suatu sistem juga dapat dipahami dari pemikiran dasar yang terkandung dalam pancasila, yaitu pemikiran tentang manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan masyarakat bangsa yang nilai-nilainya telah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Dengan demikian Pancasila merupakan suatu sistem dalam pengertian kefilsafatan sebagaimana sistem filsafat lainnya antara lain matrealisme, idealisme, rasioanlisme, liberalisme, sosialisme dan sebagainya.
A.  KARAKTERISTIK SISTEM FILSAFAT PANCASILA
Sebagai filsafat, Pancasila memiliki karakteristik sistem filsafat tersendiri yang berbeda dengan filsafat lainnya, yaitu Sila-sila Pancasila merupakan satu-kesatuan sistem yang bulat dan utuh (sebagai suatu totalitas).
1.    Aspek Ontologis Pancasila
Dasar-dasar ontologis Pancasila menunjukkan secara jelas bahwa Pancasila itu benar-benar ada dalam realitas dengan identitas dan entitas (satuan yang berwujud) yang jelas. Melalui tinjauan filsafat, dasar ontologis Pancasila mengungkap status istilah yang digunakan, isi dan susunan sila-sila, tata hubungan, serta kedudukannya. Dasar ontologis Pancasila pada hakekatnya adalah manusia yang memiliki hakekat mutlak mono-pluralis. Manusia Indonesia menjadi dasar adanya Pancasila. Manusia Indonesia sebagai pendukung pokok sila-sila Pancasila secara ontologis memiliki hal-hal yang mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat raga dan jiwa, jasmani dan rohani, sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan sosial, serta kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
Pancasila amat bergantung pada manusia Indonesia. Selain ditemukan adanya manusia Indonesia sebagai pendukung pokok Pancasila, secara ontologis, realitas yang menjadikan sifat-sifat melekat dan dimiliki Pancasila dapat diungkap sehingga identitas dan entitas Pancasila itu menjadi sangat jelas. Jika ditinjau menurut sejarah asal-usul pembentukannya, Pancasila memenuhi syarat sebagai dasar filsafat negara. Ada empat macam sebab (causa) yang menurut Notonagoro dapat digunakan untuk menetapkan Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara, yaitu sebab berupa materi (causa material), sebab berupa bentuk (causa formalis), sebab berupa tujuan (causa finalis),dan sebab berupa asal mula karya (causa eficient).
Selanjutnya Pancasila sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia memiliki susunan lima sila yang merupakan suatu persatuan dan kesatuan serta mempunyai sifat dasar kesatuan yang mutlak yaitu berupa sifat kodrat monodualis, sebagai makhluk individu sekaligus juga sebagai makluk sosial, serta kedudukannya sebagai makluk pribadi yang berdiri sendiri juga sekaligus sebagai makhluk Tuhan. Konsekuensinya segala aspek dalam penyelenggaraan negara diliputi oleh nilai-nilai  Pancasila yang merupakan suatu kesatuan yang utuh yang memiliki sifat dasar yang mutlak berupa sifat kodrat manusia yang monodualis tersebut.
Kemudian seluruh nilai-nilai Pancasila tersebut menjadi dasar rangka dan jiwa bagi bangsa Indonesia. Hal ini berarti bahwa dalam setiap aspek penyelenggaraan negara harus dijabarkan dan bersumberkan pada nilai-nilai Pancasila, seperti bentuk negara, sifat negara, tujuan negara, tugas dan kewajiban negara dan warga negara, sistem hukum negara, moral negara dan segala aspek penyelenggaraan negara lainnya. Hal yang sama juga berlaku dalam konteks negara Indonesia, Pancasila adalah filsafat negara dan pendukung pokok negara adalah rakyat (manusia).
2.    Aspek Epistemologis Pancasila
Epistemologis Pancasila terkait dengan sumber dasar pengetahuan Pancasila. Eksistensi Pancasila dibangun sebagai abstraksi dan penyederhanaan terhadap realitas yang ada dalam masyarakat bangsa Indonesia dengan lingkungan yang heterogen, multikultur, dan multietnik dengan cara menggali nilai-nilai yang memiliki kemiripan dan kesamaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat bangsa Indonesia.
Masalah-masalah yang dihadapi menyangkut keinginan untuk mendapatkan pendidikan, kesejahteraan, perdamaian, dan ketentraman. Pancasila itu lahir sebagai respon atau jawaban atas keadaan yang terjadi dan dialami masyarakat bangsa Indonesia dan sekaligus merupakan harapan. Diharapkan Pancasila menjadi cara yang efektif dalam memecahkan kesulitan hidup yang dihadapi oleh masyarakat bangsa Indonesia.
Pancasila memiliki kebenaran korespondensi dari aspek epistemologis sejauh sila-sila itu secara praktis didukung oleh realita yang dialami dan dipraktekkan oleh manusia Indonesia. Pengetahuan Pancasila bersumber pada manusia Indonesia dan lingkungannya. Pancasila merupakan pedoman atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas alam semesta, manusia, masyarakat, bangsa dan negara tentang makna hidup serta sebagai dasar bagi manusia dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan.
Epistemologis sosial Pancasila juga dicirikan dengan adanya upaya masyarakat bangsa Indonesia yang berkeinginan untuk membebaskan diri menjadi bangsa merdeka, bersatu, berdaulat dan berketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta ingin mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sumber pengetahuan Pancasila dapat ditelusuri melalui sejarah terbentuknya Pancasila. Akar sila-sila Pancasila ada dan berpijak pada nilai serta budaya masyarakat bangsa Indonesia. Nilai serta budaya masyarakat bangsa Indonesia yang dapat diungkap mulai awal sejarah pada abad IV Masehi di samping diambil dari nilai asli Indonesia juga diperkaya dengan dimasukkannya nilai dan budaya dari luar Indonesia. Nilai-nilai dimaksud berasal dari agama Hindu, Budha, Islam, serta nilai-nilai demokrasi yang dibawa dari Barat.
Berdasarkan realitas yang demikian maka dapat dikatakan bahwa secara epistemologis pengetahuan Pancasila bersumber pada nilai dan budaya tradisional dan modern, budaya asli dan campuran. Selain itu, sumber historis itu, menurut tinjauan epistemologis, Pancasila mengakui kebenaran pengetahuan yang bersumber dari wahyu atau agama serta kebenaran yang bersumber pada akal pikiran manusia serta kebenaran yang bersifat empiris berdasarkan pada pengalaman. Dengan sifatnya yang demikian maka pengetahuan Pancasila mencerminkan adanya pemikiran masyarakat tradisional dan modern.
3.    Aspek Aksiologis Pancasila
Aksiologi terkait erat dengan penelaahan atas nilai. Dari aspek aksiologi, Pancasila tidak bisa dilepaskan dari manusia Indonesia sebagai latar belakang, karena Pancasila bukan nilai yang ada dengan sendirinya (given value) melainkan nilai yang diciptakan (created value) oleh manusia Indonesia. Nilai-nilai dalam Pancasila hanya bisa dimengerti dengan mengenal manusia Indonesia dan latar belakangnya. Pancasila mengandung nilai, baik intrinsik maupun ekstrinsik atau instrumental. Nilai intrinsik Pancasila adalah hasil perpaduan antara nilai asli milik bangsa Indonesia dan nilai yang diambil dari budaya luar Indonesia, baik yang diserap pada saat Indonesia memasuki masa sejarah abad IV Masehi, masa imperialis, maupun yang diambil oleh para kaum cendekiawan Soekarno, Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan para pejuang kemerdekaan lainnya yang mengambil nilai-nilai modern saat belajar ke negara Belanda.
Kekhasan nilai yang melekat dalam Pancasila sebagai nilai intrinsik terletak pada diakuinya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial sebagai satu kesatuan. Kekhasan ini yang membedakan Indonesia dari negara lain. Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan memiliki sifat umum universal. Karena sifatnya yang universal, maka nilai-nilai itu tidak hanya milik manusia Indonesia, melainkan manusia seluruh dunia. Pancasila sebagai nilai instrumental mengandung imperatif dan menjadi arah bahwa dalam proses mewujudkan  cita-cita negara bangsa, seharusnya menyesuaikan dengan sifat-sifat yang ada dalam nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial.
Sebagai nilai instrumental, Pancasila tidak hanya mencerminkan identitas manusia Indonesia, melainkan juga berfungsi sebagai cara dalam mencapai tujuan, bahwa dalam mewujudkan cita-cita negara, bangsa Indonesia menggunakan cara-cara yang berketuhanan, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan, berkerakyatan yang menghargai musyawarah dalam mencapai mufakat, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila juga mencerminkan nilai realitas dan idealitas. Pancasila mencerminkan nilai realitas, karena di dalam sila-sila Pancasila berisi nilai yang sudah dipraktekkan dalam hidup sehari-hari oleh bangsa Indonesia. Di samping mengandung nilai realitas, sila-sila Pancasila berisi nilai-nilai idealitas, yaitu nilai yang diinginkan untuk dicapai.
Secara aksiologis, bangsa Indonesia merupakan pendukung nilai-nilai Pancasila (subcriber of values Pancasila). Bangsa Indonesia yang berketuhanan, yang berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang berkerakyatan dan yang berkeadilan sosial. Sebagai pendukung nilai, bangsa Indonesia itulah yang menghargai, mengakui, menerima Pancasila sebagai sesuatu yang bernilai. Pengakuan, penghargaan, dan penerimaan Pancasila sebagai sesuatu yang bernilai itu akan tampak menggejala dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan bangsa Indonesia. Kalau pengakuan, penerimaan atau penghargaan itu telah menggejala dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan manusia dan bangsa Indonesia, maka bangsa Indonesia dalam hal ini sekaligus adalah pengembannya dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan manusia Indonesia.


B.  HAKEKAT SILA-SILA PANCASILA
Kata ‘hakekat’ dapat diartikan sebagai suatu inti yang terdalam dari segala sesuatu yang terdiri dari sejumlah unsur tertentu dan yang mewujudkan sesuatu itu, sehingga terpisah dengan sesuatu lain dan bersifat mutlak. Terkait dengan hakekat sila-sila Pancasila, pengertian kata ‘hakekat’ dapat dipahami dalam tiga kategori, yaitu :
1.    Hakekat abstrak yang disebut juga sebagai hakekat jenis atau hakekat umum yang mengandung unsur-unsur yang sama, tetap dan tidak berubah. Hakekat abstrak sila-sila Pancasila menunjuk pada kata: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Menurut bentuknya, Pancasila terdiri atas kata-kata dasar Tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adil yang dibubuhi awalan dan akhiran, berupa ke dan an (sila I, II, IV, dan V), sedangkan yang satu berupa per dan an (sila III).
2.    Hakekat pribadi sebagai hakekat yang memiliki sifat khusus, artinya terikat kepada barang sesuatu. Hakekat pribadi Pancasila menunjuk pada ciri-ciri khusus sila-sila Pancasila yang ada pada bangsa Indonesia, yaitu adat istiadat, nilai-nilai agama, nilai-nilai kebudayaan, sifat dan karakter yang melekat pada bangsa Indonesia sehingga membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa yang lain di dunia. Sifat-sifat dan ciri-ciri ini tetap melekat dan ada pada bangsa Indonesia. Hakekat pribadi inilah yang realisasinya sering disebut sebagai kepribadian, dan totalitas kongkritnya disebut kepribadian Pancasila.
3.    Hakekat kongkrit yang bersifat nyata sebagaimana dalam kenyataannya. Hakekat kongkrit Pancasila terletak pada fungsi Pancasila sebagai dasar filsafat negara. Dalam realisasinya, Pancasila adalah pedoman praktis, yaitu dalam wujud pelaksanaan praktis dalam kehidupan negara, bangsa dan negara Indonesia yang sesuai dengan kenyataan sehari-hari, tempat, keadaan dan waktu. Dengan realisasi hakekat kongkrit itu, pelaksanaan Pancasila dalam kehidupan negara setiap hari bersifat dinamis, antisipatif, dan sesuai dengan perkembangan waktu, keadaan, serta perubahan jaman.
C.  KESATUAN SILA-SILA PANCASILA SEBAGAI SUATU SISTEM FILSAFAT
Pancasila yang berisi lima sila, menurut Notonagoro (1967: 32) merupakan satu kesatuan utuh. Kesatuan sila-sila Pancasila tersebut, diuraikan sebagai berikut :
1.    Kesatuan Sila-Sila
Pancasila dalam struktur yang bersifat hirarkis dan berbentuk piramidal. Susunan secara hirarkis mengandung pengertian bahwa sila-sila Pancasila memiliki tingkatan berjenjang, yaitu sila yang ada di atas menjadi landasan sila yang ada di bawahnya. Sila pertama melandasi sila kedua, sila kedua melandasi sila ketiga, sila ketiga melandasi sila keempat, dan sila keempat melandasi sila kelima.
Dalam susunan hirarkis dan piramidal, sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi basis kemanusiaan, persatuan Indonesia, kerakyatan dan keadilan sosial. Sebaliknya Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berkemanusiaan, yang membangun, memelihara dan mengembangkan persatuan Indonesia, yang berkerakyatan dan berkeadilan sosial. Demikian selanjutnya, sehingga tiap-tiap sila di dalamnya mengandung sila-sila lainnya.
Secara ontologis, kesatuan sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem yang bersifat hirarkis dan berbentuk piramidal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut, hkekat adanya Tuhan adalah ada karena dirinya sendiri, Tuhan sebagai causa prima. Oleh karena itu segala sesuatu yang ada termasuk manusia ada karena diciptakan Tuhan atau manusia ada sebagai akibat adanya Tuhan (sila pertama). Adapun manusia adalah sebagai subyek pendukung pokok negara, karena negara adalah lembaga kemanusiaan, negara adalah sebagai persekutuan hidup bersama yang anggotanya adalah manusia (sila kedua). Dengan demikian, negara adalah sebagai akibat adanya manusia yang bersatu (sila ketiga). Selanjutnya terbentuklah persekutuan hidup bersama yang disebut rakyat. Rakyat pada hakekatnya merupakan unsur negara di samping wilayah dan pemerintah. Rakyat adalah totalitas individu-individu dalam negara yang bersatu (sila keempat). Adapun keadilan yang pada hakekatnya merupakan tujuan bersama atau keadilan sosial (sila kelima) pada hakekatnya sebagai tujuan dari lembaga hidup bersama yang disebut negara.
2.    Hubungan Kesatuan Sila-Sila
Pancasila yang saling mengisi dan saling mengkualifikasi. Sila-sila Pancasila sebagai kesatuan dapat dirumuskan pula dalam hubungannya saling mengisi atau mengkualifikasi dalam kerangka hubungan hirarkis piramidal seperti di atas. Dalam rumusan ini, tiap-tiap sila mengandung empat sila lainnya atau dikualifikasi oleh empat sila lainnya. Untuk kelengkapan hubungan kesatuan keseluruhan sila-sila Pancasila yang dipersatukan dengan rumusan hirarkis piramidal tersebut, berikut disampaikan kesatuan sila-sila Pancasila yang saling mengisi dan saling mengkualifikasi.
a.    Sila pertama; Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia;
b.    Sila kedua; kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kemanusiaan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia;
c.    Sila ketiga; persatuan Indonesia adalah persatuan yang ber-Ketuhanan YME, berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia;
d.   Sila keempat; kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, adalah kerakyatan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia;
e.    Sila kelima; keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah keadilan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
3.  Kelima Sila Pancasila Merupakan Satu Kesatuan
Pancasila susunannya adalah majemuk tunggal (merupakan satu kesatuan yang bersifat organis), yaitu :
a.    Terdiri dari bagian-bagian yang tidak terpisahkan.
b.    Masing-masing bagian mempunyai fungsi dan  kedudukan tersendiri,
c.    Meskipun berbeda tidak saling bertentangan,akan tetapi saling melengkapi,
d.   Bersatu untuk mewujudkannya secara keseluruhan,
e.    Keseluruhan membina bagian-bagian,
f.     Tidak boleh satu silapun ditiadakan, melainkan merupakan satu kesatuan.
Bentuk susunannya adalah hirarkis piramidal (kesatuan bertingkat dimana tiap sila dimuka sila lainnya merupakan basis).  Pancasila yang bentuk susunannya hirarkis-piramidal adalah sebagai berikut :
a.    Sila Pertama; meliputi dan menjiwai sila kedua, sila ketiga, sila keempat dan sila kelima.
b.    Sila Kedua :  diliputi dan dijiwai sila pertama, meliputi dan menjiwai sila ketiga, sila   keempat dan sila kelima.
c.    Sila Ketiga  : diliputi dan dijiwai sila pertama, sila kedua, meliputi sila keempat dan  sila kelima.
d.   Sila Keempat: diliputi dan dijiwai sila pertama, sila kedua, sila ketiga dan meliputi  sila kelima.
e.    Sila Kelima  :  diliputi dan dijiwai oleh seluruh sila-sila.





“FILSAFAT KARYA ILMIAH”

A.          Filosofi Metode Penelitian
Setiap kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan selalu berlandaskan filosofi. Hakikat filosofi ialah kebenaran yang diperoleh melalui berpikir logis, sistematis dan metodis. Kebenaran merupakan sesuatu yang didasarkan pada hal yang nyata yang sesuai dengan logika sehat manusia. Sedangkan berpikir logis merupakan berpikir secara bernalar menurut logika yang diakui secara ilmu pengetahuan dimana digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah yang terjadi dalam suatu kegiatan sosial masyarakat. Sistematis adalah berpikir dan berbuat yang beristem, yaitu beruntut dan tidak tumpang tindih. Metodis adalah berpikir dan berbuat sesuai dengan metode tertentu yang diakui kebenarannya.
Penelitian merupakan suatu bentuk kegiatan dari proses sosial yang disusun secara sistematis, logis dan metodes dalam kaitannya untuk menemukan suatu kebenaran dalam proses sosial tersebut.
Karakteristik dari Metode ilmiah, antara lain:
1.            Sisetmatis, artinya bahasan tersusun secara teratur, berurutan menurut sistem.
2.            Logis, artinya seuai dengan logika, masuk akal benar menurut penalaran.
3.            Empiris, artinya diperoleh dari pengalaman, penemuan dan pengamatan.
4.            Metodis, artinya berdasarkan metode yang kebenarannya diakui oleh penalaran.
5.            Umum, artinya mengeneralisasi meliputi keseluruhan tidak menyangkut yang khusus saja.
6.            Akumulatif, artinya bertambah secara terus menerus, makin berkembang dan dinamis.
Dasar penelitian sosial ini kaitannya dengan mengapa dilakukan suatu penelitian atau mengapa terjadi suatu proses meneliti?
1.            Keingintahuan (Curiousity)
Masyarakat berkembang demikian halnya dengan ilmu sosial juga berkembang. Namun, perkembangannya belum dapat ditentukan secara pasti sehingga perlu dilakukan suatu upaya untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Hal yang mendorong manusia untuk mendapatkan pengetahuan ialah hasrat keingintahuannya (Curiousity).
2.            Telah Terjadi Sekulerisasi Alam
Hal yang dimaksud dalam hal ini adalah terjadi suatu perubahan dalam alam atau berkaitan dengan faktor gangguan yang terjadi pada alam.
3.            Ditemukannya berbagai cara utnuk mencari kebenaran
Ada berbagai cara untuk mencari kebenaran yang dapat dirumuskan sebagai berikut ini: Kebetulan, Trial dan Error, Otoritas, Berdasarkan pengalaman atau berpikir kritis dan
4.            Metode penyelidikan ilmiah
Dalam kegiatan penelitian dikenal dua macam pola berpikir yakni:
a.       Pola Berpikir Induktif
Pola berpikir induktif merupakan suatu pola dari proses menemukan teori baru. Atau suatu proses berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus yang bersifat khusus.
b.      Pola berpikir Deduktif
Pola berpikir deduktif merupakan sbuah pola dari penerapan suatu teori. Atau suatu proses berpikir untuk menarik kesimpulan bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum.

Penelitan berasal dari kata teliti yang artinya mempelajari sesuatu secara teliti dan mendalam. Kegiatan ”meneliti” dan mencoba dengan kemungkinan gagal (trial and error). Dalam bahasa Inggris penelitian dikenal dengan istilah research. Definisi Research adalah: systematic investigation to establish facts atau a search for knowledge. Jadi titik tekan suatu penelitian adalah menemukan secara sistematis fakta-fakta untuk menyusun pengetahuan. Fakta artinya “a concept whose truth can be proved”, suatu konsep yang membuktikan suatu kebenaran. Sedangkan pengetahuan artinya “the psychological result of perception and learning and reasoning”, buah dari persepsi, belajar dan pertimbangan yang sehat secara akal budi.
Kesimpulannya penelitian adalah proses mencari bukti-bukti kebenaran lewat persepsi, belajar dan berfikir sehingga tertanamlah dalam jiwa kita suatu keyakinan yang kuat.
Penelitian Ilmiah adalah suatu proses pemecahan masalah dengan menggunakan prosedur yang sistematis, logis, dan empiris sehingga akan ditemukan suatu kebenaran. Hasil penelitian ilmiah adalah kebenaran atau pengetahuan ilmiah.
Penelitian ilmiah yang selanjutnya disebut penelitian atau riset (research) memiliki ciri sistematis, logis, dan empiris. Sistematis artinya memiliki metode yang bersistem yakni memiliki tata cara dan tata urutan serta bentuk kegiatan yang jelas dan runtut. Logis artinya menggunakan perinsip yang dapat diterima akal. Empiris artinya berdasarkan realitas atau kenyataan.
Jadi penelitian adalah proses yang sistematis, logis, dan empiris untuk mencari kebenaran ilmiah atau pengetahuan ilmiah.
Adapun ciri-ciri penelitian ilmiah secara ringkas adalah sistematis, logis dan empiris. Dan lengkapnya Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah sebagai berikut.
1.            Purposiveness : fokus tujuan yang jelas;
2.            Rigor : teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik.
3.            Testibility : prosedur pengujian hipotesis jelas;
4.            Replicability : Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang sejenis;
5.            Objectivity : Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan emosional;
6.            Generalizability : Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin berguna;
7.            Precision : Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat;
8.            Parsimony : Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.
9.            Kaidah Epistemologis. Epistemologi adalah teori metafisis tentang pengetahuan. Epistemologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Dalam kerangka epistemology, penelitian ilmiah berkedudukan di dalam metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan salah satu cabang bahasan epistemology.

Mari kita lihat struktur metode ilmiah atau langkah-langkah kegiatan berpikir ilmiah:
1)            penemuan atau penentuan masalah secara sadar
2)            perumusan kerangka permasalahan
3)            menyususn kerangka penjelasan
4)            pengajuan hipotesis
5)            pengujian hipotesis
6)            deduksi dari hipotesis
7)            pembuktian dari hipotesis
8)       penerimaan hipotesis menjadi teori ilmiah


Diantara kedelapan kategori di atas manakah yang termasuk penelitian ? Jawabannya, secara substansial, semuanya. Semuanya termasuk suatu penelitian. Adapun penelitian sebagaiamana yang didefinisikan pada penjelasan tentang ciri-ciri penelitan, maka terdapat pada point (5) dan (6) pengujian dan pembuktian hipotesis. Jadi meneliti itu sebenarnya menguji hipotesis. Hipotesis diturunkan, diperoleh, diunduh, disusun, dibangun, di atas khazanah teori-teori ilmiah. Kalau demikian seseorang perlu membaca banyak, sebelum meneliti.
B.           Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah
Apabila mendengar kata “penelitian”, orang sering membayangkan suatu kesibukan di laboratorium. Seorang ahli sedang asyik mengamati reaksi zat-zat yang dicampur di tabung reaksi, atau dalam labu didih, tabung Erlenmeyer atau alat-alat yang serba rumit. Dengan demikian maka penelitian adalah suatu kegiatan monopoli para ahli.
Memang apa yang dibayangkan orang-orang seperti disebutkan ini ada betulnya, tetapi tidak seluruhnya betul. Orang-orang di laboratorium memang sedang melaksanakan penelitian, penyelidikan di dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam. Akan tetapi penelitian bukan hanya boleh dan dapat dilakukan di bidang Ilmu Pengetahuan Alam saja, penelitian dapat dilakukan di seluruh bidang ilmu.
Penelitian berasal dari bahasa inggris yaitu re dan search berarti pencarian kembali. Yang artinya penelitian merupakan proses pengumpulan informasi dengan tujuan meningkatkan, memodifikasi atau mengembangkan sebuah penyelidikan atau kelompok penyelidikan. Pada dasarnya riset atau penelitian adalah setiap proses yang menghasilkan ilmu pengetahuan.
Menurut Emzir, penelitian pada dasarnya adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah yang dilakukan dengan menerapkan metode ilmiah. Tujuan usaha ilmiah adalah untuk menjelaskan dan memprediksikan. Tujuan ini didasarkan pada asumsi bahwa semua perilaku dan kejadian adalah beraturan dan bahwa semua akibat mempunyai penyebab yang dapat diketahui. Kemajuan ke arah tujuan ini berhubungan dengan pemerolehan pengetahuan dan pengembangan serta pengujian teori-teori.
Sedangkan menurut Margono, penelitian adalah semua kegiatan pencarian, penyelidikan, dan percobaan secara alamiah dalam suatu bidang tertentu, untuk mendapatkan fakta-fakta atau prinsip-prinsip baru yang bertujuan untuk mendapatkan pengertian baru dan menaikkan tigkat ilmu serta teknologi. Penelitian merupakan sebuah metode untuk menemukan kebenaran yang juga merupakan sebuah pemikiran kritis (critical thinking).
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Penelitian (research) adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis artinya, proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah yang tertentu yang bersifat logis.
Dalam kegiatan penelitian memang mengandung kegiatan yang sulit dan melelahkan, tetapi penelitian mempunyai tujuan yang hendak dicapai oleh peneliti. Beberapa tujuan penelitian diantaranya adalah sebagai berikut.
a.             Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh pengetahuan yang dapat menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan atau dapat memecahkan suatu permasalahan.
b.            Mengembangkan dan menjelaskan. Dengan melakukan pengembangan dan usaha menjelaskan melalui teori yang didukung fakta-fakta penunjang yang ada, peneliti akan dapat sampai pada pemberian pernyataan sementara yang sering disebut hipotesis.
Bagi maestro penelitian ilmiah pada hakikatnya merupakan operasionalisasi metode ilmiah dalam kegiatan keilmuan. Demikian juga penulisan ilmiah pada dasarnya merupakan argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan. Untuk itu mutlak diperlukan penguasaan yang baik mengenai hakikat keilmuan agar dapat melakukan penelitian dan sekaligus mengkomunikasikannya secara tertulis. Demikian juga bagi seorang penulis ilmiah yang baik, tidak jadi masalah apakah hipotesis ditulis langsung setelah perumusan masalah, asumsi atau prinsip, sebab dia tahu benar hakikat dan fungsi unsur-unsur tersebut dalam keseluruhan struktur penulisan ilmiah.
Struktur penulisan ilmiah yang secara logis dan kronologis mencerminkan kerangka penalaran ilmiah. Pembahasan ini ditujukan bagi mereka yang sedang menulis tesis, disertasi, laporan penelitian atau publikasi ilmiah lainnya, dengan harapan agar mereka lebih memahami logika dan arsitektur penulisan ilmiah. Dengan mengenal kerangka berpikir filsafati maka kita secara lebih mudah akan menguasai hal-hal yang bersifat teknis.

1.            Pengajuan Masalah
Langkah pertama dalam suatu penelitian ilmiah adalah mengajukan masalah. Satu hal yang harus disadari bahwa pada hakikatnya suatu masalah tidak pernah berdiri sendiri dan terisolasi dari faktor-faktor lain. Selalu terdapat konstelasi yang merupakan latar belakang dari suatu masalah tertentu. Secara operasional suatu gejala baru dapat disebut masalah bila gejala itu terdapat dalam suatu situasi tertentu.
Dalam konstelasi yang bersifat situsional inilah maka kita dapat mengidfentifikasikan objek yang menjadi masalah. Identifikasi masalah merupakan suatu tahap permulaan dari penguasaan masalah dimana suatu objek dalam suatu jalinan situasi tertentu dapat kita kenali sebagai suatu masalah.
Ternyata identifikasi masalah memberikan kepada kita sejumlah pertanyaan yang banyak sekali. Dalam kegiatan ilmiah berlaku semacam asas bahwa bukan kuantitas jawaban yang menentukan mutu keilmuan suatu penelitian melainkan kualitas jawabannya. Lebih baik sebuah penelitian yang menghasilkan dua atau tiga hipotesis yang teruji dan terandalkan dari pada sebuah penemuan yang kurang dapat dipertanggungjawabkan. Ilmu merupakan pengetahuan ilmiah yang dikembangkan secara kumulatif di mana setiap permasalahan dipecahkan tahap demi tahap dan sedikit demi sedikit.
Masalah ialah kesenjangan antara harapan akan suatu yang seharusnya ada dengan kenyataan yang ada. Misalnya, kesenjangan antara luapan jumlah lulusan SMA dengan harapan akan kemampuan Perguruan Tinggi menampung lulusan itu.
Permasalahan harus dibatasi ruang lingkupnya, pembatasan masalah merupakan upaya untuk untuk menetapkan batas-batas permasalahan dengan jelas, yang memungkinkan kita untuk mengidentifikasikan faktor mana saja yang termasuk ke dalam lingkup permasalahan, dan faktor mana yang tidak.
Perumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin kita carikan jawabannya. Perumusan masalah dijabarkan dari identifikasi dan pembatasan masalah, atau dengan katalain perumusan masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan terperinci mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah. Masalah yang dirumuskan dengan baik, berarti sudah setengah dijawab. Perumusan masalah yang baik bukan saja membantu memusatkan pikiran namun sekaligus mengarahkan juga cara berpikir kita.
Bagi kita sendiri sebaiknya logika berpikir ilmiah itulah yang didahulukan dan dengan demikian maka struktur penulisannya mencerminkan alur jalan berpikir. Jika postulat, asumsi dan prinsip dipergunakan dalam penyusunan kerangka teoritis dalam pengajuan hipotesis maka ketiga pikiran dasar tersebut sebaiknya dinyatakan dalam bagian kajian teoritis itulah diperlukan pernyataan secara tersurat mengenai pikiran-pikiran dasar yang melandasi kerangka argumentasi kita.

2.            Penyusunan Kerangka Teoretis
Setelah masalah berhasil dirumuskan dengan baik maka langkah kedua dalam metode ilmiah adalah mengajukan hipotesis. Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan.
Hipotesis penelitian dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang merupakan jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan. Hipotesis merupakan pernyataan yang dibangun dari teori untuk memprediksi hubungan antara konsep dalam suatu sistem. Hipotesis dapat diartikan sebagai kesimpulan sementara terhadap masalah yang diajukan. Dalam kegiatan penelitian, yang dapat menjadi sumber masalah adalah adanya kesenjangan antara “yang seharusnya terjadi” dengan “yang sebenarnya terjadi”.
Cara ilmiah dalam memecahkan persoalan pada hakikatnya adalah mempergunakan pengetahuan ilmiah sebagai dasar argumentasi dalam mengkaji persoalan agar kita mendapatkan jawaban yang dapat diandalkan. Hal ini berarti bahwa dalam menghadapi permasalahan yang diajukan maka kita mempergunakan teori-teori ilmiah sebagai alat yang membantu kita dalam menemukan pemecahan.
Agar sebuah kerangka teoritis dapat meyakinkan maka argumuntasi yang disusun tersebut harus dapat memenuhi beberapa syarat. Pertama, teori-teori yang dipergunakan dalam membangun kerangka berpikir harus merupakan pilihan dari sejumlah teori yang dikuasai secara lengkap dengan mencakup perkembangan-perkembangan terbaru.
Pengetahuan filsafati tentang suatu teori adalah pengetahuan tentang pikiran-pikiran dasar yang melandasi teori tersebut dalam bentuk postulat, asumsi atau prinsip yang sering kurang mendapatkan perhatian dalam proses belajar mengajar. Kedua, Analisis filsafati dari teori-teori keilmuan yang mendasari pengetahuan tersebut dengan pembahasan eksplisit mengenai postulat, asumsi, dan prinsip yang mendasarinya. Ketiga, mampu mengidentifikasikan masalah yang timbul sekitar disiplin keilmuan tersebut.
Pada hakikatnya kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis didasarkan pada argumentasi berpikir deduktif dengan mempergunakan pengetahuan ilmiah, sebagai premis-premis dasarnya. Mempergunakan pengetahuan ilmiah sebagai premis dasar dalam kerangka argumentasi akan menjamin dua hal. Pertama, karena kebenaran pernyataan ilmiah telah teruji lewat proses keilmuan maka kita merasa yakin bahwa kesimpulan yang ditarik merupakan jawaban yang terandalkan. Kedua, dengan mempergunakan pernyataan yang secara sah diakui sebagai pengetahuan ilmiah maka pengetahuan baru yang ditarik secara deduktif akan bersifat konsisten dengan tubuh pengetahuan yang telah disusun.
Kerangka teoritis suatu penelitian dimulai dengan mengidentifikasi dan nengkaji berbagai teori yang relevan serta diakhiri dengan pengajuan hipotesis. Bahwa produk akhir dari proses pengkajian kerangka teoritis ini adalah perumusan hipotesis harus merupakan pangkal dan tujuan dari seluruh analisis.

3.            Metodologi Penelitian
Metodologi berasal dari bahasa Yunani “metodos” dan "logos," kata metodos terdiri dari dua suku kata yaitu “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan, dan logos artinya ilmu.
Metodologi penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Setelah kita berhasil merumuskan hipotesis yang diturunkan secara deduktif dari pengetahuan ilmiah yang relevan maka langkah berikutnya adalah menguji hipotesis tersebut secara empiris. Artinya kita melakukan verifikasi apakah pernyataan yang dikandung oleh hipotesis yang diajukan tersebut didukung atau tidak oleh kenyataan yang bersifat faktual. Masalah yang dihadapi dalam proses verifikasi ini adalah bagaimana prosedur dan cara dalam pengumpulan dan analisis data agar kesimpulan yang ditarik memenuhi persyaratan berpikir induktif. Penetapan prosedur dan cara ini disebut metodologi penelitian yang pada hakikatnya merupakan persiapan sebelum verifikasi dilakukan.
Metodologi adalah pengetahuan tentang metode-metode, jadi metodologi penelitian adalah pengetahuan tentang berbagai metode yang dipergunakan dalam penelitian. Setiap penelitian mempunyai metode penelitian masing-masing dan metode penelitian tersebut ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian.
Pada hakikatnya proses verifikasi adalah mengumpulkan dan menganalisis data dimana kesimpulan yang ditarik kemudian dibandingkan dengan hipotesis untuk menentukan apakah hipotesis yang diajukan tersebut ditolak atau diterima. Dengan demikian maka teknik-teknik yang tergabung dalam metode penelitian harus dipilih yang bersifat cocok dengan perumusan hipotesis.

4.            Hasil penelitian
Dalam membahas hasil penelitian tujuan kita adalah membandingkan kesimpulan yang ditarik dari data yang telah dikumpulkan dengan hipotesis yang diajukan. Secara sistematik dan terarah maka data yang telah di kumpulkan diolah, deskripsikan, bandingkan dan evaluasi yang semuanya diarahkan pada sebuah penarikan kesimpulan apakah data tersebut data tersebut mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan.
Hasil penelitian dapat dilaporkan dalam kegiatan sebagai berikut.
a.             Menyatakan variabel-variabel yang diteliti
b.            Menyatakan teknik analisis data
c.             Mendeskripsikan hasil analisis data
d.            Memberikan penafsiran terhadap kesimpulan analisis data
e.             Menyimpulkan pengujian hipotesis apakah ditolak atau diterima.

5.            Ringkasan dan Kesimpulan
Kesimpulan penelitian merupakan sintesis dari keseluruhan aspek penelitian yang terdiri dari masalah, kerangka teoritis, hipotesis, metodologi penelitian dan penemuan penelitian. Sintesis ini membuahkan kesimpulan yang ditopang oleh suatu kajian yang bersifat terpadu dengan meletakkan berbagai aspek penelitian dalam perspektif yang menyeluruh. Kesimpulan dapat diperinci ke dalam langkah-langkah sebagai berikut.
a.             Deskrizpsi singkat mengenai masalah, kerangka teoritis, hipotesis, metodologi dan penemuan penelitian.
b.            Kesimpulan penelitian yang merupakan sintesis berdasarkan keseluruhan aspek tersebut di atas.
c.             Pembahasan kesimpulan penelitian dengan melakukan perbandingan terhadap penelitian lain dan pengetahuan ilmiah yang relevan.
d.            Mengkaji implikasi penelitian.
e.             Mengajukan saran.


C.          Teknik Penulisan Ilmiah
Penulisan ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis atau peneliti, berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yaitu gaya penulisan dalam bentuk pernyataan ilmiah serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber dari pengetahuan ilmiah yang dipergunakan dalam penulisan. Komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan tepat yang memungkinkan proses penyampaian pesan yang bersifat reproduktif dan impersonal. Bahasa yang dipergunakan harus jelas di mana pesan mengenai objek yang ingin dikomunikasikan mengandung informasi yang disampaikan sedemikian rupa sehingga si penerima betul-betul mengerti akan isi pesan yang disampaikan kepadanya.
Penulis ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Sebuah kalimat yang tidak bisa diidentifikasikan mana yang merupakan subjek dan mana yang merupakan predikat serta hubungan yang terkait antara subjek dan predikat kemungkinan besar akan merupakan informasi yang tidak jelas. Dalam menulis karangan ilmiah penggunaan kata harus dilakukan secara tepat artinya kita harus memilih kata-kata yang sesuai dengan pesan apa yang ingin disampaikan.
Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya bahwa si penerima pesan mendapatkan kopi yang benar-benar sama dengan prototipe yang disampaikan sipemberi pesan, seperti fotokopi. Dalam komunikasi ilmiah tidak boleh terdapat penafsiran yang lain selain isi yang dikandung oleh pesan tersebut, sedangkan dalam komunikasi estetik sering terdapat penafsiran yang berbeda terhadap objek komunikasi yang sama, yang disebabkan oleh penjiwaan yang berbeda terhadap obyek estetik yang diungkapkan. Komunikasi ilmiah memang tidak ditujukan kepada penjiwaan melainkan kepada penalaran dan oleh sebab itu harus dihindarkan bentuk pernyataan yang tidak jelas atau bermakna jamak.
D.          Teknik Notasi Ilmiah
Pernyataan ilmiah yang kita pergunakan dalam tulisan harus mencakup beberapa hal. Pertama, harus dapat kita identifikasikan orang yang membuat pernyataan tersebut. Kedua, harus dapat kita identifikasikan media komunikasi ilmiah dimana pernyataan itu disampaikan apakah itu makalah, buku, seminar, lokakarya dan sebagainya. Ketiga, harus dapat kita identifikasikan lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut beserta tempat berdomisili dan waktu penerbitan itu dilakukan.
Tanda catatan kaki diletakkan di ujung kaliamat yang kita kutip dengan mempergunakan angka arab yang di ketik naik setengah spasi. Catatan kaki pada bab di beri nomor urut mulai dari angka 1 sampai habis dan diganti dengan nomor 1 kembali pada bab yang baru. Satu kalimat mungkin terdiri dari beberapa catatan kaki sekiranya kalimat itu terdiri dari beberapa kutipan. Dalam keadaan seperti ini maka tanda catatan kaki diletakkan di ujung kalimat yang dikutip sebelum tanda baca penutup. Sedangakan satu kalimat yang seluruhnya terdiri dari satu kutipan tanda catatan kaki diletakkan sesudah tanda baca penutup kalimat. Contohnya:

Larrabee mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang dapat diandalkan1 sedangakan Richter melihat ilmu sebagai sebuah metode2 dan Conant mengidentifikasikan ilmu sebagai serangkaian konsep sebagai hasil dari pengamatan dan percobaan3.

Sekiranya kalimat diatas dijadikan menjadi tiga buah kalimat yang masing-masing mengandung sebuah kutipan maka tanda catatan kaki ditulis sesudah tanda baca penutup:
Larrabee mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang dapat diandalkan.1 sedangakan Richter melihat ilmu sebagai sebuah metode.2 Pendapat lain dikemukakan oleh Conant mengidentifikasikan ilmu sebagai serangkaian konsep sebagai hasil dari pengamatan dan percobaan.3







“KUMPULAN SOAL DAN JAWABAN”
A.    MANFAAT MAHASISWA BELAJAR FILSAFAT
1.      Apa yang di maksud dengan Filsafat ( Ontologi )
Jawab :
Filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang menggunakan logika, metode, dan sistem untuk mengkaji masalah umum dan mendasar mengenai berbagai persoalan, seperti; pengetahuan, akal, pikiran, eksistensi, dan bahasa.
Pendapat lain mengatakan bahwa arti filsafat adalah suatu kebijaksanaan hidup (filosofia) untuk memberikan suatu pandangan hidup secara menyeluruh berdasarkan refleksi terhadap pengalaman hidup dan pengalaman ilmiah. Dengan kata lain, dalam filsafat tidak terdapat eksperimen atau percobaan, tapi mengemukakan masalah secara persis, mencari solusi, serta memberikan argumentasi atas solusi tersebut.
Kata filsafat berasal dari kata yunani kuno: philosophia, yang terdiri dari dua kata : philos (cinta) atau philia (persahabatan,tertarik kepada) dan shopos (hikmah,kebijaksanaan). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love of wisdom)
2.      Mengapa mahasiswa belajar Filsafat ( Epistomologi )
Jawab :
Belajar filsafat ilmu bagi mahasiswa sangat penting, karena beberapa tujuan yang dapat dirasakan, antara lain :
·                     Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mahasiswa semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Mahasiswa sebagai insan kampus diharapkan untuk bersikap kritis terhadap berbagai macam teori yang dipelajarinya di ruang kuliah maupun dari sumber-sumber lainnya.
·                     Mempelajari filsafat ilmu mendatangkan kegunaan bagi para mahasiswa sebagai calon ilmuwan untuk mendalami metode ilmiah dan untuk melakukan penelitian ilmiah.
·                     Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mereka memiliki pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan penelitian ilmiah.
·                     Mempelajari filsafat ilmu memiliki manfaat praktis. Setelah mahasiswa lulus dan bekerja mereka pasti berhadapan dengan berbagai masalah dalam pekerjaannya.
·                     Untuk memecahkan masalah diperlukan kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis berbagai hal yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi.
·                     Membiasakan diri untuk bersikap logis-rasional dalam Opini & argumentasi yang dikemukakan.
·                     Mengembangkan semangat toleransi dalam perbedaan pandangan (pluralitas). Karena para ahli filsafat tidak pernah memiliki satu pendapat, baik dalam isi, perumusan permasalahan maupun penyusunan jawabannya.
·                     Mengajarkan cara berpikir yang cermat dan tidak kenal lelah.
3.      Apa manfaatnya mahasiswa belajar Filsafat ( Aksiologi )
Jawab:
           
Manfaat belajar ilmu filsafat antara lain sebagai berikut:
-          Menjadi seorang yang kritis
-          mampu berpikir secara rasional dan logis
-          Berpikir independen
-          Berpikir secara fleksibel
-          Memperluas wawasan
-          Mampu menganilis setiap permasalahan
-          Menjadi seorang yang skeptis
-          Memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi berdasar sebab-akibat
-          Menjawab segala pertnyaan tentang kehidupan
B.     SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU
1.Apa yang dimaksud dengan Pra Yunani Kuno , Zaman Yunani kuno, Zaman Pertengahan, Masa Renaissance, Zaman Modern dalam Perkembangan Filsafat ( Ontologi )
Jawab :
Pra Yunani Kuno
Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia. Yakni ketika belum mengenal peralatan seperti yang dipakai sekarang ini. Pada masa itu manusia masih menggunakan batu sebagai peralatan. Masa zaman batu berkisar antara 4 juta tahun sampai 20.000 tahun SM. Mereka pada mulanya hidup dari mengumpulkan biji-bijian dan buah-buahan. Sejak itu mereka menemukan pengetahuan dan menjadi penghasil makanan sehingga memiliki kelebihan persediaan. Mereka juga mulai mampu mengatur waktu kerja dan istirahat sesuai dengan waktu malam dan siang. Perkembangan kehidupan manusia lainnya, yaitu mulai berkelompok dan mengukur waktu serta perhitungan hari.Lalu, manusia sampai kezamanlogam(metalage).
Zaman Yunani Kuno
Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengeluarkan ide-ide atau pendapatnya, Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudangnya ilmu dan filsafat, karena Yunani pada masa itu tidak mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman-pengalaman yang didasarkan pada sikap menerima saja (receptive attitude) tetapi menumbuhkan rasasenang menyelidiki secara kritis (quiring attitude). Sikap inilah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli-ahli pikir yang terkenal sepanjang masa.

            Pada Zaman Yunani kuno terdapat tiga periode masa sejarah Filsafat, yaitu masa awal, masa keemasan, serta masa Helenitas dan Romawi. Masa awal filsafat Yunani Kuno ditandai tercatatnya tiga nama filosof yang berasal dari daerah Miletos, antara lain: Thales, Ananximandros, Anaximenes,Hipocrates, Pythagoras, Democritus, Socrates, Plato dan Aristoteles.
Zaman Pertengahan
Zaman pertengahan (middle age) ditandai dengan para tampilnya theolog di lapangan ilmu pengetahuan. Ilmuwan pada masa ini adalah hampir semuanya para theolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Atau dengan kata lain kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Semboyan pada masa ini adalah Anchila Theologia (abdi agama).
Filsafat pada abad ini dikuasai dengan pemikiran keagamaan (Kristiani). Puncak filsafat Kristiani ini adalah Patristik (Lt. “Patres”/Bapa-bapa Gereja) dan Skolastik Patristik sendiri dibagi atas Patristik Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik Latin (atau Patristik Barat).
Masa Renaissance
Renaisance merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Jembatan antara Abad pertengahan dan zaman Modern adalah zaman “Renaisanse”, periode sekitar 1400-1700. Pada zaman ini pengetahuan arab dalam kemunduran, Eropa mulai menggeliat dari tidurnya. Pada abad ke-13 M, mereka mulai mengadakan penerjemahan dan mendirikan Universitas seperti Oxford, Cambridge dan lain-lain. Filsuf-filsuf penting dari zaman ini adalah Nicholas Macchiavelli (1469-1527), Thomas Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535) dan Francis Bacon (1561-1626). Pembaharuan yang sangat bermakna pada zaman ini adalah “antroposentrisme”nya. Artinya pusat perhatian pemikiran tidak lagi kosmos seperti pada zaman Yunani Kuno, atau Tuhan sebagaimana dalam Abad Pertengahan.Zaman yang menyaksikan dilancarkannya tantangan gerakan reformasi terhadap keesaan dan supremasi gereja katolik Roma, bersamaan dengan berkembangnya humanisme.
Zaman Modern
Zaman ini ditandai dengan berbagai dalam bidang ilmiah, serta filsafat dari berbagai aliran muncul. Pada dasarnya corak secara keseluruhan bercorak sufisme Yunani. Paham – paham yang muncul dalam garis besarnya adalah Rasionalisme, Idialisme, dengan Empirisme. Paham Rasionalisme mengajarkan bahwa akal itulah alat terpenting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Ada tiga tokoh penting pendukung rasionalisme ini, yaitu Descartes, Spinoza, dan Leibniz.
Sedangkan aliran Idialisme mengajarkan hakekat fisik adalah jiwa, spirit. Ide ini merupakan ide Plato yang memberikan jalan untuk memperlajari paham idealisme zaman modern. Para pengikut aliran/paham ini pada umumnya, sumber filsafatnya mengikuti filsafat kritisisismenya Immanuel Kant. Fitche (1762-1814) yang dijuluki sebagai penganut Idealisme subyektif merupakan murid Kant. Sedangkan Scelling, filsafatnya dikenal dengan filsafat Idealisme Objektif .Kedua Idealisme ini kemudian disintesakan dalam Filsafat Idealisme Mutlak Hegel.
Pada Paham Empirisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman. ini bertolak belakang dengan paham rasionalisme. Mereka menentang para penganut rasionalisme yang berdasarkan atas kepastian-kepastian yang bersifat apriori. Pelopor aliran iniadalah Thomas Hobes Jonh locke, dan David Hume.
2. Mengapa orang menganggap Zaman Modern hanyalah perluasan Renaisance (Epistomologi)
Jawab :
            Jadi, zaman Modern filsafat didahului oleh zaman Renaissance. Sebenarnya secara esensial zaman Renaissance itu, dalam filsafat, tidak berbeda dari zaman modern. Ciri-ciri filsafat Renaissance ada pada filsafat modern. Tokoh Pada filsafat modern, kita menemukan ciri-ciri Renaissance tersebut. Ciri itu antara lain ialah menghidupkan kembali Rasionalisme Yunani (Renaissance), Individualisme, Humanisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain.
Filsafat modern ditandai dengan karakteristiknya dengan lahirnya  aliran-aliran besar filsafat, yang diawali oleh Rasionalisme dan Empirisme. Selain kedua aliran itu, juga akan diketengahkan aliran-aliran besar lainnya yang ikut  berperan mengisi lembaran filsafat modern, yaitu idealisme, materialisme, positivisme, fenomenologi, eksistensialisme dan pragmatisme.
3.Mengapa dalam perkembangan ilmu filsafat dibagi dalam beberapa zaman ? (Aksiologi )
Jawab :
Karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melakukan pembagian atau klasifikasi secara periodik, karena setiap periode menampilkan ciri khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran secara teoretis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Periodisasi perkembangan ilmu dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada zaman kontemporer.
C.    HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, PENGETAHUAN DAN ILMU
1.Apa yang dimaksud dengan Filsafat, Pengetahuan dan Ilmu? ( Ontologi )
Jawab :
FILSAFAT
Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab.
Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa Yunani yaitu philosophia – philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan.
PENGETAHUAN
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata  dalam bahasa inggris yaitu knowledge. Dalam encyclopedia of philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowlegde is justified true belief). Menurut Prof. Amsal Bachtiar; pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. 
Jadi, Pengetahuan merupakan Hasil yang didapatkan dari proses penalaran yaitu usaha berpikir dalam menarik suatu kesimpulan serta usahanya untuk tahu. Pengetahuan yang benar akan didapatkan jika manusia dapat melakukan proses kegiatan berpikir secara mendalam
ILMU
Ilmu merupakan suatu cara berpikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan berupa pengetahuan yang dapat dipercaya atau diandalkan. Ilmu merupakan produk dari proses berpikir menurut langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat dapat disebut sebagar berpikir ilmiah.
Cara berpikir untuk mendapatkan ilmu adalah: pertama alur jalan pikiran harus logis, kedua pernyataan yang bersifat logis tersebut harus didukung dengan fakta empiris.

2. Mengapa ilmu pengetahuan sangat penting bagi kehidupan ? (Epistomologi)
Jawab :
Karena dengan ilmu pengetahuan manusia akan lebih mudah dalam menjalani kehidupannya, ia juga akan mampu membedakan yg baik dan yg buruk. Ilmu pengetahuan juga merupakan hal yang lebih berharga dari harta, yang tidak bisa dibeli oleh apapun. Itulah mengapa ilmu pengetahuan sangat penting bagi kehidupan.
3.Mengapa antara filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya mempunyai hubungan timbal balik? (Aksiologi)
Jawab :
Sebagai induk dari ilmu pengetahuan, antara filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya mempunyai hubungan timbal balik. Bagi filsafat, ilmu pengetahuan  dapat menyediakan sejumlah besar bahan yang berupa fakta-fakta yang sangat penting bagi perkembangan ide-ide filsafat sekaligus sebagai landasan pengetahuan ilmiah agar pembahasaannya bersifat rasional, mendalam, runtut, dan tidak menimbulkan kesalahan. Sebaliknya bagi ilmu pengetahuan, filsafat secara kritis menganalisis konsep-konsep dasar dan memeriksa asumsi-asumsi dari ilmu untuk memperoleh objektivitas dan validitasnya.
D.    FILSAFAT LOGIKA BERPIKIR MENCARI KEBENARAN
1.        Apa yang dimaksud dengan kebenaran ilmiah?
Jawab: 
Kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang muncul dari hasil penelitian ilmiah dengan melalui prosedur baku berupa tahap-tahapan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang berupa metodologi ilmiah yang sesuai dengan sifat dasar ilmu.
2.        Bagaimana cara mendapatkan kebenaran dalam sudut pandang logika ?
Jawab:
CARA MENDAPATKAN KEBENARAN dalam sudut pandang LOGIKA adalah dengan tercapainya syarat syarat Keseluruhan Sistem analisis dalam mengambil atau mendapatkan Konklusi atau kesimpulan terhadap suatu keilmuwan, titik dari pengetahuan adalah tercapainya kebenaran Keilmuwan. Keilmuwan memiliki sifat logis yang oleh karena itu kepentingan keilmuwan tidak mungkin melepaskan Kepentingannya terhadap Logika.
3.        Digunakan untuk apa logika linguistik ?
Jawab :
Telah dipaparkan sebelumnya bahwa logika bahasa/linguistik (second order) digunakan untuk mengambil kesimpulan fakta-fakta bahasa dan sastra. Terdapat dua teori terkait pemahaman bahasa dan sastra yaitu: (1) formal thinking yaitu teori bahasa platonik, bahwa manusia sebenarya dapat bepikir formal sehingga menghasilkan subyek, predikat, dan objek, dan (2) subjective thinking, yaitu teori bahasa chomsky, bahwa sesuatu yg diekspresikan berada dalam pikiran manusia
E.     TEORI KEBENARAN
1.    Apa yang dimaksud dengan kebenaran ? jelaskan !
Jawab:
Kebenaran adalah keadaan yang sesuai dengan nilai esensialnya atau keadaan yang dianggap sebagai sebenarnya atau orisinal. Kebenaran merupakan satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha "memeluk" suatu kebenaran.
2.    Bagaimana pendapat Aristoteles mengenai proposisi (pernyataan) dikatakan benar ?
Jawab :
Menurut Aristoteles, proposisi (pernyataan) dikatakan benar apabila sesuai dengan persyaratan formal suatu proposisi.
3.    Apa manfaat teori kebenaran bagi manusia ?
        Jawab :
Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran.
F.     FILSAFAT MANUSIA
1.    Apa yang dimaksud dengan hakikat kehidupan manusia ?
Jawab:
Hakikat kehidupan manusia adalah menuju kematian, suka tidak suka, mau tidak mau, manusia pasti akan mengalami yang namanya mati. Sesungguhnya kita datang kedunia ini bukanlah atas kehendak kita, manusia datang kedunia, bukanlah atas kehendak manusia itu sendiri, tetapi manusia datang kedunia atas kehendak Allah Swt. Oleh karena itu, dalam menjalani kehidupan, manusia tidak boleh menyia-nyiakan masa hidupnya, manfaatkan apa yang telah dikaruniakan kepada kita untuk berbuat kebajikan.
2.    Bagaimana bisa dikatakan bahwa filsafat manusia tetap relevan dan penting sampai saat ini?
Jawab :
Karena filsafatlah yang mengemukakan dan secara langsung menyediakan diri untuk mengupas pertanyaan-pertanyaan seperti berikut :
Apakah makhluk itu? Apakah keseluruhannya itu? Bagaiman struktur esensialnya? Dan lain-lain.
3.         Apa manfaat adanya kodrat manusia  itu ada?
Jawab :
Salah satu kodrat manusia adalah untuk mencari tahu apa yang belum diketahui. Manusia selalu ingin tahu dalam hal apa sesungguhnya yang ada (know what), bagaimana sesuatu terjadi (know how), dan mengapa demikian (know why) terhadap segala hal. Orang tidak puas apabila yang ingin diketahui tidak terjawab.Keingintahuan manusia tidak terbatas pada keadaan diri manusia sendiri atau keadaan sekelilingnya, tetapi terhadap semua hal yang ada di alam fana ini bahkan terhadap hal-hal yang ghaib. Manusia berusaha mencari jawaban atas berbagai pertanyaan itu; dari dorongan ingin tahu manusia berusaha mendapatkan pengetahuan mengenai hal yang dipertanyakannya. Ilmu Pengetahuan berawal pada kekaguman manusia akan alam yang dihadapinya, baik alam besar (macro cosmos), maupun alam kecil (micro-cosmos). 
G.    TATARAN KEILMUAN ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, DAN AKSIOLOGI
1.    Apa yang dimaksud dengan epistemologi ?
Jawab:
Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.
Pengertian lain, menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005).
2.        Mengapa Aksiologi berkaitan dengan Filsafat ilmu.
Jawab:
Karena nilai itu bersifat objektif, tapi kadang-kadang bersifat  subjektif. Dikatakan objektif  jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, bukan pada subjek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta. Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam memberi penilaian; kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian. Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
3.        Apa manfaat dari pembelajaran ontologi.epistemologi dan aksiologi??
Kita belajar tentang ilmu yang mengkaji sebuah hakikat.Teori hakikat pertama kali dikemukakan oleh filsuf Thales yang mengatakan bahwa hakikat segala sesuatu itu adalah air. Kemudian dalam perkembangannya, bermuncullah paham-paham tentang ontologi meliputi monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnotisisme.

H.            FILSAFAT ETIKA DAN MORAL
1.      Apa yang di maksud dengan filsafat moral??
Jawab. Filsafat moral merupakan kajian ilmu yang secara garis besar membahas tentang macam macam teori etika.Dalam teori etika terdapat dua pembagian diantaranya teleologis dan deontologis.Teori teleologis menentukan baik buruknya suatu tindakan dari baik buruknya akibat yang menjadi tujuannya.Berbeda dengan etika teleologis,etika deontologis berpandangan bahwa moralitas suatu tindakan melekat pada tindakan itu sendiri bukan finalitasnya.
2.      Mengapa menurut franz magnis mahasiwa memiliki sifat kritis??
Jawab.Yang dimaksud franz magnis,kritis adalah aktif dari berbagai segala macam lembaga normatif.Franz Magnis Suseno juga menyatakan bahwa signifikansi etika ialah membantu mahasiswa untuk mengintegrasikan secara intelektual pengalaman pengalaman baru yang didapatinya sebagai mahasiswa kedalam kepribadiannya.
Dan dengan adanya lembaga lembaga normatif seseorang mahasiswa akan menjadi mahasiswa yang memiliki jiwa kepribadian yang baik.Lembaga lembaga tersebut diantaranya:
a.       Diri kita sendiri artinya seseorang itu akanmencapai tingakt kedewasaan dan otonominya
b.      Lembaga lingkungan masyarakat artinya seorang mahasiswaa mendapatkan kecakapan intelektualnya agar tidak monoton.
c.       Lembaga ideologi yang melibatkan manusia pada zaman sekarang artinya dengan adanya sifat ideologis mahasiswa dapat berfikir kritis dan menolak anggapan anggapan yang tidak sesuia dengan nilai nilai dalam kesejatian dirinya.
3.      Apa manfaatnya belajar tentang etika dan moral???
Jawab.dengan belajar filsafat etika, kita mengetahui dalam suatu wilayah terdapat beberapa norma yang turun temurun ada dalam masyarakat dan harus ditaati. Perubahan zaman sangat mengikis perilaku baik individu sehingga mereka mengabaikan etika atau moral dari para leluhur mereka. Sudah selayaknya seseorang memahami dan menerapkan pentingnya mengaplikasikan etika dalam kehidupannya.
I.       FILSAFAT PANCASILA
             1.     Terangkan apa yang dimaksud Pancasil sebagai dasar (filsafat) Negara Indonesia!
Jawab :
Pancasila sebagai dasar Negara yang dimaksud adalah sebagai dasar filsafat atau dasar falsafah Negara dari Negara Indonesia. Pancasila sebagai dasar filsafat oleh karena Pancasila merupakan rumusan filsafat atau dapat dikatakan nilai-nilai Pancasila adalah nilai-niali filsafat. Pancasila sebagai dasar (filsafat) Negara mengandung makna bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi dasar atau pedoman bagi penyelenggaraan bernegara. Konsekuensi dari rumusan demikian berarti seluruh pelaksanaan dan penyelenggaraan pemerintah Negara Indonesia termasuk peraturan perundang-undangan merupakan pencerminan dari nilai-nilai Pancasila. Penyelenggaraan bernegara mengacu dan memilikitolak ukur yaitu tidak boleh menyimpang dari nilai-nilai Ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan dan nilai keadilan.

2. Mengapa pancasila berbeda dari waktu ke waktu??
Jawab.: Karena Pancasila dikenal sebagai filosofi Indonesia. Dan Kenyataannya definisi filsafat dalam filsafat Pancasila telah diubah dan diinterpretasi berbeda oleh beberapa filsuf Indonesia.Pancasila pun dijadikan wacana sejak 1945. Filsafat Pancasila senantiasa diperbarui sesuai dengan “permintaan” rezim yang berkuasa, sehingga Pancasila berbeda dari waktu ke waktu.
3. Apa manfaat pancasila bagi masyarakat indonesia??
Jawab. : Pancasila itu adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia dan dasar negara kita.Disamping itu maka bagi kita Pancasila sekaligus menjadi tujuan hidup bangsa Indonesia.Pancasila bagi kita merupakan pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita moral yang meliputi kejiwaan dan watak yang sudah beurat/berakar di dalam kebudayaan bangsa Indonesia. Ialah suatu kebudayaan yang mengajarkan bahwa hidup manusia ini akan mencapai kebahagiaan jika kita dapat baik dalam hidup manusia sebagai manusia dengan alam dalam hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun dalam mengejar kemajuan lahiriyah dan kebahagiaan rohaniah.Bangsa Indonesia lahir sesudah melampaui perjuangan yang sangat panjang, dengan memberikan segala pengorbanan dan menahan segala macam penderitaan.
J.      FILSAFAT KARYA ILMIAH
1.    Bagaimanakah pengertian berpikir logis ?
Jawab :
berpikir logis merupakan berpikir secara bernalar menurut logika yang diakui secara ilmu pengetahuan dimana digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah yang terjadi dalam suatu kegiatan sosial masyarakat.
2.    Apa yang dimaksud dengan penelitian ilmiah ?
Jawab :
Penelitian Ilmiah adalah suatu proses pemecahan masalah dengan menggunakan prosedur yang sistematis, logis, dan empiris sehingga akan ditemukan suatu kebenaran. Hasil penelitian ilmiah adalah kebenaran atau pengetahuan ilmiah.
3.    Apa manfaat berpikir ilmiah ?
Jawab :
·         Metode ilmiah lebih bisa dipertanggung jawabkan, dikarenakan adanya bukti-bukti yang konkret dan ada ukuran yang jelas;
·         Jelas, dapat di buktikan dan dapat diamati langsung oleh alat indra pada manusia;
·         Dapat dijadikan satuan atau tolok ukur untuk penelitian-penelitian selanjutnya, bila tidak terdapat kesalahan;
·         Mengajarkan pada manusia untuk menatap realita dan segala sesuatu yang ada;
·         Operasional, dapat di gunakan dan di amalkan dalam kehidupan keseharian; dan
·         Logis, karena dapat di buktikan oleh semua orang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar